Mediaumat.id – Terkait polemik bendera tauhid saat acara deklarasi pencapresan Anies Baswedan tempo hari, diduga Pengamat Politik Islam dan Militer Dr. Riyan, M.Ag. dilakukan oleh intelijen untuk kepentingan tertentu.
“Hal yang seperti ini patut diduga biasanya dilakukan oleh pihak intelijen untuk mengondisikan satu situasi tertentu yang dikehendaki pelaku,” ujarnya kepada Mediaumat.id, Kamis (9/6/2022).
Namun sebelum menyimpulkan seperti itu, Riyan mengatakan perlunya mencermati dahulu bahwa banyak pihak yang sedang berusaha mendiskreditkan Anies Baswedan sebagai salah satu calon presiden yang dianggap potensial.
Tentu, lanjutnya, dengan berbagai motif. “Apakah karena ketidaksukaan secara pribadi atau karena khawatir tersaingi dalam konteks Pilpres 2024,” ungkapnya.
Selain itu, fenomena kisruh terkait bendera berlafaz kalimat tauhid dimaksud, menurutnya, justru menunjukkan kerentanan di kalangan para pendeklarasi pencalonan itu sendiri mengenai simbol-simbol Islam.
Sebabnya, mereka telah mangaku bekas dari anggota ormas Islam. “Mengapa harus takut dengan bendera tauhid? Pada faktanya mereka mencopot bendera tauhid, maka sebenarnya mereka itu siapa?” herannya.
Maka dalam konteks ini, kata Riyan, kisruh tersebut adalah indikasi yang bisa menjadi petunjuk awal untuk mendalami apakah memang ini berkaitan dengan operasi false flag (bendera palsu/kambing hitam) atau tidak.
Lantaran itu berkenaan dengan flag false operation (operasi bendera palsu), yakni satu pihak menuduh pihak lain padahal yang melakukan adalah dirinya sendiri, sederhananya menurut Riyan ibarat maling teriak maling.
Sementara, kata Riyan, hal demikian tidak bisa serta-merta langsung disimpulkan sampai ada fakta-fakta lain yang relevan.
Namun begitu, dengan adanya peristiwa lainnya, semisal deklarasi ‘FPI Reborn’ mendukung Anies, tetapi belakangan juga sudah dibantah, telah mengonfirmasi adanya kesengajaan rekayasa untuk menjatuhkan kredibilitas Anies Baswedan.
Pun begitu dengan gerakan mahasiswa yang mengaku berasal dari ‘Gema Pembebasan’ berikut dukungan serupa mereka yang ternyata abal-abal pula.
Di sisi lain, Riyan juga memandang, dari semua upaya tersebut yang dirugikan pastilah pihak Anies. Dasarnya, berbagai fenomena tersebut telah membuat satu pihak terpersepsi atau terasosiasi dengan kelompok-kelompok yang sebelumnya sudah di-framing buruk. Di antaranya radikal, kadrun, dan lainnya.
Sebaliknya, yang mungkin mendapatkan keuntungan, kendati jangka pendek sekalipun, logisnya adalah lawan politik Anies. “Mereka akan mengangkat isu ini dan mengeksploitasinya untuk menaikkan calon yang didukung,” terangnya.
Oleh karena itu pula, jika benar hal itu ternyata memang peristiwa operasi intelijen dengan jenis operasi bendera palsu, maka kata Riyan, kategorinya termasuk fitnah terkait bendera tauhid.
Hal itu dikarenakan pihak berkepentingan telah menstigma bendera dimaksud sebagai identitas kelompok tertentu.
“Juga kategorinya mengadu domba antara pihak terkait, khususnya sesama Muslim. Keduanya hukumnya haram,” tegasnya, seraya menerangkan, umat Islam mestinya bersatu bukan malah berpecah belah.
Artinya, pihak tertentu yang sengaja memecah belah melalui fitnah, rekayasa kebohongan dan adu domba, jelas telah melakukan kemaksiatan dan dosa. “Secara politis (pun) menunjukkan watak politik yang rendah,” timpalnya.
Artinya pula, imbau Riyan, sebenarnya hal itu tidak boleh terjadi pada umat Islam. “Harus bersatu dalam bendera yang sama yaitu bendera tauhid. Bendera Rasulullah SAW, baik yang al-liwa maupun ar-rayah,” tandasnya.
“Liwa adalah bendera putih bertuliskan tauhid, sedangkan rayah adalah bendera hitam bertuliskan kalimat tauhid,” sambungnya.
Terlebih dari itu, imbuhnya, hakikat arah perubahan dalam pandangan Islam adalah perubahan
sistem, bukan semata-mata perubahan orang.[] Zainul Krian
View Comments (1)
Sudah ketahuan sekarang dalangnya. Yang hobi mainin yang beginian ya bisa ditebak sih, orangnya itu-itu juga.