Pelajaran dalam Konflik Thailand-Kamboja, Negeri Muslim Harus Mandiri
MediaUmat –Pelajaran yang dapat dipetik kaum Muslim dari konflik yang kembali memanas di perbatasan Thailand-Kamboja beberapa hari terakhir, menurut Pengamat Hubungan Internasional Budi Mulyana, negeri Muslim harus mandiri dan tidak memberi ruang bagi pihak luar untuk menentukan nasibnya.
“Pelajaran untuk negeri Muslim adalah bahwa dunia tidak netral, kekuatan besar selalu memanfaatkan konflik untuk memperluas pengaruh. Negeri Muslim harus mandiri dan tidak memberi ruang bagi pihak luar untuk menentukan nasib mereka. Dan wilayah negeri Muslim seperti di Timur Tengah, Afrika Utara, dan Asia Selatan sering menjadi arena rivalitas kekuatan besar,” ujarnya kepada media-umat.com, Kamis (11/12/2025).
Budi melihat ada kepentingan Amerika Serikat (AS) dan Cina dalam konflik wilayah perbatasan Thailand-Kamboja tersebut. AS melihat stabilitas wilayah ASEAN sebagai bagian dari kepentingan keamanan regionalnya, termasuk untuk melawan pengaruh Cina yang semakin besar di Asia Tenggara.
Konflik perbatasan yang berkepanjangan atau melebar, jelas Budi, bisa melemahkan ASEAN dan memberi peluang bagi Beijing. Oleh karena itu keterlibatan AS bisa dilihat sebagai upaya mempertahankan pengaruh geopolitik dan ekonomi di kawasan. Misalnya, tekanan tarif bisa menciptakan ketergantungan diplomatik dan memberi AS peran sebagai penegosiasi utama dalam konflik regional.
Sedangkan kepentingan Cina, Budi memandang, Beijing ingin mempertahankan pengaruh dominannya di Indocina dan ASEAN. Konflik ini memberi Cina peluang untuk tampil sebagai mediator “netral” dan memperkuat posisinya sebagai kekuatan stabil di kawasan.
Secara tidak langsung, jelas Budi, kepentingan ekonomi Cina juga terlibat. Pasalnya, kawasan ASEAN adalah jalur penting dalam Inisiatif Belt and Road, serta hubungan perdagangan dan supply chain yang berhubungan dengan Tiongkok.
“Dan konflik yang berkepanjangan bisa berdampak pada konektivitas ekonomi, sehingga Beijing berkepentingan agar konflik tidak meluas lebih jauh,” terangnya.
Empat Pelajaran
Budi menilai, setidaknya ada empat pelajaran yang bisa diambil para penguasa negeri Muslim khususnya dan kaum Muslim umumnya.
Pertama, konflik kecil dapat membesar jika negara tidak solid secara politik dan pertahanan. Konflik Thailand–Kamboja memperlihatkan bahwa sengketa lokal bisa berubah menjadi konflik regional bila negara tidak memiliki mekanisme penyelesaian yang kuat. Sehingga ketegangan perbatasan mudah dieksploitasi oleh pihak luar yang berkepentingan.
Menurut Budi, di dunia Islam, banyak negara Muslim berbatasan dengan wilayah yang rawan konflik, yakni Kashmir, Sudan, Yaman, Libya, Suriah, Maghreb. Tanpa stabilitas politik, koordinasi regional, dan pengelolaan sengketa yang baik, konflik kecil mudah meledak dan memicu intervensi asing.
Kedua, keterlibatan kekuatan besar (AS & Cina) adalah pola lama. Siapa lemah, akan “diatur”. Dalam konflik Thailand–Kamboja, AS dan Cina tidak berperang, tetapi memengaruhi, menekan, dan memediasi dengan tujuan menjaga kepentingan masing-masing. Ketika dua negara kecil bertikai, kekuatan besar otomatis masuk untuk “mengatur”.
Ketiga, pentingnya persatuan dunia Islam, dan ini adalah sesuatu yang lemah di dunia Islam. Budi mengungkapkan, meskipun negara-negara Muslim memiliki OKI, tetapi organisasi ini paling sering dinilai tidak efektif dalam konflik internal umat. Maka ketika terjadi konflik sesama negara Muslim, hal ini akan terus dimanfaatkan oleh pihak luar.
Keempat, umat Islam harus melek geopolitik, bukan hanya reaktif. Budi menyebut, konflik Thailand–Kamboja ini menunjukkan bahwa politik internasional adalah jaringan kepentingan, bukan soal “siapa benar”. Narasi, propaganda, diplomasi, ekonomi semuanya memainkan peran.
“Di sinilah kesadaran politik umat Islam harus dibangun dengan kesadaran yang benar yang bersumber dari Islam,” pungkasnya.[] Agung Sumartono
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat