Pasukan Berani Mati Jokowi, Pamong Institute: Butuh Diluruskan!

Meidaumat.info – Menyikapi viralnya pemberitaan tentang keberadaan Pasukan Berani Mati Jokowi, Direktur Pamong Institute Wahyudi al-Maroky menilai, keberadaan pasukan itu butuh diluruskan.

“Kalau sekadar bela Jokowi dan keluarganya saya pikir tidak ada dalam ajaran agama mana pun bahwa kematiannya akan mendapatkan kemuliaan. Nah, ini menurut saya perlu ditimbang lagi dan butuh diluruskan!” ungkapnya di Kabar Petang: Pasukan Berani Mati Bela Jokowi Sulut Kekisruhan? melalui kanal YouTube Khilafah News, Rabu (18/9/2024).

Ia melanjutkan, kalau membela sampai berani mati itu seharusnya membela agama [Islam] sehingga kalau mati, matinya menjadi bermakna dan bisa mendapat kemuliaan di akhirat yaitu mendapatkan surga karena mati syahid.

“Pak Jokowi, yang namanya disebut sebagai dasar dibentuknya pasukan itu, seharusnya bereaksi dan menegaskan supaya tidak usah melakukan gerakan yang sebenarnya tidak urgen bagi kehidupan berbangsa dan bernegara,” ucapnya memberikan saran.

Motif Kekuasaan

Dalam penilaian Wahyudi, gerakan semacam ini lahir dari sistem kapitalisme yang motifnya tidak jauh dari motif kekuasaan untuk meraih akses ekonomi dan akses kekayaan.

“Dengan akses ekonomi akan mudah mendapatkan kekayaan entah melalui akses proyek, akses tambang, atau akses izin. Jadi motifnya, motif politik agar dekat dengan kekuasaan. Setelah dekat dengan kekuasaan akan mendapatkan akses ekonomi. Tidak ada motif agama maupun ideologi di situ,” ulasnya.

Ia menduga, bisa jadi ini bagian dari proposal kepada penguasa setelahnya dalam rangka membentuk imej bahwa orang yang sudah akan berakhir masa jabatannya saja dibela sampai berani mati, apalagi kekuasaan yang baru akan berjalan.

“Saya pikir ini tawaran menarik bagi penguasa berikutnya,” cetusnya.

Model seperti ini, lanjutnya, merupakan ciri politik oportunis yang lahir dari sistem politik sekuler.

“Dia akan merapat kepada kekuasaan dan menerima tawaran kekuasaan yang punya akses-akses ekonomi lebih dekat. Dengan akses kekuasaan, akses ekonomi bisa lebih dekat dan bisa dinikmati,” kritiknya.

Dalam pandangan Wahyudi, sikap oportunis ini juga menjangkiti semua partai politik yang ada di Indonesia.

“Partai yang agak ideologis pada awalnya kemudian mengorbankan ideologinya, bergabung bersama partai sekuler lainnya membentuk Koalisi Indonesia Maju. Tidak bisa dibedakan lagi mana partai ideologis, mana partai pragmatis,” ulasnya.

Ia menyesalkan, politisi sekuler ini mendidik para konstituennya menjadi sangat oportunistis, sehingga tidak ditemukan karakter ideologis, semua urusannya pragmatis, ukurannya mendapat kekuasaan dan benefit ekonomi.

Memecah Belah

Menurut Wahyudi, keberadaan Pasukan Berani Mati ini akan membahayakan dan mengancam persatuan, memecah belah anak bangsa yang ujung-ujungnya bisa membuat saling berhadap-hadapan sesama anak bangsa.

“Ini bisa menimbulkan korban jiwa karena targetnya berani mati,” tukasnya.

Kalau itu yang terjadi, ucap Wahyudi, maka para penguasa akan menikmati kekuasaannya dengan nyaman sambil menikmati kekayaan alam dan aset-aset ekonomi yang ada, sembari menonton sesama anak bangsa berebut, yang satu membela kekuasaan, yang satu mengkritisi kekuasaan.

“Ini, bukan hanya memperkeruh kehidupan politik dan merenggangkan serta mengancam persatuan, bahkan potensial memecah belah anak bangsa dan potensial mengorbankan nyawa anak bangsa ini,” khawatirnya.

Oleh karena itu, Wahyudi mendorong pihak berwenang untuk menyikapi situasi ini dengan cepat agar tidak terjadi korban lebih jauh.

“Jangan biarkan negeri ini terpecah belah dan sesama anak bangsa saling berhadapan, sementara asing dan aseng bisa menikmati kekayaan alam dengan leluasa,” pungkasnya. [] Irianti Aminatun

Dapatkan update berita terbaru melalui channel Whatsapp Mediaumat

 

Share artikel ini: