MediaUmat – Direktur Pamong Institute Wahyudi al-Maroky melihat reshuffle sampai tujuh kali yang dilakukan oleh Presiden Prabowo selama dua tahun pemerintahannya, jauh dari perspektif indikator pemerintahan yang baik.
“Ini jauh dari perspektif indikator pemerintahan yang baik,” ujarnya dalam Special Interview: Reshuffle Kabinet: Amankan Kekuasaan? di kanal YouTube Rayah TV, Senin (12/10/2026).
Menurutnya, reshuffle sampai tujuh kali selama dua tahun tersebut menunjukan dinamika di pemerintahan Prabowo ini cukup tinggi. Dan juga menunjukan saat pemilihan menteri tidak form, tapi lebih banyak pada kompromi politik ataupun kesepakatan-kesepakatan. Sehingga kalau dilihat, dalam tubuh kabinet saat ini ada menteri yang dari tim sukses dan ada juga menteri dari kalangan parpol.
“Mungkin sedikit ada dari profesional, tapi yang kalau kita lihat lebih banyak kepada politisi,” beber Wahyudi.
Jauh dari Pemerintahan yang Baik
Ketika ditanya apakah reshuffle kali ini untuk memperbaiki pemerintahan atau mengamankan kekuasaan, Wahyudi dengan tegas mengatakan bahwa ini ini jauh dari perspektif indikator pemerintahan yang baik. Sebab dari segi posturnya yang tidak ramping, kabinet ini akan tidak efisien dan tidak efektif. Karena dengan postur kabinet yang begitu gemuk akan jadi lamban bergerak dalam pemerintahan dan juga berbiaya mahal.
Wahyudi memandang, misi utamanya dalam reshuffle ini bukan untuk efisiensi dengan membentuk pemerintahan yang ramping dan baik atau clean government. Namun justru yang ada dalam perspektif politik itu bagaimana mengamankan kekuasaan, mengelolanya dan kemudian mempertahankan.
“Inilah proses demokrasi yang ada dan dijalankan hari ini. Bahwa dengan proses demokrasi yang mahal, seorang pemimpin ketika menyusun kekuasaan pemerintahannya itu harus mengakomodir berbagai kepentingan dan juga timsesnya,” pungkasnya.[] Agung Sumartono
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat