Muslim ke Cenayang karena Lemah Iman

MediaUmat Iskandar Yadi Hasibuan dari Himayah Konsultan menyatakan Al-Qur’an menyebutkan manusia ingin kenyang dan aman, tapi yang lemah imannya malah ke cenayang (peramal) untuk mengatasi takut dan lapar.

“Apa yang bisa dilakukannya untuk kemudian menghilangkan rasa takut itu. Datanglah kemudian mereka kepada para peramal. Karena apa? Lemahnya iman,” katanya dalam Kabar Petang: Hard Gumay, Nostradamus Hingga Baba Vanga | Why Ramalan Banyak Dicari Netizen? di kanal YouTube Khilafah News, Selasa (30/12/2025).

Menurut Iskandar, dunia ramal-meramal dan peramal sudah dikenal sejak berabad-abad yang lalu, bahkan sebelum masa jahiliah. Dalam bahasa Arab, dikenal dengan sebutan kahin (peramal) atau munajib.

“Jadi itu sudah jauh-jauh berabad-abad yang lalu, ini sudah dikenal. Pada masa jahiliah, bahkan sebelum masa jahiliah, dalam bahasa Arab itu dikenal dengan kahin. Kahin itu peramal. Ada juga al-araf. Jadi araf itu adalah yang bisa meramal nasib. Kemudian disebut dengan munajib,” terang Iskandar.

Menurutnya, salah satu faktor lemahnya iman adalah kurangnya ilmu. Walhasil, membuat banyak orang yang sudah shalat tetap percaya dengan hal-hal mistis dan ramalan, misalnya kupu-kupu masuk rumah sebagai pertanda kedatangan tamu.

“Kenapa orang lemah akidahnya? Kenapa lemah imannya? Karena tadi tidak ada ilmu. Sehingga apa? Kita menemukan banyak orang shalat tapi kemudian masih percaya dengan tanda-tanda tadi,” urai Hasibuan.

Kurangnya ilmu kemudian berpadu dengan mitos turun-temurun, menurut Iskandar menjadi faktor terbesar yang membuat orang masih percaya pada ramalan dan mistis di zaman modern.

“Tidak bisa dipungkiri. Ini juga faktor terbesar. Bahwa adanya turun-temurun. Atau kita bilang budaya yang salah. Yang dibangun dengan mitos-mitos. Jadi kan kadang anak-anak itu kan tergantung orang tuanya,” jelas Iskandar.

Menurutnya, di sinilah perlunya memutus rantai mitos yang turun-temurun (dari orang tua ke anak, cucu, cicit, dan seterusnya) dengan cara mengedukasi umat.

“Dan tidak ada yang memutus rantai kesalahan ini. Rantai apa? Kalau kita bilang rantai kekeliruan ini. Mitos itu tadi. Jadi artinya, di situlah kemudian kita harus pahami. Kenapa pentingnya kita mengedukasi umat,” pungkasnya.[] Imam Wahyono

 Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: