MediaUmat – Pernyataan mantan kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi yang intinya menyebut ‘kebiasaan masyarakat mengkonsumsi kopi hingga gorengan memicu penggundulan hutan’, sejatinya ingin menutupi akar masalah deforestasi.
“Menutupi problem akar deforestasi yang sesungguhnya, yaitu adanya kongkalikong antara kebijakan negara dengan korporasi besar dalam eksploitasi sumber daya alam secara rakus,” ungkap Dr. Yuana Tri Utomo, Direktur The Economic Future Islamic (TEFI), dalam Kabar Petang: Gaduh! Kopi dan Gorengan Picu Hutan Gundul, Hasan Nasbi Dikritik, Ahad (21/12/2025) di kanal YouTube Khilafah News.
Menurut Yuana, sesat pikir (logika falasi) bila terjadinya penggundulan hutan dianggap karena kebiasaan masyarakat mengkonsumsi kopi hingga gorengan.
“Apa benar konsumsi kopi dan gorengan menyebabkan deforestasi, kan aneh sekali itu, Bung Nanang [host Kabar Petang]. Analisis Hasan Nasbi itu secara sistemnya juga bermasalah. Seolah-olah dia mengatakan karena konsumsi masyarakat tinggi, maka dibutuhkan penebangan hutan atau deforestasi itu,” tambahnya.
Perilaku konsumsi masyarakat tidak bisa dikaitakan dengan deforestasi. “Tidak cukup untuk menjelaskan akar masalah deforestasi yang sesungguhnya. Deforestasi tidak bisa dikaitkan dengan tingginya konsumsi masyarakat, dikaitkan dengan perilaku konsumsi masyarakat itu tidak bisa,” katanya.
Pasalnya, ujarnya sekali lagi, penikmat sumber daya alam dari hutan adalah korporasi-korporasi besar yang kongkalikong (main mata) dengan negara, bukan rakyat. Rakyat hanya sebagai konsumen karena rakyat tidak membuka hutan, tidak memiliki ribuan hektare lahan, tidak menerbitkan izin.
“Jadi hutan itu ditebang habis-habisan oleh pengusaha besar, yang direstui oleh pemerintah, bahkan seakan-akan pemerintah itu mengizinkan korporasi-korporasi besar itu melakukan pembalakan liar, penggundulan hutan yang akibatnya hutan jadi rusak,” jelasnya.
Menurut Yuana, pernyataan Hasan Hasbi itu sebagai cerminan pikirannya berisi paradigma kapitalistik dalam memandang sumber daya alam atau hutan.
“Paradigma yang dia miliki dalam mindset berpikirnya, yaitu cerminan dari sistem kapitalisme itu. Jadi yang dia lakukan, yang dia sampaikan itu bentuk dari statement yang mewakili paradigma kapitalisme itu, yang pengelolaan dalam memandang alam itu sebagai komoditas saja.” ujar Direktur TEFI meyakinkan.
Yuana mengingatkan, manusia dan hutan sebagai makhluk Allah. Adapun tugas manusia di bumi sebagai khalifatul fil ard yaitu mengemban amanah melestarikan bumi bukan merusaknya.
“Padahal kita sama-sama makhluk yang justru malah manusia yang mengemban amanah, mengemban visi-misi penciptaan, mengemban menjadi khalifatul fil ard, khalifah di muka bumi ini, ini harusnya wajib menjaga dan melestarikan bumi sesuai dengan syariat Islam,” imbuhnya
Pernyataan Hasan Nasbi, jelas Yuana, hanya menimbulkan gaduh di tengah masyarakat.
“Jadi ini framing yang keliru. Seakan-akan dia berpesan kepada masyarakat, kurangi kopi, kurangi gorengan, maka Anda akan menyelamatkan hutan. Kan aneh ini.” pungkasnya.[] Imam Wahyono
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat