Pemikiran Kiri dari Sudut Pandang Islam, MLI: Jelas Berbahaya!

MediaUmat Founder Mataram Liberation Institute (MLI) Vier Agi Leventa menegaskan, pemikiran kiri ketika dilihat dari sudut pandang Islam jelas berbahaya.

“Ya, ketika ini ditanyakan apa bahanya, maka perlu kita dudukan dulu standar pemikiran tertentu ya. Ketika, kita melihat dari sudut pandang Islam, pemikiran kiri ini jelas ya berbahaya,” tegasnya dalam Kabar Petang: Jangan ‘Belok Kiri’, Rabu (17/12/2025) di kanal YouTube Khilafah News.

Vier pun menyebutkan beberapa poin bahayanya. Pertama, dari pondasi akidahnya. Pemikiran kiri ini menafikan keberadaan eksistensi di luar dunia materi, dan hal tersebut sudah menjadi dogma yang sangat mendasar.

“Dari sosialisme ya atau komunisme itu materialisme tadi,” ucapnya.

Kemudian, bebernya, ketika hal tersebut terjadi, maka seseorang tanpa sadar melakukan ibadah shalat, dan puasa, hanya sekadar sebagai keyakinan atau perasaan semata.

“Kita tenang, dan tidak ada masalah,” tambahnya.

Padahal, lanjutnya, ujar Vier, ketika dalam bidang lainnya, seperti politik, sosial, ekonomi beranggapan atau berpendapat bahwa tidak boleh bawa-bawa wahyu.

“Kita harus kembali ke analisis-analisis struktural gitu ya, analisis-analisis materialis, bahwa ini harus diselesaikan berdasarkan pemahaman kita [paham kiri], terhadap fakta ya, dan ini harus diselesaikan dengan cara yang sama juga, bukan kemudian merujuk malah ke wahyu,” tuturnya.

Muslim yang memiliki pemahaman seperti itu, jelas Vier, tergolong fasik dan sekuler.

“Jadi enggak ada bedanya, kemudian kapitalisme dan sosialisme di bagian ini, akan tanpa sadar ya menjauhkan kita bahwa kenyataannya ya syariat Islam itu hadir di spektrum kehidupan kita,” ungkapnya.

Pemikiran Islam vs Pemikiran Kiri

Padahal, jelas Vier, tidak hanya dalam urusan ritual dan ibadah, tapi semua kategori-kategori kehidupan termasuk ekonomi, politik, budaya, Islam hadir selalu. Beda jauh, bahkan sangat jauh dengan pemikiran kiri yang menganggap tidak ada urusannya dengan wahyu, dan analisisnya hanya sekadar faktual saja.

“Ada kesenjangan ekonomi, maka bagaimana ini disamaratakan ya, kemudian tidak ada kesenjangan lagi. Kalau politik terlalu otoriter, bagaimana kemudian jadi partisipatif ya. Nah sekadar sampai di situ, tidak kemudian merujuk pada Qur’an dan sunah,” tandasnya.[] Nandang Fathurrohman

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: