PKAD: Kekuatan Dunia Sedang Terpecah

MediaUmat Ismail dari Pusat Kajian dan Analisis Data (PKAD) menilai hari ini kekuatan dunia sedang terpecah.

“Kekuatan dunia sedang terpecah,” ujarnya dalam video Kekuatan Dunia Sedang Terpecah, Bagaimana dengan Dunia Islam? di kanal YouTube Khilafah News, Kamis (16/4/2026).

Menurutnya, dunia hari ini tidak lagi bergerak dalam satu arus global yang sama. Namun mulai terbelah, perlahan tapi pasti, menjadi blok-blok ekonomi baru.

“Di satu sisi ada aliansi Jepang-Amerika Serikat yang memperkuat diri lewat teknologi dan investasi. Di sisi lain, muncul poros baru Australia-Uni Eropa,” ujarnya.

Pada Maret 2026, lanjut Ismail, mereka (Australia dan Uni Eropa) menandatangani perjanjian perdagangan bebas. “Nilainya tak kecil, sekitar 10 miliar AUD (sepuluh miliar dolar Australia) per tahun, dan sebelumnya sudah ada perdagangan lebih dari 47 miliar Euro per tahun,” bebernya.

Ini bukan sekadar kerja sama, tegas Ismail, ini adalah tanda bahwa dunia sedang membangun jalurnya sendiri.

“Tapi di tengah semua ini, ada satu perubahan besar yang sering terlewat, Cina yang selama ini mesin ekonomi dunia, mulai melambat. Pertumbuhan akhir 2025 hanya 4,5%, investasi bahkan turun sekitar 3,8%,” jelasnya.

Artinya, ia menegaskan, salah satu pilar utama ekonomi global mulai kehilangan momentumnya.

Ia memandang, Jepang-Amerika Serikat memperkuat teknologi, Australia-Eropa membangun rantai pasok baru, Cina menghadapi tekanan. “Terlihat seperti kompetisi biasa, tapi sebenarnya ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar, yaitu fragmentasi ekonomi global,” terangnya.

Menurutnya, ketika perdagangan mulai dibatasi oleh blok, teknologi tidak lagi bebas, pasar menjadi ekslusif, maka, dunia tidak lagi saling terhubung tapi saling bersaing.

“Dan di sinilah paradoksnya, semakin kuat aliansi dibangun, semakin besar dunia terpecah. Tapi, justru di tengah perpecahan ini, muncul peluang bagaimana jika ada blok baru yang selama ini belum benar-benar bersatu,” harapnya.

Dunia Islam, sebut Ismail, potensinya sangat besar. “Bayangkan jika perdagangan antar negeri Muslim diperkuat, industri saling terhubung, dan pasar dimanfaatkan secara kolektif, ini bukan sekadar alternatif, ini bisa jadi keseimbangan baru ekonomi global,” ujarnya.

Masa Transisi

Menurutnya, saat ini (masyarakat) sedang hidup di masa transisi dunia. Berubah dari satu sistem global menjadi banyak sistem yang saling bersaing, blok besar mungkin akan saling mengunci, dan dalam proses itu, melemahkan diri mereka sendiri.

“Tapi sejarah selalu menunjukkan, di tengah perubahan besar, selalu ada kekuatan besar yang lahir. Sekarang pertanyaannya untuk kita, apakah dunia Islam siap bersatu secara ekonomi dan politik, atau hanya akan menjadi penonton dalam peta baru dunia?” pungkasnya.[] ‘Aziimatul Azka

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: