Rizqi Awal: Blokir Gim Usai Insiden Bom SMAN 72 Tidak Solutif

MediaUmat Pengamat Sosial Media dari Indonesia Justice Monitor (IJM) Rizqi Awal menilai wacana pemerintah memblokir sejumlah gim (game) usai insiden ledakan bom rakitan oleh siswa SMAN 72 Jakarta, tidak solutif.

“Bagi saya ini enggak solutif ya dengan memusnahkan teknologi gim yang sudah terlampau berkembang,” ujarnya dalam Kabar Petang: RI 1 Bakal Blokir PUBG? di kanal YouTube Khilafah News, Selasa (18/11/2025).

Pasalnya, jelas Rizqi, di tengah perkembangan teknologi yang pesat, pemblokiran gim secara langsung hanya akan memunculkan gim-gim lain yang serupa.

“Artinya, ketika hanya memusnahkan gim-gim, yang ada nanti akan muncul gim serupa, yang namanya anak muda itu kalau dilarang satu mereka akan mencari celah,” tuturnya.

Selain itu, kata Rizqi, pemblokiran dapat menimbulkan reaksi penolakan keras dari komunitas gim dan berpotensi menimbulkan kekacauan.

“Kalau pemerintah benar-benar memblokir gim secara langsung, menurut saya ini bisa memicu ‘Nepal versi kedua’. Tanpa pikir panjang, para pemain PUBG, Mobile Legends, dan Free Fire akan saling bersatu, dan hal itu berpotensi menimbulkan kekacauan di Indonesia,” tegasnya.

Menurutnya, pemerintah tidak seharusnya hanya fokus pada upaya pelarangan gim daring.

Rizqi menekankan perlunya peran negara dalam melakukan penyaringan terhadap gim yang dianggap bermasalah, termasuk memeriksa syarat dan ketentuan setiap gim sebelum dapat diakses masyarakat.

“Menurut saya, yang perlu diperhatikan oleh pemerintah itu bukan melarang game online-nya, tapi bagaimana fungsi pemerintah memfilter gim-gim yang bermasalah,” lanjutnya.

Rizqi mengingatkan bahwa persoalan generasi saat ini tidak hanya berkaitan dengan aksi peledakan bom, tetapi juga menyangkut masalah yang lebih luas seperti sekularisme, hedonisme, dan pergaulan bebas.

Ia menegaskan berbagai persoalan tersebut muncul karena aspek keagamaan tidak mendapatkan penekanan dalam dunia pendidikan.

“Kenapa demikian terjadi? Karena sisi religinya, sisi spiritualnya itu tidak ditekankan dalam setiap nilai-nilai kurikulum dan pendidikan kita,” tutupnya.[] Muhammad Ikbal

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: