MediaUmat – Penolakan Amerika Serikat (AS) atas dicalonkan kembalinya Nouri Al-Maliki sebagai Perdana Menteri (PM) Irak, menurut Pengamat Hubungan Internasional Hasbi Aswar menunjukkan ketidakpedulian AS terhadap demokrasi di Irak.
“Memang AS tidak peduli Timteng itu demokratis atau tidak, yang penting adalah negara-negara tersebut melayani kepentingan imperialistik AS di negara-negara itu,” ungkapnya kepada media-umat.com, Jumat (10/7)
Apalagi Irak, kata Hasbi, adalah negara yang secara geografis berdekatan dengan Iran yang selama ini menjadi musuh bebuyutan AS, pastinya Irak akan selalu diharapkan untuk menjadi salah satu dari pusat kegiatan militer dan intelijen AS di kawasan terseubt.
“Sehingga, siapa pun yang akan jadi PM Irak pasti akan dipantau terus oleh AS termasuk yang terjadi belakangan ini terkait penolakan AS terhadap Nouri Al-Maliki sebagai PM,” ujarnya.
Hasbi menilai, apa yang terjadi di Irak menunjukkan betapa lemahnya sebuah negara saat kedaulatan militernya tidak di tangan negara itu sendiri tapi di tangan negara lain.
“Itulah mengapa umat Islam harus kuat secara militer yang tentunya juga ditopang oleh ekonomi yang kuat dan independen dari negara-negara lain. Hanya itu yang bisa membuat negeri-negeri umat Islam bebas mengatur negerinya sendiri tanpa campur tangan negara-negara lain,” jelasnya.
Hasbi melihat nasib Irak pasca-invasi 2003 sampai seterusnya tetap akan sama saja, di bawah kontrol politik AS untuk kepentingannya di Timteng.
“Maka, Irak tidak bisa diharapkan menjadi negara yang damai, sejahtera, dan tentram serta akan selalu menjadi lahan konflik terus menerus sampai negara ini betul-betul bisa merdeka dari campur tangan asing,” pungkasnya.[] Achmad Mu’it
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat