Serangan Warga Afghanistan di Washington dan Motif Politik Tersembunyi

 Serangan Warga Afghanistan di Washington dan Motif Politik Tersembunyi

Serangan bersenjata di Washington, D.C. seminggu yang lalu, di mana seorang warga negara Afghanistan, Rahmanullah Lakanwal, dituduh menembaki dua anggota Garda Nasional AS. Serangan terjadi di dekat stasiun Metro Farragut West, hanya beberapa ratus meter dari Gedung Putih, kawasan yang biasanya dilindungi dengan berlapis-lapis keamanan paling ketat. Akibat penembakan tersebut, Sarah Backstrom, seorang prajurit Garda Nasional berusia 20 tahun, tewas dan Andrew Wolf terluka parah.

Laporan media menunjukkan bahwa Lakanwal sebelumnya bertugas di Afghanistan sebagai bagian dari unit operasional yang berafiliasi dengan CIA, dan setelah dipindahkan ke Amerika Serikat, ia berjuang melawan masalah psikologis, isolasi, dan tekanan finansial, masalah yang sama juga telah dilaporkan terjadi pada anggota intelijen Amerika lainnya. Namun, masih terdapat ambiguitas yang lebih mendalam: Bagaimana Lakanwal, meskipun tidak memiliki izin untuk membawa senjata, berhasil mengangkut senjata api dari negara bagian Washington ke ibu kota? Siapa, atau mekanisme apa yang memungkinkannya melakukan perjalanan selama lebih dari 30 jam sambil bersenjata, di salah satu kawasan teraman di Amerika Serikat? Dan mengapa serangan itu terjadi bukan di negara bagian tempat tinggalnya, melainkan justru di jantung politik negara tersebut? Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan bagian penting dari perdebatan yang sedang berlangsung.

  1. Kemungkinan Pengerahan Kembali Anggota Intelijen AS ke Afghanistan dengan Kedok Deportasi Migran Ilegal

Krisis yang diakibatkan oleh serangan ini dapat menjadi dalih bagi Amerika Serikat untuk mengkalibrasi ulang aktivitas intelijennya terkait Afghanistan. Sejak kehilangan akses langsung ke sumber daya manusia di dalam negeri setelah tahun 2021, setiap eskalasi masalah keamanan terkait migran Afghanistan dapat membenarkan inisiatif yang secara lahiriah tampak melibatkan pengaturan migran ilegal, tetapi tujuan tersembunyinya adalah untuk mengirim kembali anggota intelijen yang kooperatif atau yang dapat dieksploitasi ke Afghanistan. Pola ini yang sudah dilakukan sebelumnya.

Di masa lalu, Amerika Serikat menggunakan masalah imigrasi, pengembalian sukarela, atau deportasi tertarget untuk membangun kembali jaringan intelijennya. Saat ini, iklim politik dan media memungkinkan skenario serupa, yang diterapkan secara diam-diam dan tanpa pengumuman resmi, dan tampaknya masuk akal, terutama mengingat latar belakang Lakanwal dan sensitivitas kasus-kasus serupa. Landasan politik untuk langkah-langkah tersebut tampaknya mulai terlihat jelas.

  1. Kemungkinan Entitas Yahudi Mengeksploitasi Dampak Insiden

Di tengah protes global atas tindakan entitas Yahudi dalam perangnya di Gaza, entitas Yahudi berpotensi mendapatkan keuntungan dari setiap insiden yang melibatkan para migran atau kaum Muslim yang dapat digunakan untuk mengintensifkan kebijakan anti-imigrasi di Barat. Membatasi keberadaan atau pengaruh komunitas migran dan Muslim di Eropa dan Amerika Serikat akan mengurangi tekanan politik terhadap entitas Yahudi. Mereka meyakini bahwa protes yang meluas di Barat terhadap genosida di Gaza didorong oleh kaum Muslim dan populasi migran. Dalam konteks ini, entitas Yahudi dapat berperan dan memainkan insiden semacam itu, karena kasus Lakanwal dan konsekuensinya—lingkungan imigrasi yang lebih ketat dan meningkatnya ketakutan terhadap pengungsi Muslim—sejalan dengan kepentingannya.

  1. Trump dengan Jelas Mengeksploitasi Insiden Ini Secara Politik

Respons Donald Trump dan gerakan konservatif di Amerika Serikat sangat langsung dan jelas. Ia segera membingkai serangan itu sebagai bukti bahaya imigrasi dan menyerukan peninjauan ulang yang mendesak terhadap penerimaan pengungsi. Sementara itu, otoritas imigrasi, dengan alasan pertimbangan keamanan, semakin membatasi peninjauan kasus suaka untuk warga Afghanistan dan warga negara lain.

Menghadapi penurunan popularitas, Trump mengeksploitasi insiden ini untuk menghidupkan kembali narasi yang berfokus pada keamanan, memobilisasi basis konservatifnya, dan sekali lagi membenarkan kebijakan anti-imigrasi.

Bagi banyak orang di Amerika Serikat, insiden ini direduksi semata-mata menjadi isu migrasi, dan kelompok-kelompok tertentu telah menjadikannya alat untuk Islamofobia. Namun kenyataannya, Lakanwal adalah produk dari partisipasinya selama bertahun-tahun dalam misi-misi rahasia dan mematikan yang terkait dengan CIA di Afghanistan, yaitu misi-misi yang membentuknya menjadi individu yang terluka akibat perang dan kekerasan jauh sebelum ia menjadi migran. [] Yusuf Arsalan

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 9/12/2025.

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *