Perang Amerika terhadap Islam

Pemerintahan Amerika dan para pengambil keputusan di dalamnya tidak berhenti menunjukkan permusuhan mereka terhadap Islam, serta mengungkapkan perang mereka yang terus-menerus dan beragam terhadapnya. Pada setiap kesempatan dan tanpa alasan, Anda mendengar seorang pejabat Amerika meninggikan suaranya menyerang Islam, menggambarkannya dengan deskripsi yang mengungkapkan besarnya kebencian dan ketakutan mereka terhadap Islam yang telah menghantui hati mereka.

Sudah diketahui umum bahwa setelah runtuhnya Uni Soviet pada awal dekade terakhir abad lalu, Amerika menjadikan Islam sebagai musuh utamanya. Amerika memobilisasi kekuatan tentara, para antek, uang, kesepakatan dan perjanjian untuk melawannya. Upaya Amerika yang terhangat adalah Perjanjian Abraham, setelah berbagai upaya sebelumnya, seperti melabeli Islam dengan reaksioner, ekstremis, dan teroris.

Dalam beberapa hari terakhir, Menteri Luar Negeri Amerika, Marco Rubio tampil bersama Sean Hannity di acara “The Sean Hannity Show” di Fox News dan menjelaskan, “Islam radikal telah menunjukkan bahwa keinginan mereka bukan hanya untuk menduduki satu bagian dunia dan merasa puas dengan negara Khilafahnya yang kecil, tetapi mereka ingin berekspansi. Sungguh keinginannya ini bersifat revolusioner. Sehingga mereka berupaya untuk terus memperluas serta mengendalikan lebih banyak wilayah dan lebih banyak penduduk …” Rubio lupa mungkin bahwa apa yang ia tuduhkan kepada Islam, itulah yang dilakukan Amerika, bahkan dengan perbedaan besar: Amerika berupaya menguasai dunia untuk menjarah sumber daya dan kekayaannya. Untuk memuluskan tujuannya itu, Amerika membunuh jutaan manusia, membakar lahan hijau dan kering, serta meninggalkan kehancuran dan kematian. Perang di Somalia, Irak, dan Afghanistan tidak jauh dari kita. Adapun Islam, maka ia membawa manusia keluar dari kegelapan menuju terang, dari kesengsaraan menuju kebahagiaan, dan dari perbudakan kepada manusia dan hukum buatan mereka menuju penyembahan hanya kepada Allah semata.

Sebelum Rubio, presidennya sendiri, Trump,  berupaya memaksakan Perjanjian Abraham di negeri-negeri kaum Muslim untuk melemahkan Islam dan menjadikannya hanya ritual keagamaan seperti agama lain, juga untuk menghilangkan aspek politik Islam dari pikiran masyarakat. Trump juga menegaskan kebijakan Amerika terhadap Islam dan kaum Muslim dalam apa yang disebutnya Strategi Keamanan Nasional 2025, dengan mengatakan: “Kita ingin mencegah kekuatan musuh mendominasi Timur Tengah, pasokan minyak dan gasnya, dan titik-titik strategis yang dilaluinya.”

Dan di tempat lain Trump mengatakan: “Amerika akan selalu memiliki kepentingan inti dalam memastikan bahwa pasokan energi Teluk tidak jatuh ke tangan musuh yang terang-terangan, bahwa Selat Hormuz tetap terbuka, Laut Merah tetap dapat dilayari, dan kawasan tersebut tidak menjadi inkubator atau pengekspor teror terhadap kepentingan Amerika atau tanah air Amerika, sehingga (Israel) tetap aman. Kita dapat dan harus mengatasi ancaman ini secara ideologis dan militer. Kita juga memiliki kepentingan yang jelas dalam memperluas Perjanjian Abraham ke lebih banyak negara di kawasan dan ke negara-negara lain di dunia Muslim.”

Trumpn juga mengatakan: “Mitra-mitra di Timur Tengah menunjukkan komitmen mereka untuk memerangi radikalisme, sebuah tren yang harus terus didorong oleh kebijakan Amerika.” Dia berkata: “Kita harus tetap waspada terhadap kebangkitan kembali aktivitas teroris Islam di beberapa bagian Afrika …” Anda melihat Trump dalam semua pidatonya tentang Islam dan klasifikasinya terhadap kaum Muslim menggunakan terminologi yang diciptakan oleh para pendahulunya di antara presiden-presiden Amerika, di mana mereka membagi kaum Muslim menjadi moderat dan radikal, mereka menggambarkan kaum Muslim dan Islam sebagai terorisme, Trump mengambil semua itu sebagai dalih untuk memeranginya.

Kekuatan pemikiran Islam, luasnya wilayah kaum Muslim, dan ketakutan akan kembalinya Khilafah ke negeri-negeri kaum Muslim,  merupakan sumber teror yang menghanui kaum kafir dan negara-negaranya, terutama negara-negara besar yang memandang Islam sebagai bahaya yang mengancam kepentingan dan bahkan eksistensi mereka. Mereka tidak pernah berhenti mengungkapkan kekhawatiran ini dari waktu ke waktu, terlepas dari kekuatan materi yang mereka miliki, dan terlepas dari kehadiran penguasa-penguasa boneka mereka di negeri-negeri kaum Muslim.

Tetapi Kami memberi mereka kabar gembira bahwa apa yang mereka takuti akan datang tanpa dapat dihindari, terlepas dari rencana mereka, kekuatan mereka, dan antek-antek mereka. Negara Khilafah akan segera kembali dengan izin Allah, memenuhi alam semesta dengan keadilan sebagaimana mereka memenuhinya dengan penindasan dan perbudakan. Umat Islam adalah umat yang hidup dan tidak pernah mati, meskipun untuk sementara waktu mereka lalai, namun mereka akan kembali untuk menyampaikan pesan Islam, pesan cahaya, petunjuk, dan keadilan, kepada seluruh umat manusia dengan izin Allah. Ketahuilah bahwa di dalam umat Islam terdapat Hizbut Tahrir, pemimpin yang jujur ​​yang tidak berdusta kepada umatnya, yang menjalankan proyek kebangkitan yang benar melalui pendirian Khilafah Rasyidah kedua ‘ala minhājin nubuwah. Sungguh hari esok itu sangat dekat bagi orang yang melihatnya.

﴿يُرِيدُونَ لِيُطْفِؤُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ * هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ﴾

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah akan menyempurnakan cahaya-Nya, meskipun orang-orang kafir membencinya. Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk menjadikannya unggul atas semua agama, meskipun orang-orang musyrik membencinya.” (TQS. At-Taubah [9] : 32-33).

 

Kantor Media Pusat Hizbut-Tahrir

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: