Pada bulan Rajab 1447 H, digelar acara Speakup yang menggugah kesadaran umat Islam tentang pentingnya kepemimpinan dan solusi sistemik atas berbagai krisis global. Acara ini diikuti oleh ratusan peserta dan menghadirkan tokoh-tokoh seperti Ust. Yadi Isman, Ust. Muhammadun, Prof. Anas Puri, dan Ust. Ismail Yusanto, dengan moderator Dr. Gusman Nawanir.
Dalam sambutannya, Ust. Yadi Isman mengingatkan tiga keutamaan bulan Rajab: Isra’ Mi’raj — saat umat Islam menerima estafet kekuasaan dari umat terdahulu, Perang Tabuk — penyempurna kekuasaan politik Islam, serta momentum 105 tahun lalu saat umat kehilangan perisainya: khilafah Islamiyah. Isra’ Mi’raj bukan hanya peristiwa spiritual, tapi penyerahan mandat kepemimpinan dunia dari Bani Israil kepada umat Muhammad ﷺ.
Ust. Muhammadun menegaskan bahwa kepemimpinan adalah perisai yang melindungi umat. Tanpa pemimpin yang kuat, umat rentan diinjak-injak. Ia mengangkat kasus Palestina sebagai tanggung jawab kolektif umat Islam. “78 tahun Palestina tidak punya pelindung. Padahal, Islam sepanjang sejarah selalu menolong yang terzalimi — dari menerima Yahudi Spanyol, hingga membantu Irlandia saat kelaparan,” tegasnya. Ia menyentil, “Kita punya simpati, tapi di mana tindakan nyata kita?”
Prof. Anas Puri mengungkap akar kerusakan ekologis: kapitalisme yang melegalkan keserakahan. Ia menunjukkan betapa sistem ini merusak keseimbangan alam demi keuntungan segelintir orang. “Bumi ini dipinjamkan, bukan dimiliki. SDA melimpah, tapi tidak dikelola untuk kesejahteraan rakyat,” ujarnya. Solusi? Kembali ke sistem Islam yang menjaga bumi dan memastikan keadilan ekologis.
Ust. Ismail Yusanto menyoroti kerusakan yang bersifat struktural, bukan hanya moral individu. “Fasad hari ini akibat sekularisme — memisahkan agama dari kehidupan, warisan kekalahan umat dari Barat,” katanya. Ia menolak solusi tambal sulam, dan menyerukan dakwah yang mendidik dengan istilah-istilah substantif: sistem, kapitalisme, khilafah. Satu-satunya solusi: tegaknya institusi Islam dengan pemimpin yang menjalankan syariah secara kaffah.
Moderator menegaskan: masalah kita bukan kekurangan simpati, tapi kekurangan jalan keluar yang benar. Kapitalisme adalah akar dari penderitaan umat — di Palestina, di bumi, dan dalam masyarakat.
Acara berakhir dengan kesepakatan: kapitalisme adalah musuh bersama, dan satu-satunya jalan keluar adalah penerapan Islam secara kaffah. Seruan untuk tidak diam, tapi bertindak lewat dakwah istiqamah dan persiapan diri, mengingat pertolongan Allah selalu datang bagi umat yang berjuang.[]
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat