MediaUmat – Dari peristiwa Amerika Serikat mengagregasi kekuatan dunia melalui Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) untuk Gaza bentukan Presiden AS Donald Trump, menurut Direktur Mufakkirun Siyasiyyun Community (MSC) Muhammad Ayyubi, kaum Muslim bisa mengambil pelajaran penting urgensinya kepemimpinan tunggal universal.
“Dari peristiwa AS yang mengagregasi kekuatan dunia di bawah kakinya (BoP) kita bisa mengambil pelajaran penting dalam konstelasi politik internasional, yakni urgensi kepemimpinan tunggal Universal,” tuturnya kepada media-umat.com, Kamis (29/1/2026).
Kepemimpinan tunggal universal yang dimaksudnya adalah khilafah.
“Umat Islam akan menjadi kekuatan dunia jika disatukan dalam khilafah. Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum Muslimin di dunia untuk menerapkan syariat Islam secara kaffah dan menyebarkan ke seluruh dunia dengan dakwah dan jihad,” ungkapnya.
Menurutnya, umat Islam dengan potensi yang melimpah, baik dalam jumlah penduduk, luas wilayah, kekuatan militer, SDA hingga persamaan agama, sebenarnya mampu menandingi kekuatan AS dan sekutunya.
Kemudian, lanjutnya, khilafah akan menghimpun kekuatan kaum Muslim di mana saja mereka berada, sehingga kaum Muslim tidak hanya sekadar menjadi penonton tetapi menjadi pemain.
“Problem Palestina akan segera diatasi, pasukan jihad kaum Muslimin akan mengusir penjajah Isreal dari sana. Bukan hanya itu, mereka akan menaklukkan AS hingga memaksa mereka untuk membayar jizyah kepada Khilafah,” paparnya.
Ia berharap, umat segera sadar akan potensinya, jangan mau menjadi kaki tangan dan antek-antek asing AS dan Israel.
Sebab, sebut Ayyubi, AS tidak hanya menghegemoni negara-negara satelitnya secara de jure tetapi juga de facto. Mereka semua tunduk dan takluk di bawah kaki AS.
“Proyek perdamaian yang digagas pun semuanya berasal dari AS, negara anggota hanya menjadi stempel kebijakan tersebut,” ulasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ayyubi juga menyampaikan, BoP bertujuan untuk meneguhkan posisi AS selama ini yang hanya bergerak sendiri, selain itu untuk membangun kepercayaan dunia internasional, karena legitimasinya sudah mulai melemah.
“Oleh karena itulah, dia melakukan manuver politik internasional dengan menggandeng negara satelitnya untuk sama-sama menuntaskan penjajahan atas Palestina,” pungkasnya.[] Novita Ratnasari
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat