Peringati 105 Tahun Runtuhnya Khilafah, Amir Hizbut Tahrir Serukan Persatuan Militer Muslim dan Kritik Kebijakan AS di Gaza

 Peringati 105 Tahun Runtuhnya Khilafah, Amir Hizbut Tahrir Serukan Persatuan Militer Muslim dan Kritik Kebijakan AS di Gaza

Memperingati 105 tahun runtuhnya Daulah Khilafah pada akhir Rajab 1342 H lalu, Amir Hizbut Tahrir, Syekh Atha’ bin Khalil Abu ar-Rasytah, menyampaikan pidato penting yang menyoroti kondisi geopolitik dunia Islam saat ini. Dalam pidato tertanggal 12 Rajab 1447 H (1 Januari 2026 M) tersebut, ia menyerukan penegakan kembali kepemimpinan Islam global dan melontarkan kritik tajam terhadap intervensi asing di wilayah konflik, khususnya di Jalur Gaza.

Refleksi Sejarah dan Fragmentasi Dunia Islam

Syekh Atha’ membuka pidatonya dengan mengingatkan kembali peristiwa Maret 1924, di mana Musthafa Kemal secara resmi menghapus sistem Khilafah di Istanbul. Menurutnya, penghapusan tersebut merupakan “gempa mengerikan” yang memicu perpecahan wilayah Muslim menjadi 55 negara kecil di bawah pengaruh imperialisme.

“Umat kehilangan perisainya, dan dampaknya terus berlanjut hingga hari ini dengan dominasi pengaruh asing yang memecah belah negeri-negeri kaum Muslim,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang dirilis melalui kanal resmi organisasi.

Kritik Pedas terhadap Rencana Trump di Gaza

Poin utama yang menjadi sorotan dalam pidato tersebut adalah perkembangan situasi di Palestina pasca-pertemuan Sidang Majelis Umum PBB pada September 2025. Syekh Atha’ mengkritik keras rencana 20 poin yang diusulkan oleh Donald Trump, yang ia nilai sebagai bentuk penjajahan baru atas Gaza melalui mekanisme “Dewan Perwalian” atau “Dewan Perdamaian”.

Ia menuding bahwa langkah-langkah yang diambil, termasuk rencana penunjukan jenderal Amerika untuk memimpin pasukan stabilisasi di Gaza pada awal 2026, merupakan upaya untuk melucuti senjata perlawanan dan mengukuhkan kendali entitas Yahudi atas tanah suci tersebut.

“Para penguasa di negeri kaum Muslim justru memberikan pujian atas rencana tersebut, alih-alih melakukan upaya pembebasan yang nyata,” tegasnya.

Sorotan Konflik Global: Dari Kashmir hingga Turkistan Timur

Selain Palestina, Amir Hizbut Tahrir juga mengulas berbagai krisis kemanusiaan yang menimpa umat Islam di berbagai belahan dunia. Ia menyebutkan penderitaan Muslim Rohingya di Myanmar, penindasan brutal di Turkistan Timur oleh Cina, aneksasi Kashmir oleh India, hingga isu separasi di Sudan, Libya, dan Yaman.

Ia menyayangkan sikap diam para penguasa Muslim yang dianggapnya memperlakukan penindasan tersebut sebagai “masalah internal” negara lain, sehingga gagal memberikan perlindungan nyata bagi sesama Muslim.

Seruan kepada Militer Muslim

Di bagian akhir pidatonya, Syekh Atha’ secara khusus memberikan seruan kepada tentara di negeri-negeri Muslim. Ia memanggil memori kolektif tentang kebesaran pemimpin masa lalu seperti Shalahuddin al-Ayyubi, Muhammad al-Fatih, dan Khalifah Abdul Hamid II sebagai inspirasi untuk mengambil peran dalam perubahan politik.

“Kalian adalah cucu-cucu para pemenang. Al-Khilafah adalah perisai yang akan mengembalikan kemuliaan Islam dan menyatukan kembali batas-batas yang telah digariskan penjajah, dari Indonesia di Samudra Pasifik hingga Maroko di Samudra Atlantik,” lanjutnya.

Penegasan Visi Hizbut Tahrir

Hizbut Tahrir menegaskan komitmennya untuk terus berjuang mengembalikan kehidupan Islam melalui tegaknya Khilafah ar-Rasyidah kedua. Syekh Atha’ meyakini bahwa kembalinya sistem ini adalah janji Allah dan kabar gembira dari Rasulullah yang akan segera terwujud melalui perjuangan yang serius dan ikhlas.

Pidato ini ditutup dengan ajakan kepada seluruh elemen umat Islam, terutama mereka yang memiliki kekuatan (ahlul quwwah), untuk bergabung dan mendukung dakwah guna mewujudkan visi persatuan politik umat Islam di masa depan.[]

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *