Penculikan Presiden Venezuela, Bentuk Pengokohan Politik Imperialisme Amerika

MediaUmat Direktur Forum on Islamic World Studies (FIWS) Farid Wadjdi menilai penculikan Presiden Venezuela oleh Amerika Serikat sebagai bentuk pengokohan politik imperialisme dari Amerika Serikat.

“Ya, pertama penculikan yang dilakukan oleh kriminal Amerika terhadap Presiden Venezuela ini sesungguhnya mengokohkan politik imperialisme dari negara imperialis Amerika Serikat,” tuturnya dalam segmen Mbois : Heboh Soal Venezuela, Begini Lengkap dari A – Z Pembahasannya! Di kanal Youtube Tabloid Media Umat, Selasa (6/1/2026).

“Dan itu tampak sangat jelas dalam strategi keamanan nasional Amerika tahun 2025 yang mengokohkan imperialisme Amerika,” imbuhnya.

Slogan American First

Ia menyebutkan bahwa dalam strategi keamanan nasional Amerika 2025. Meskipun ada pergeseran radikal tentang peran Amerika Serikat, di mana Amerika Serikat tidak lagi ingin menjadi pelindung dunia atau menopang rezim asing yang dianggap tidak memberikan keuntungan langsung. Namun Amerika Serikat dengan slogan American First itu tetap menjadikan kepentingan nasional Amerika di atas segalanya. “Di samping itu dalam strategi keamanan nasional Amerika 2025 kemarin, dikokohkan apa yang disebut dengan doktrin Trump Corollary yaitu kebangkitan doktrin Monroe versi baru,” tukasnya.

“Amerika menegaskan dominasi Amerika di belahan barat. Dalam hal ini termasuk Amerika, benua Amerika dengan mencegah pesaing global yaitu Cina, Rusia, Eropa termasuk Iran. Dengan cara apa? Dengan mengendalikan wilayah itu lewat perdagangan, aliansi keuntungan keunggulan teknologi dan sains. Dan kemudian juga memungkinkan untuk melakukan intervensi militer, tapi bukan intervensi militer seperti yang mereka lakukan di Irak atau di Afghanistan,” bebernya.

Colollary Trump atau Doktrin Monroe

Jadi, lanjutnya, sesungguhnya yang terjadi di Venezuela ini demi mengokohkan apa yang disebut dengan _corollary Trump_ atau _doktrin Monroe_. Apa tujuan dari Amerika Serikat dalam hal ini adalah menegaskan kembali bahwa Amerikalah yang menjadi penguasa di kawasan benua Amerika. “Dan Amerika ingin menegaskan bahwa tidak ada negara-negara lain yang kemudian mempengaruhi atau menggeser peran Amerika ini,” ungkapnya.

“Jadi serangan Amerika ini, juga dalam rangka mencegah pesaing global yaitu Cina dan Rusia atau Eropa,” terangnya.

Ia mengungkapkan bahwa selama ini Venezuela memiliki banyak hubungan dengan Cina. Ini yang kemudian tidak diinginkan oleh Amerika Serikat. Sementara Venezuela adalah negara yang kaya dengan kekayaan alam yang besar, disebut-sebut bahwa cadangan minyak Venezuela itu dikatakan terbesar di dunia diperkirakan lebih dari 300 miliar barel, serta cadangan gas alamnya terbesar nomor 4 di dunia melebihi 195 triliun kaki kubik. Dan perdagangan antara Cina dan Venezuela mencapai 6,5 miliar dolar Amerika pada tahun 2024 dan terus berkembang. “Jadi inilah sesungguhnya alasan utama Amerika menyerang Venezuela,” paparnya.

Ia menyimpulkan bahwa alasan Amerika Serikat menyerang Venezuela yakni, yang pertama, untuk mengokohkan kepemimpinannya di benua Amerika dan ini sesuai dengan perluasan doktrin Monroe. Yang kedua, adalah untuk memberikan peringatan kepada pesaing-pesaingnya di wilayah ini terutama Cina. Karena Venezuela selama ini melakukan hubungan perdagangan yang cukup intensif dengan Cina. “Yang ketiga, tentu mengendalikan cadangan minyak di Venezuela,” tandasnya.

Sistem Kapitalisme Lemah

Ia memandang serangan ini sebenarnya sekaligus, walaupun Amerika Serikat tampak seperti perkasa, sebenarnya serangan ini menunjukkan kelemahan sistem kapitalisme yang diusung oleh Amerika Serikat dan negara-negara imperialis, dengan pilar-pilarnya seperti demokrasi. “Yang namanya demokrasi, tentu tidak dibenarkan negara lain masuk ke satu kawasan wilayah negara yang berdaulat,” ujarnya.

“Ini kan tidak mencerminkan kedaulatan negara Venezuela. Demikian juga ini melemahkan apa yang disebut dengan sistem politik bangsa atau nation state yang selama ini diagung-agungkan dalam sistem kapitalisme yang akan membangun suatu negara yang kuat,” tambahnya.

Negara Bangsa

Justru menurutnya, sistem negara bangsa inilah yang tampaknya memperlemah, sebagaimana yang juga terjadi di Timur Tengah. Bagaimana sistem negara bangsa ini memecah belah Timur Tengah dan sekaligus ini menunjukkan kembali kegagalan PBB. “Jadi sebenarnya di satu sisi serangan Amerika ini seolah-olah menunjukkan kehebatan Amerika. Tapi sisi lain sebenarnya ini adalah menunjukkan semakin rapuhnya sistem kapitalisme yang diusung oleh Amerika,” terangnya.

“Karena mereka sendiri yang melanggar nilai-nilai dasar mereka seperti demokrasi, seperti kedaulatan negara, seperti kedaulatan negara nation state, hukum internasional, PBB, semuanya dilanggar,” ungkapnya.

“Jadi ini harus dipahami sebagai bentuk dari kehancuran nilai-nilai kapitalisme,” pungkasnya.[] Ajira

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: