Pengamat: Akar Masalah Gaza Bukan Sekadar Gencatan Senjata

MediaUmat Pengamat Timur Tengah Iranti Mantasari mengungkap akar masalah Gaza yang hingga saat ini masih dijajah oleh Zionis Israel bukan sekadar ditandatangani atau tidaknya perjanjian gencatan senjata antara Hamas dan Israel.

“Kita bisa melihat akar masalahnya itu bukan sekadar masalah gencatan senjatanya, perjanjiannya ditandatangani atau tidak, tetapi lebih pada political will dari sisi Israel itu sendiri, apakah memang benar-benar menginginkan perdamaian dengan Hamas atau tidak?” ungkapnya kepada media-umat.com, Sabtu (3/1/2026).

Menurutnya, jika Israel memang pada dasarnya tidak menginginkan perdamaian dengan Hamas kemudian tidak ingin angkat kaki dari Jalur Gaza atau pun Palestina secara keseluruhan, maka berbagai perjanjian apa pun yang mereka tandatangani, mereka sepakati, dengan pihak Hamas di Palestina menjadi tidak akan ada artinya.

“Karena mereka pasti akan tetap bisa mencari celah untuk melanggar perjanjian itu sendiri dan malah menjalankan manuver-manuver mereka untuk melangsungkan penjajahan atau pencaplokan wilayah di sana,” ujar Iranti.

“Ditambah lagi, Israel seperti yang kita ketahui memang disokong oleh Barat. Disokong oleh Amerika, yang hari ini memiliki pengaruh yang besar di dunia internasional,” imbuhnya.

Iranti menilai, Israel adalah pihak yang pertama kali melanggar perjanjian gencatan senjata antara Hamas dan Israel. Pelanggaran kali ini pun bukanlah pelanggaran pertama yang dilakukan oleh Israel.

“Bahkan jika kita melihat, salah satu informasi yang ada di laman Al Jazeera, di situ dikatakan bahwasanya sejak tanggal 10 Oktober 2025 kemarin sampai dengan 28 Desember 2025, berarti sekitar dalam kurun 2 bulan, Israel sendiri sudah melanggar berbagai poin yang ada di perjanjian gencatan senjata itu sebanyak 969 kali. Dan tetap ada korban yang berjatuhan dari sisi Palestina bahkan yang luka-lukanya itu sudah mencapai 1000 orang lebih,” ungkapnya.

“Nah, maka ketika kita melihat bahwasanya gencatan senjata ini sudah dilanggar sekian ratus kali bahkan oleh Israel itu sendiri, bagi kaum Muslim seharusnya menyadari satu hal bahwa gencatan senjata ini bukan berarti Palestina sudah merdeka. Palestina masih terjajah karena masih ada Israel yang eksis, yang juga masih melakukan berbagai agresi di Palestina,” tegas Iranti.

Adapun bagi para penguasa kaum Muslim, termasuk juga militer-militernya, kata Iranti, seharusnya menyadari, apa arti gencatan senjata yang ditandatangani oleh gerakan Hamas dengan Israel, jika Hamas atau Palestina secara umum tidak disokong atau tidak di-backup oleh kekuatan militer sebagaimana sokongan atau backup yang diberikan oleh Amerika kepada Israel.

“Penguasa Muslim harusnya menyadari itu, bahwasanya Palestina ini sendiri dalam menghadapi kebengisan dan juga agresi Israel,” tandasnya.

Iranti berharap kaum Muslim dan penguasa-penguasanya menjadikan momentum berbagai pelanggaran dari Israel ini sebagai masa untuk menajamkan lagi pemahaman terhadap politik di dalam Islam.

“Bagaimana aspek al-wala atau aspek loyalitas itu seharusnya diberikan hanya kepada Islam, hanya kepada kaum Muslim, juga kepada Allah, bukan kepada yang lainnya. Dan sebaliknya yang memberikan al-bara atau disloyalitas kepada kaum kafir dan orang-orang, pihak-pihak yang mereka itu secara nyata memusuhi kaum Muslim,” tutupnya.[] Achmad Mu’it

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: