MSPI: Kebijakan Pendidikan Indonesia Terseret Logika Pasar

MediaUmat Pengamat Politik MSPI (Masyarakat Sosial Politik Indonesia) Dr. Riyan, M.Ag. mengungkapkan kebijakan pendidikan Indonesia terseret dalam logika pasar.

“Dengan sangat prihatin, saya harus mengatakan, justru yang dominan sekarang itu kita (kebijakan pendidikan) terseret ke dalam logika pasar,” ulasnya dalam Kabar Petang: Kampus Negeri Rasa Perusahaan? di kanal YouTube Khilafah News, Jumat (14/11/2025).

Jadi, jelasnya, seolah-olah lulusan sarjana harus match dengan jurusan yang diambil.

“Dulu ada istilah link and match (menghubungkan dan menyesuaikan) ya, banyak istilahnya itu banyak kritik pada waktu itu. Link-nya itu ke mana, match-nya itu ke mana,” cetusnya.

Padahal, lanjutnya, realitasnya ada 1,01 juta sarjana jadi pengangguran.

Artinya, tegasnya, ketika masuk perguruan tinggi dengan biaya yang relatif mahal, tidak menjamin ketika lulus akan menghasilkan orang yang bisa diserap di dalam pekerjaan sesuai dengan bidangnya.

Sebenarnya, sambugnya, ini menjadi sebuah kritik bagi dunia pendidikan.

“Apakah mereka itu sekadar lulus? Karena ketika mereka lulus itu kan mereka bukan hanya sekadar bisa bekerja atau siap dipakai oleh dunia kerja,” ujarnya.

Padahal sebenarnya, jelas Riyan, hakikat lulusan di perguruan tinggi itu harus sesuai dengan nilai-nilai dasar punya kepribadian baik dan secara keilmuan itu sesuai bidangnya, serta menjadi modal dasar untuk melakukan berbagai kemandirian menciptakan lapangan kerja.

“Sehingga dia nanti akan menjadi pemimpin-pemimpin peradaban, bukan hanya sekadar menjadi sekrup-sekrup industri,” ujarnya.

Makanya, cetus Riyan, negara harus hadir sebagai penyelenggara pendidikan bukan membebankan kepada universitas, sehingga muncul istilah corporate culture (budaya perusahaan) atau istilah dalam pemerintahan itu reinventing government (reformasi pemerintahan).

“Seperti yang disampaikan, Dekan ideal harus punya corporate culture. Itu kan bahasa-bahasa perusahaan yang akhirnya dibawa ke perguruan tinggi,” kritiknya.

“Akhirnya justru mengarah kepada swastanisasi bahkan lebih konkret lagi itu adalah komersialisasi perguruan tinggi atau hilangnya peran negara,” imbuhnya.

Menurutnya, sudah saatnya negeri ini kembali kepada ruh pendidikan yang sehat lahir batin dan memiliki skill (keterampilan) yang tinggi dengan dasar akidah Islam yang kokoh.

“Sekali lagi, saya ingin tegaskan bahwa tujuan pendidikan ya itu adalah untuk menghasilkan pribadi-pribadi yang berkepribadian Islam yang tinggi dan menguasai teknologi,” tutupnya.[] Novita Ratnasari

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: