MediaUmat – Bergabungnya Negara Muslim Uni Emirat Arab (UEA) ke dalam koalisi internasional baru bentukan Amerika Serikat (AS) bernama Inisiatif Pax Silica, sangat disayangkan oleh Pengamat Hubungan Internasional dari Geopolitical Institute Hasbi Aswar, Ph.D.
“Sangat disayangkan bila ada elite penguasa Muslim yang masih mau bermitra dekat dengan Amerika Serikat,” ujarnya kepada media-umat.com, Selasa (16/12/2025).
Menurutnya, kalau hanya untuk pengembangan teknologi, masih banyak opsi lain daripada mengekor ke negara-negara penjajah seperti AS. Ditambah, kemunduran dunia Islam yang selama ini terjadi juga tak lepas dari peran AS dan Barat sebagai faktor eksternal signifikan yang memanfaatkan kerentanan internal umat Islam.
Adalah Inisiatif Pax Silica diluncurkan dan dideklarasikan secara resmi pada tanggal 12 Desember 2025, saat KTT perdana yang diselenggarakan di Washington D.C dan ditandatangani oleh perwakilan dari AS dan beberapa negara mitra utama.
Dalam hal ini, AS membentuk suatu koalisi untuk mendorong kerja sama ekonomi dan teknologi di sektor kecerdasan artifisial (AI) bersama delapan negara mitra, yaitu Jepang, Korea Selatan, Singapura, Belanda, Israel, Uni Emirat Arab, Inggris, dan Australia, dengan kontribusi tamu dari Taiwan, Uni Eropa, Kanada, dan OECD.
Mengutip pernyataan Departemen Luar Negeri AS, sehari sebelumnya, tujuan utama koalisi ini adalah untuk memperkuat keamanan dan ketahanan rantai pasokan global di sektor kecerdasan artifisial (AI), semikonduktor, mineral penting, dan infrastruktur terkait.
Hegemoni Global
Namun, kata Hasbi memaknai, poin dari platform ini sebenarnya adalah bagian dari upaya AS bersama mitra-mitra dekatnya untuk mengokohkan hegemoni global AS di dunia digital dan teknologi.
“Negara-negara yang tergabung dalam kerja sama ini adalah negara yang melayani kepentingan Amerika,” ulasnya.
Lebih jauh Hasbi juga memandang strategi ini bagian dari upaya AS membendung upaya investasi serupa asal Cina di negara-negara Teluk.
“Termasuk dalam menghadapi kompetitor Cina yang saat ini juga sedang giat-giatnya mengembangkan teknologi kecerdasan buatan,” ungkapnya.
Memang, catat Hasbi, ketika Israel yang notabene bagian dari OECD bergabung ke dalam Inisiatif Pax Silica, menjadi hal wajar karena entitas penjajah Zionis Yahudi tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari kemitraan utama AS.
Namun, sebut Hasbi, langkah Israel untuk bergabung dengan Pax Silica terjadi di tengah meningkatnya tekanan internasional terhadap negara-negara agar memutus hubungan ekonomi dengan Israel akibat perang genosida yang dilancarkannya di Gaza.
Pula, dikutip jpost.com, (14/12), para pegiat hak asasi manusia telah lama menuduh pemerintah Israel memanfaatkan sektor teknologi untuk memutihkan pelanggaran HAM terhadap rakyat Palestina, dan perusahaan-perusahaan Israel selama ini juga menghadapi seruan boikot internasional.
Makanya ia tak heran terhadap UEA yang juga berhimpun ke dalam platform ini. Sebabnya, negara yang beribu kota Abu Dhabi tersebut sudah lama memosisikan diri sebagai mitra AS.
Sebagaimana dilansir reuters.com, (21/3/2025), misalnya, UEA telah berkomitmen pada kerangka investasi 10 tahun senilai USD1,4 triliun atau sekitar Rp23,1 kuadriliun (dalam kurs Rp16.500) di Amerika Serikat setelah para pejabat tinggi UEA bertemu dengan Presiden Donald Trump pada pekan yang sama.
Kerangka kerja tersebut akan “secara substansial meningkatkan investasi UEA yang sudah ada di ekonomi AS” dalam infrastruktur AI, semikonduktor, energi, dan manufaktur.
Tak ayal, sejak UEA merdeka pada tahun 1971, AS berikut hegemoninya menjadi negara ketiga setelah Arab Saudi dan Mesir, yang menjalin hubungan diplomatik formal dan menempatkan duta besar di sana sejak 1974.
Dengan kemitraan yang berkembang menjadi strategis dan mendalam terutama dalam keamanan, ekonomi, dan perdagangan pasca-2001, AS lantas menjadikan UEA sebagai mitra kuncinya hingga kini.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat