Menteri Luar Negeri dan Wakil Perdana Menteri Ishaq Dar mengecam keras insiden di mana Kepala Menteri Bihar Nitish Kumar menarik jilbab seorang wanita Muslim, Nusrat Parveen, di sebuah acara pemerintah, menyebutnya “sangat mengganggu”. Dar menggambarkan insiden itu sebagai hal yang memalukan, dan mengatakan bahwa hal itu menyoroti kebutuhan mendesak untuk melindungi hak-hak minoritas dan mengekang gelombang Islamofobia yang meningkat (tribune.com.pk, 18/12/2025).
Ini bukan insiden pertama di India di mana seorang wanita Muslim dilecehkan dan tidak dihormati. Sejak berdirinya India pada tahun 1947, penguasa Hindu di India tidak pernah menghargai kehidupan, harta benda, dan kehormatan kaum Muslim yang hidup di bawah kekuasaan mereka. Sejak tahun 1950, setidaknya sepuluh ribu kaum Muslim telah kehilangan nyawa mereka dalam kerusuhan komunal, yang sering terjadi dengan persetujuan penguasa Hindu, tanpa memandang partai politik mana pun mereka berasal. Dalam kerusuhan Gujarat tahun 2002, massa Hindu memperkosa, menjarah, dan membunuh dalam aksi kekerasan yang berlangsung selama lebih dari dua bulan. Perempuan dimutilasi, anak-anak dibakar hidup-hidup, dan ayah dipotong-potong. Sekitar 1.000 orang, sebagian besar Muslim, tewas. Sekitar 20.000 rumah juga bisnis Muslim serta 360 tempat ibadah hancur, dan sekitar 150.000 orang mengungsi. Pada tahun 1992, massa Hindu menghancurkan Masjid Babri yang bersejarah, dan pada Januari 2024, Jagal Gujarat, yang sekarang menjadi Perdana Menteri India, meresmikan kuil yang dibangun di atas reruntuhan Masjid Babri.
Pemukulan dan pembunuhan terhadap pria Muslim dengan tuduhan menyembelih sapi telah menjadi fenomena umum. Namun, kini eskalasi terhadap Muslim di India telah mencapai tingkat yang baru. Mereka secara langsung menyerang kehormatan wanita Muslim dengan merobek abaya (pakaian luar yang longgar) atau khimar (kerudung) mereka. Hal yang paling disayangkan dari sikap agresif negara Hindu ini adalah bahwa setiap kali insiden seperti itu terjadi, para penguasa Pakistan, yang memiliki angkatan bersenjata terkuat di dunia Muslim, yang dilengkapi dengan persenjataan nuklir, hanya mengutuk tindakan tersebut dan meminta komunitas internasional untuk meminta pertanggungjawaban negara Hindu. Namun, mereka tidak pernah mengambil tanggung jawab untuk memberi pelajaran kepada negara Hindu agar tidak berani melakukannya lagi.
Apa alasan di balik tindakan memalukan Pakistan ini? Apakah Pakistan tidak mengetahui pentingnya melindungi kehormatan perempuan? Atau apakah Pakistan tidak menganggap dirinya bertanggung jawab untuk mencegah agresi semacam itu, karena tanggung jawabnya hanyalah melindungi orang-orang yang tinggal di dalam wilayah Pakistan saja?
Dalam Islam, kehormatan seorang wanita harus dilindungi dengan segala cara. Pada masa Rasulullah saw, seorang wanita Muslim mengunjungi pasar Bani Qaynuqa (suku Yahudi) di Madinah. Seorang tukang emas Yahudi menyematkan gaunnya ke punggungnya, sehingga kakinya terlihat ketika ia berdiri, yang menyebabkan tawa dari para pria Yahudi yang hadir. Wanita itu berteriak, menarik perhatian seorang pria Muslim yang kemudian membunuh tukang emas itu sebagai pembalasan. Kemudian orang-orang Yahudi menyerang Muslim itu dan membunuhnya. Rasulullah saw mengepung Bani Qaynuqa selama lima belas hari hingga mereka tunduk pada keputusannya, dan beliau memaksa mereka untuk menyerah serta mengusir mereka dari Madinah Al-Munawwarah.
Teladan Rasulullah saw menetapkan standar untuk melindungi kehormatan wanita. Karena standar ini, gubernur Irak di bawah Khalifah Umayyah, Hajjaj bin Yusuf, memerintahkan Muhammad bin al-Qasim untuk menyerang Sindh dan menyelamatkan wanita Muslim yang ditawan oleh bajak laut Raja Dahir. Pertempuran terjadi pada tahun 712 M, yang mengakibatkan kekalahan dan kematian Dahir, serta pembebasan para tawanan. Sesuai dengan standar yang ditetapkan oleh Rasulullah saw juga, Khalifah Abbasiyah, Al-Mu’tasim mengirimkan pasukan untuk membebaskan seorang wanita yang memohon pertolongannya ketika ia ditawan oleh bangsa Romawi.
Kondisi Pakistan saat ini tidak didasarkan pada akidah Islam yang mewajibkan perlindungan kehormatan wanita Muslim. Dalam banyak kesempatan, kepemimpinan politik dan militer Pakistan menyatakan bahwa angkatan bersenjata Pakistan hanya bertugas melindungi rakyat yang tinggal di dalam Pakistan. Inilah alasan utama mengapa, meskipun terjadi permusuhan tanpa henti terhadap Muslim, baik di negara Hindu, di Kashmir yang diduduki, maupun di Palestina, para penguasa Pakistan tidak merasa berkewajiban untuk menanggapi seruan dan permohonan mereka untuk bantuan, penyelamatan, dan pembebasan.
Konsep negara bangsa menghalangi kita untuk mematuhi dan terikat sepenuhnya terhadap perintah Allah SWT dan Sunnah Rasulullah saw terkait perlindungan perempuan Muslim. Oleh karena itu, kaum Muslim Pakistan harus bergabung dalam perjuangan Hizbut Tahrir untuk mendirikan Khilafah, yang akan menanggapi seruan perempuan Muslim yang tertindas di India dan Kashmir yang diduduki serta memenuhi nubuat Rasulullah saw tentang gazwah al-Hind (serangan terhadap India). Diriwayatkan oleh Tsauban, budak yang dimerdekakan (maula) oleh Rasulullah saw, bahwa Rasulullah saw bersabda:
«عِصَابَتَانِ مِنْ أُمَّتِي أَحْرَزَهُمَا اللَّهُ مِنَ النَّارِ؛ عِصَابَةٌ تَغْزُو الْهِنْدَ، وَعِصَابَةٌ تَكُونُ مَعَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ عَلَيْهِمَا السَّلاَمُ«
“Ada dua golongan umatku yang akan Allah bebaskan keduanya dari api neraka: golongan yang menyerang India, dan golongan yang akan bersama Isa bin Maryam ‘alaihimā as-salām.” [] Syahzad Syaikh – Wilayah Pakistan
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 23/12/2025.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat