Pengamat: Intervensi Imperialis AS Pertegas Kebutuhan Khilafah

MediaUmat Serangan sepihak Amerika Serikat (AS) atas Venezuela serta penangkapan Presiden Nicolas Maduro pada awal Januari 2026, menurut Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi menunjukkan semakin mendesaknya kebutuhan akan tegaknya khilafah agar intervensi imperialis tak terjadi lagi.

“Sebagai pelindung umat, khilafah menjadi kebutuhan mendesak agar intervensi imperialis yang mencerai-beraikan dunia Islam tak terjadi lagi,” ujarnya kepada media-umat.com, Senin (19/1/12026).

Dengan kata lain, kebutuhan umat akan tegaknya kembali khilafah harus segera ditindaklanjuti. Sebab, menurutnya, sebagai sistem politik yang memiliki kekuatan dasar akidah Islam, khilafah bakal menghancurkan sekat-sekat negara-bangsa untuk kemudian menyatukan kembali potensi geopolitik dan ekonomi negeri-negeri Islam hingga menjadi kekuatan penyeimbang imperialis.

Tak hanya menegakkan syariat Islam secara menyeluruh, khilafah juga akan membangun kembali peradaban Islam dan membela kaum Muslim yang tertindas, seperti di Palestina dan negeri-negeri lainnya.

Untuk itu, Farid pun menyerukan agar penegakan kembali Khilafah Rasyidah ‘ala Minhaj an-Nubuwwah yang notabene jalan pembebasan dan kemuliaan umat, serta harapan satu-satunya bagi tatanan dunia yang adil sebagaimana dahulu pernah terwujud, menjadi agenda utama umat saat ini.

AS Ingin Kuasai Cadangan Minyak Terbesar di Dunia

Sebelumnya, Farid mengungkapkan salah satu penggerak utama di balik serangan dan tindakan sepihak AS terhadap Venezuela adalah penguasaan sumber daya minyak mentah terbesar di dunia.

“Tujuan sesungguhnya adalah penguasaan sumber daya minyak mentah terbesar di dunia,” ungkapnya.

Kata Farid, kecurigaan ini menguat menyusul pernyataan Trump dalam konferensi persnya, pada Sabtu (3/1) di Mar-a-Lago, Florida. Ketika itu, seperti dikutip CNBC (4/1/2026), Trump menyatakan bahwa tujuan utama operasi penggantian rezim tersebut adalah menarik investasi AS di sektor energi Venezuela.

“Kami akan membawa perusahaan minyak AS yang sangat besar untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, termasuk infrastruktur minyak,” ujarnya. Trump menambahkan, “Mari kita mulai menghasilkan uang untuk negara ini.”

Sementara, berdasarkan Data Administrasi Informasi Energi (EIA) AS, cadangan minyak negara anggota pendiri OPEC itu mencapai 303 miliar barel (17 persen cadangan global), mengalahkan Arab Saudi (267 miliar barel), Iran (209 miliar barel), Irak (145 miliar barel), UEA (113 miliar barel), dan Kuwait (102 miliar barel).

Standar Ganda AS

Lantas terkait tuduhan narkoterorisme yang diajukan AS terhadap Presiden Venezuela Nicolas Maduro (terutama pasca-penangkapan dan pendakwaan resminya pada Januari 2026), Farid melihatnya sebagai bentuk standar ganda dan alat geopolitik AS.

Sebutlah Kolombia, negara tetangga Venezuela, sebagaimana laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), menunjukkan peningkatan yang signifikan baik dalam budidaya daun koka (bahan baku kokain) maupun produksi kokain itu sendiri.

Statistik di tahun 2023, Kolombia mencatat rekor produksi kokain tertinggi, dengan perkiraan mencapai 2.600 ton. Budidaya daun koka juga meningkat sebesar 10 persen dari tahun sebelumnya.

Artinya, produksi kokain di Kolombia telah mencapai rekor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, menjadikannya eksportir kokain terbesar di dunia.

Namun alih-alih diintervensi militer secara langsung oleh AS, Kolombia justru berhak atas pinjaman atau jaminan FMF (program bantuan keuangan militer dari pemerintah AS) yang akan memperluas kemampuan mereka untuk memperoleh sistem senjata utama AS.

Pasalnya, selain sebagai anggota Pakta Rio, Kolombia juga diakui sebagai sekutu utama non-NATO (Major Non-NATO Ally/MNNA) yang memiliki kemitraan militer kuat dengan AS.

Karenanya, meskipun narasi resmi sering kali berkisar pada ‘menegakkan hukum’ atau ‘mengembalikan demokrasi’, tetapi inti konflik tersebut tak lepas dari soal kekuasaan dan kendali atas sumber daya alam.

Karenanya pula, kembali Farid menegaskan, intervensi atau serangan sepihak AS atas Venezuela harus memberikan pelajaran penting bagi umat mengenai bagaimana kapitalisme global, khususnya dalam bentuk imperialisme ekonomi, bekerja.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: