MSPI: Tokoh Umat Jangan Terlena Narasi “Umat Sejuk” Prabowo
MediaUmat – Terkait pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang mengatakan ‘umat Muslim di Indonesia jadi contoh situasi yang sejuk dan mengutamakan perdamaian’ dalam acara pengukuhan pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2025-2030 di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (7/2), Peneliti Masyarakat sosial Politik Indonesia (MSPI) Dr. Riyan mengingatkan tokoh umat agar tidak terlena dan kelu lidah untuk mengoreksi kebijakan rezim.
“Tokoh umat jangan sampai terlena dan merasa kelu lidah ketika harus mengingatkan dan melakukan koreksi atas berbagai kebijakan yang dibuat Presiden Prabowo. Di antaranya misalnya kesejukan karakter umat, tidak berarti umat dan rakyat hanya menjadi objek semata karena enggan menolak bila ada kebijakan yang bertentangan dengan Islam,” ungkapnya kepada media-umat.com, Selasa (10/2/2026).
Salah satu kebijakan yang dimaksud adalah masuknya Indonesia ke Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) buatan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Menurut Riyan, kebijakan tersebut bentuk kezaliman dan menilai lembaga tersebut adalah alat penjajahan model baru atas Palestina.
“Kita dan tokoh umat harus dengan tegas menolaknya. Bukan menjadi lemah atau menjadi legitimasi atas kebijakan tersebut. Buktikan bahwa kesejukan tidak berarti identik dengan sikap lembek. Tapi tegas menolak alat penjajahan (BoP) dan tidak terjebak dalam jebakan politik musuh,” ujarnya.
Ketika bicara karakter perdamaian, Riyan mengatakan, sikap yang harus ditampilkan bahwa perdamaian adalah penting tapi lebih penting darinya adalah kemerdekaan.
“Sehingga kita tidak membiarkan kebijakan Presiden Indonesia yang malah mendukung konsep dua negara (two state solution) atas nasib saudara kita di Palestina. Mendukung kemerdekaan Palestina maknanya mengusir entitas Yahudi Zionis pro genosida keluar dari tanah Palestina seluruhnya. Bukan perdamaian yang semu, omon-omon hanya dalam retorika. Perdamaian itu bermakna tegas kepada penjajah entitas Yahudi untuk tidak mengakui (recognize), menghormati (respect), apalagi menjamin (guarantee) eksistensi dan keamanannya, sebagaimana retorika menyakitkan dari Presiden Prabowo di Sidang Umum PBB tahun 2025 lalu,” kata Riyan.
Riyan menilai, kalau ingin menjadi teladan untuk bangsa lain yang terutama yang mayoritas Muslim, maka harusnya Prabowo mencontoh keunggulan Khilafah Utsmaniyah, yang membuat rakyatnya makmur dan itu dengan mengajak rakyat Indonesia untuk menerapkan syariah Islam kaffah agar berbagai masalah bangsa bisa tuntas.
“Kemudian untuk berperan di tingkat global, termasuk dalam isu pembebasan Palestina, maka tawarkanlah jihad fi sabilillah, menggerakkan seluruh tentara Muslim mengusir entitas Yahudi Zionis pro genosida,” pungkasnya.[] Achmad Mu’it
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat