Pengamat: Kepentingan AS, Sudan yang Ramah terhadap Israel

MediaUmat – Pengamat Hubungan Internasional Hasbi Aswar, Ph.D., menilai kepentingan Amerika Serikat (AS) di Sudan ke depan adalah Sudan yang ramah terhadap Israel dan keras terhadap gerakan-gerakan politik Islam.

“Kelihatannya Amerika memang punya kepentingan untuk Sudan ke depan itu adalah Sudan yang ramah terhadap Israel termasuk juga anti dan keras terhadap gerakan-gerakan politik Islam,” ujarnya dalam Kabar Petang: AS Dalangnya! di kanal YouTube Khilafah News, Sabtu (15/11/2025).

Karena, menurutnya, ada riwayat-riwayat sebelumnya sekitar 2019, Jenderal Hemedti itu ternyata pernah mengadakan pertemuan di Uni Emirat Arab dengan Israel dan Amerika Serikat juga ada di sana.

“Tujuannya itu untuk masa depan Sudan dan normalisasi hubungan antara Sudan dan Israel. Jadi kelihatannya dari riwayat politik Rapid Support Forces (RSF) kemudian Dagalo termasuk juga keterkaitan dengan Uni Emirat Arab dan Israel dan Amerika Serikat,” jelasnya.

Kelompok paramiliter RSF itu, sebut Hasbi, selain didukung oleh Uni Emirat Arab, ada indikasi-indikasi didukung oleh Israel, karena ada persenjataan-persenjataan yang dipakai oleh RSF dan itu terindikasi buatan Israel.

“Nah, RSF ini adalah kelompok yang potensial di situ. Sementara Sudanese Armed Forces (SAF) itu adalah kelompok yang dianggap masih mewarisi semangat islamis dari pemerintahan Umar al-Bashir yang pernah berkuasa sekitar 30 tahun lamanya,” beber Hasbi.

Dan SAF itu, ungkapnya, juga terafiliasi dengan kelompok-kelompok jihad, kelompok islamis, atau kelompok-kelompok politik Islam.

“Dan ini, yang ini, yang bagi sebagian kalangan mengatakan bahwa SAF itu kemungkinan kecil akan didukung oleh Amerika Serikat termasuk juga Israel sehingga wajar ketika dukungan Israel itu akhirnya sampai ke RSF,” tuturnya.

Peran AS

Hasbi menilai, AS perannya satu itu, tidak selalu berperan langsung, dalam berbagai konflik di Timur Tengah.

“Kita melihat perang Afghanistan misalnya pada saat Rusia melakukan okupasi terhadap Afghanistan, Amerika Serikat terlibat dalam perang tersebut tidak secara langsung tapi melalui Pakistan dan Arab Saudi dengan mendukung kelompok-kelompok perlawanan jihad di Afghanistan,” bebernya.

Sama juga dengan pada saat konflik Sudan Utara dan Selatan, kata Hasbi, AS juga tidak banyak terlibat secara langsung, tapi memberikan jalan dan izin kepada Israel termasuk negara-negara yang anti dengan Sudan Utara untuk mendukung kelompok-kelompok perlawanan di Sudan Selatan.

“Nah, saya melihatnya di situ Amerika Serikat itu pasti akan terlibat aktif, secara tidak langsung ya. Kalau tidak secara langsung ya melalui apa? Sekarang itu Amerika termasuk Israel itu punya hubungan dekat dengan Sudan Selatan setelah merdeka 2019 termasuk juga Arab,” jelasnya.

Bahkan ada berita, lanjutnya, misalnya RSF menggunakan senjata Inggris untuk melakukan perlawanan terhadap SAF dan senjata Inggris itu dari penyelundupan melalui Uni Emirat Arab.

“Uni Emirat Arab mengirim ke Sudan melalui negara-negara seperti Uganda, Chad yang selama ini menjadi fasilitator terhadap ekspor-impor senjata maupun emas dari Sudan ke Uni Emirat Arab. Begitu juga sebaliknya,” pungkasnya.[] Setiyawan Dwi

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: