Relawan ISN: Warga Korban Bencana di Aceh Butuh Perhatian Serius

 Relawan ISN: Warga Korban Bencana di Aceh Butuh Perhatian Serius

MediaUmat Dua bulan lebih pasca banjir bandang dan longsor menerjang wilayah Sumatra tepatnya di Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Aceh, relawan Islam Selamatkan Negeri (ISN) di Posko Aceh, Noval Tawang, mengungkapkan warga korban membutuhkan kepastian, dan perhatian serius agar benar-benar bisa bangkit jalani kehidupan layak.

“Bencana mungkin telah berlalu, tetapi derita warga Aceh masih terus berjalan. Mereka bukan hanya membutuhkan bantuan darurat, tetapi juga kepastian, perhatian serius, dan keberpihakan agar benar-benar bisa bangkit dan kembali menjalani kehidupan yang layak,” tutur Noval kepada Media Umat, Senin (26/1/2026).

Hingga kini, kondisi di lapangan masih sangat jauh dari kata normal. Puluhan ribu warga, kata Noval, masih bertahan hidup di tenda-tenda pengungsian, masjid, dan bangunan darurat seadanya. Dalam satu tenda, harus dihuni dua hingga enam kepala keluarga sekaligus. Satu tenda darurat di posko pengungsian harus dihuni dua hingga enam kepala keluarga sekaligus. Satu keluarga bisa berjumlah hingga tujuh orang, yang membuat posisi tidur tidak proper, harus miring sana-sini.

Kepadatan, keterbatasan air bersih, serta sanitasi yang minim perlahan memunculkan ancaman baru. Seorang warga Desa Daling, Kabupaten Bebesan, Aceh Tengah, mengungkapkan bahwa penyakit menular mulai menyerang para pengungsi. Bahkan, seorang warga yang mengungsi di masjid diduga meninggal dunia akibat terserang virus.

”Yang lebih miris, pemandangan di Pidie Jaya dan Bungkah tidak berubah selama tiga minggu. Saat kami melewati jalan tersebut tiga minggu sebelumnya dan saat kami pulang. Ponpes, sekolah dan rumah penduduk masih penuh lumpur dan lumpurnya masih utuh. Astaghfirullah sampai kami tidak bisa menahan air mata saat memandangnya dari dalam mobil, pada dini hari,” tuturnya.

Noval menuturkan, di sejumlah wilayah terdampak (desa-desa di Tamiang, Bener Meriah dan Takengon), rumah-rumah warga masih tampak hancur, sebagian tertimbun lumpur tebal bercampur kayu gelondongan yang terseret banjir. Banyak rumah bahkan belum tersentuh pembersihan karena lumpur yang masuk terlalu tinggi.

Perkebunan dan lahan pertanian—yang selama ini menjadi sumber penghidupan utama—hancur diterjang banjir dan longsor. Tidak ada penghasilan, tidak ada kepastian. Warga berada pada fase paling dasar dalam hidupnya, bagaimana bisa makan hari ini, bagaimana memastikan anak dan keluarga tidak kelaparan, sembari terus menunggu uluran bantuan dari relawan dan pemerintah.

Noval mengatakan, kecemasan dirasakan warga Aceh Tamiang. Mereka belum pulih, berjuang di tengah keterbatasan, ketidakpastian, dan harapan yang perlahan menipis. Sambil menitihkan air mata, seorang ibu warga Desa Tanjung Geulumpang, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang dengan nada lirih berkata kepada relawan ISN, “Lihatlah desa kami, sudah seperti desa mati.”

“Jika saya punya uang, saya akan tinggalkan kota ini, dan silakan ambil rumah saya bagi siapapun yang mau. Saya hanya ingin membawa keluarga saya ke tempat aman,” tutur salah satu warga Kecamatan Karang Baru.

Kekesalan juga diungkapkan seorang warga Desa Riseh Tengah, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, dengan tegas mengungkapkan, “nol besar jika dikatakan Aceh sudah baik-baik saja.”

“Kami serahkan pada Allah,” ujar warga lainnya.

Lambannya Pemulihan Insfrastruktur

Noval menceritakan, di wilayah hulu warga dihadapkan pada persoalan puluhan jalan dan jembatan yang rusak atau putus total. Sementara di wilayah hilir, persoalan utama adalah lumpur tebal yang menggenangi permukiman dan belum sepenuhnya dibersihkan. Kondisi ini membuat aktivitas warga nyaris lumpuh, mobilitas terbatas, dan akses terhadap kebutuhan dasar menjadi semakin sulit.

Perbaikan infrastruktur jalan sepert jembatan oleh pemerintah dinilai berjalan lambat dan belum masif. Pengerjaan baru menyasar jalan-jalan utama atau penghubung antar kota, sementara wilayah pedalaman masih cenderung terabaikan. Akibatnya, masyarakat masih bergantung pada jembatan seling, jembatan gantung seadanya, hingga sampan untuk menyeberang demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

”Lambannya perbaikan infrastruktur jalan juga berdampak pada sektor lain. Pemulihan jaringan listrik dan saluran air bersih ikut terhambat di banyak wilayah terdampak. Di sejumlah desa, listrik belum juga menyala, sementara akses air bersih masih menjadi persoalan serius,” tutur Noval.

Dalam perjalanannya sebagai Relawan ISN, Noval menuturkan cerita seorang ibu dari Desa Tanjung Geulumpang, Kecamatan Sekerak. Ibu itu mengungkapkan bahwa hingga hari ke-54 pasca bencana, listrik  belum menyala di desanya. Dengan air mata yang tak terbendung, ia mengadu tidak tahu lagi bagaimana nasib mereka ke depan, termasuk masa depan anak-anaknya.

Di wilayah hilir seperti Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Tamiang, persoalan air bersih, kata Noval, masih menjadi masalah besar. Warga masih menunggu distribusi air bersih dari pemerintah. Sementara itu, aliran air PDAM masih berlumpur dan kerap mati tanpa kepastian.

ISN Terus Membersamai

Hingga dua bulan pasca bencana, Noval mengungkapkan, tim ISN sudah melakukan rolling relawan ke-3 dari semua titik posko yang ada. Pengiriman relawan dan bantuan yang dilakukan ISN juga tidak hanya di satu titik bencana tapi ada di banyak titik bencana, dan sifatnya kontinu (berkelanjutan).

Semua ini, ujar dia, tidak akan berjalan dengan baik, kecuali sistem dan sumber daya manusia (SDM) dalam ISN yang sudah matang. Bantuan benar-benar disalurkan dengan tepat sasaran. Tiap turun ke lokasi pengungsian (posko pengungsi), ISN tidak hanya menyalurkan bantuan tapi juga melakukan pemulihan mental, layanan kesehatan, kajian, bermain bersama anak-anak dan lain-lain.

Perhatian khusus juga diberikan kepada anak-anak. Tim ISN mengajak mereka berkumpul untuk bermain sambil belajar, menghafal Al-Qur’an, serta mendapatkan edukasi kebencanaan. Anak-anak terlihat antusias mengikuti kegiatan dan menjawab pertanyaan dari tim.

“Hari-hari berikutnya, aktivitas tersebut tetap berjalan di lokasi yang berbeda. Saya dan beberapa tim mengumpulkan data lokasi bencana yang belum masuk ke ISN. Kami keluar menembus medan-medan bencana, untuk melengkapi data dan info lokasi yang masih terisolir dari bantuan relawan. Setelah mendapatkan data lokasi dan medan serta jalan menuju lokasi, kami berikan kepada tim posko ISN untuk ditindak lanjuti,” cerita Noval.

Aktivitas ISN terus berjalan, tangga 22-24 Januari, tim melakukan distribusi bantuan logistik, layanan kesehatan, mental recovery di berbagai tempat, seperti Desa Uning Gelime, Desa Buntul Putri dan lain-lain.

Kebutuhan Mendesak

Dua bulan pascabencana, Noval menuturkan, kebutuhan paling mendesak bagi warga terdampak adalah. Pemenuhan logistik dasar. Rumah juga menjadi kebutuhan utama agar mereka bisa membangun harapan. Seorang ibu berkata “berilah kami tempat, meski kecil agar kami bisa pulang dan mulai mencari pekerjaan apa saja”.

Perbaikan jalur transportasi juga sangat mendesak untuk mencari pekerjaan atau untuk menjual hasil kebun yang masih tersisa. Perekonomian warga belum pulih, sumber penghasilan masih lumpuh, sehingga banyak warga sepenuhnya bergantung pada bantuan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.

“Warga sangat membutuhkan bantuan alat berat untuk mengeluarkan lumpur yang masih mengendap di rumah-rumah mereka, atau untuk meratakan bangunan yang sudah hancur dan tak lagi layak huni, sehingga mereka bisa membuat rumah darurat,” ungkapnya.

Akses terhadap air bersih juga menjadi persoalan krusial yang hingga kini belum terselesaikan, memperparah kondisi kesehatan dan kualitas hidup warga di wilayah terdampak. Terutama di Tamiang. Saya di Tamiang juga tidak menemukan air bersih, bahkan air berlumpur-pun tidak ada, kami tidak mandi. Sholat harus keluar mencari masjid yang airnya sudah lancar (air bercampur lumpur).

Layanan kesehatan, juga merupakan hal yang sangat mendesak, karena pasca bencana, banyak penyakit mulai muncul. Mulai diare, gatal-gatal, ISPA (terutama Tamiang yang debunya sangat tebal), dan lainnya. Bahkan saat diskusi dengan dokter dari posko ISN Bener Meriah, kami sampai merekomendasi mengganti bantuan telur dengan ikan kering bagi warga yang sudah mulai gatal-gatal

“Pendidikan untuk anak-anak sangat urgen. Paling utama dan penting, korban membutuhkan kehadiran negara umtuk menyelesaikan semua persoalan. Jangan hanya slogan “negara hadir’ di spanduk dekat jembatan. Hadirlah secara langsung dan tolonglah korban bencana,” tandasnya.[] Rasman

 

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *