Pengamat: Inflasi Tinggi Perburuk Krisis Ekonomi Iran

 Pengamat: Inflasi Tinggi Perburuk Krisis Ekonomi Iran

MediaUmat Peneliti Masyarakat Sosial Politik Indonesia (MSPI) Dr. Riyan menilai krisis ekonomi yang terjadi di Iran diperburuk inflasi tinggi hingga mencapai lebih dari 40 persen.

“Krisis ekonomi Iran diperburuk oleh serangkaian faktor termasuk sanksi internasional inflasi tinggi yang telah mencapai lebih dari 40 persen,” tuturnya dalam video Chaos Iran, Perang Dagang Baru – Invasi di Depan Mata? di kanal YouTube Khilafah News, Sabtu (17/1/2026).

Selain faktor inflasi tinggi, kata Riyan, tekanan dari konflik regional dan dampak ekonomi perang 12 hari pada pertengahan tahun lalu yang menghantam situs nuklir negara tersebut juga turut memperburuk kondisi krisis ekonomi di Iran.

“Maka kita dapat dengan mudah memahami kenapa muncul seruan Iran untuk melakukan perang berskala penuh dengan AS,” ujarnya.

Karena, jelas Riyan, rezim ingin memobilisasi dan membangun soliditas internal dalam negeri di tengah aksi demo yang masif dan diakui sudah di luar kendali pemerintah.

Menurutnya, situasi yang terjadi di Iran memerlukan kekuatan negara adidaya baru yang mumpuni dan komprehensif untuk menghentikan berbagai upaya intervensi dan kejahatan Amerika Serikat.

“Mumpuni dan komprehensif, baik dari segi ideologi, kekuatan politik, kepemimpinan, kekuatan ekonomi yang tahan terhadap krisis dan kekuatan militer yang akan mampu menghentikan berbagai upaya intervensi dan kejahatan Amerika dan teman-temannya,” terangnya.

Terakhir, ia menegaskan, kekuatan itu hanya ada dalam khilafah Islam. “Jawaban itu sesungguhnya ada dalam negara khilafah Islam dan kaum Muslimin yang bangkit. ” pungkasnya.[] Nur Salamah

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *