Polemik Mengenai Istilah “Kemunduran Peradaban” antara Amerika dan Eropa

 Polemik Mengenai Istilah “Kemunduran Peradaban” antara Amerika dan Eropa

Pemerintahan Trump menggunakan istilah “kemunduran peradaban” dalam Strategi Keamanan Nasional barunya, yang diterbitkan pekan lalu, dengan mengklaim bahwa imigrasi, di antara faktor-faktor lainnya, akan menghancurkan peradaban Eropa dan mengubah benua itu menjadi Timur Tengah dalam bentuk yang lain. Trump menegaskan bahwa, kecuali Polandia dan Hongaria, negara-negara Eropa tidak akan lagi mampu bertahan hidup sebagai akibat dari imigrasi.

**** **** ****

The Guardian menanggapi tuduhan Trump tentang runtuhnya peradaban Eropa dengan sebuah artikel karya George Monbeau berjudul: “Fakta-faktanya jelas: Eropa harus membuka pintunya bagi imigran atau menghadapi kepunahan yang tak terhindarkan.” Penulis mengkritik klaim Trump, dengan menyatakan: “Pada kenyataannya, tanpa imigrasi tidak akan ada Eropa, tidak ada peradaban, dan tidak akan ada yang tersisa untuk membantah hal itu. Ini karena tingkat kesuburan Uni Eropa yang menurunlah yang sebenarnya menghapus peradaban.”

Amerika, melalui strategi barunya, menjadikan unsur Barat kulit putih sebagai fondasi peradaban dan standar kelanjutannya. Melalui rasisme presidennya, Amerika melihat bahwa ketidakseimbangan demografis di benua Eropa akan mengubahnya menjadi sesuatu yang menyerupai Timur Tengah. Presidennya menunjukkan penghinaannya terhadap penduduk Timur Tengah tanpa alasan lain selain karena mereka bukan kulit putih, sementara orang Eropa melihat bahwa tidak ada cara agar kehidupan dapat berlanjut di Eropa kecuali melalui imigrasi, terutama karena angka kelahiran di kalangan penduduk kulit putih mengalami penurunan drastis yang dapat menyebabkan kepunahan penduduk jika mereka tidak digantikan oleh populasi non-kulit putih lainnya.

Sikap Eropa yang mendukung kedatangan orang-orang non-kulit putih ke Eropa ini tidak didasarkan pada pandangan kesetaraan antar bangsa, melainkan pada upaya menyelamatkan benua Eropa dari kepunahan akibat angka kelahiran yang rendah, yang berarti mereka terpaksa menerima imigran karena kebutuhan, bukan karena toleransi dan penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.

Negeri-negeri Islam tetap menjadi pihak yang absen dalam pendekatan Barat yang memanas ini dan masalah yang meluas antara kedua sisi Atlantik. Media yang menyedihkan di negara-negara Timur Tengah tidak menanggapi penghinaan rasis yang dilontarkan Trump kepada kaum Muslim, yang menggambarkan mereka sebagai pihak yang tidak memiliki peradaban.

Para penguasa Timur Tengah yang memuji Trump dan rezimnya, serta menyambut baik semua rencana agresifnya terhadap negeri-negeri mereka, tidak peduli untuk menyebut rakyat mereka kurang beradab, bahkan mereka telah dijadikan contoh oleh Amerika tentang kebiadaban, keterbelakangan, dan kemerosotan moral, terutama setelah Trump menegaskan kata-kata rasisnya dengan menyebut seluruh rakyat Somalia sebagai sampah, tanpa membedakan antara mereka yang tinggal di Amerika dan mereka yang tinggal di Somalia.

Rasisme terang-terangan Trump dan komitmen negaranya terhadap kebijakan rasisnya adalah bukti bahwa umat Islam, di mata para penguasanya, tidak berbeda dengan pandangan Amerika terhadapnya. Mungkin bocoran audio Basyar al-Asad baru-baru ini dengan jelas menunjukkan sejauh mana penghinaan dan kesombongan para penguasa Timur Tengah terhadap rakyat mereka.

Pada kenyataannya, pandangan meremehkan oleh Amerika terhadap kaum Muslim tidak akan berubah kecuali dengan adanya kepemimpinan Islam yang kuat yang memaksakan nilai-nilai politik Islam kepada dunia dengan kekuatan negara dan ideologi, bukan dengan kebijakan mengemis, memohon, dan menyanjung. [] Muhammad al-Khatwani

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 15/12/2025.

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *