Mengapa Trump Berani Menyerang Venezuela dan Mengancam Negara Lain?

 Mengapa Trump Berani Menyerang Venezuela dan Mengancam Negara Lain?

Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, mengatakan: “Mengupayakan hubungan internasional yang seimbang dan saling menghormati antara Amerika Serikat dan Venezuela adalah prioritas kami. Kami menegaskan kembali komitmen kami terhadap perdamaian dan hidup berdampingan secara damai serta bercita-cita untuk hidup bebas dari ancaman eksternal. Saya katakan kepada Presiden Trump bahwa rakyat kami dan kawasan kami layak mendapatkan perdamaian dan dialog, bukan perang.” (Televisi Venezuela, 4 Januari 2026).

Ini adalah pertemuan pertama pemerintah negaranya setelah Amerika melancarkan agresi terhadap negaranya dan menculik presidennya, Maduro, pada 3 Januari 2026, dan kemudian membawanya ke Amerika untuk diadili atas tuduhan perdagangan narkoba, yang telah berulang kali dibantah oleh Maduro.

Namun Amerika menggunakan ini sebagai dalih untuk mendominasi Venezuela dan sumber dayanya, seperti yang dikonfirmasi Trump ketika dia mengatakan, “Tujuan Amerika adalah akses penuh ke minyak dan sumber daya Venezuela lainnya.” Dia menambahkan, “Ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan di Venezuela, dan perusahaan minyak besar Amerika akan mulai berinvestasi miliaran dolar.” Dia juga menyatakan, “Amerika berhak menggunakan minyak Venezuela dengan cara apa pun yang dianggapnya tepat.”

Ia kembali melancarkan ancaman kepada pemerintah Venezuela, dengan mengatakan: “Kamilah yang memimpin Venezuela. Jika mereka tidak patuh, kami akan melakukan serangan kedua.” Ia juga mengancam presiden sementara Venezuela, Rodriguez, dengan mengatakan: “Dia akan menanggung akibatnya jika dia tidak melakukan hal yang benar” seperti yang diinginkan Amerika yang tidak adil (Al Jazeera Net dan Anadolu Agency, 5/1/2025).

Ia mengulangi klaimnya bahwa ia telah melancarkan agresi terhadap Venezuela untuk mencuri minyaknya, dengan menyatakan pada 7 Januari 2016: “Venezuela yang sedang dikenai sanksi akan mengirimkan antara 30 dan 50 juta barel minyak ke Amerika Serikat.” Trump juga mengancam negara-negara lain, dengan mengatakan, “Venezuela mungkin bukan negara terakhir yang menjadi sasaran intervensi Amerika Serikat.”

Dengan demikian, Amerika menegaskan bahwa tujuannya murni kolonial, yaitu merebut kekayaan minyak, mineral, dan sumber daya lainnya dari Venezuela, serta mengancam negara-negara di Amerika Selatan seperti Kolombia dan Kuba, juga Denmark, di mana Amerika ingin merebut pulau Greenland. Trump mengulangi ancamannya pada 4/1/2026 setelah wartawan bertanya kepadanya apakah tujuan keduanya adalah Greenland, ia mengatakan: “Kita benar-benar membutuhkan Greenland. Kita membutuhkannya untuk keamanan kita”, karena pentingnya pulau itu terletak pada kekayaan mineralnya dan lokasi geografisnya di titik pertemuan Samudra Atlantik Utara dan Arktik.

Keberanian Trump dalam menyerang Venezuela dan mengancam akan menyerang negara lain diperparah oleh sikap pengecut dan tunduk negara-negara lain, yang gagal mengambil tindakan tegas untuk menghentikannya. Hal ini semakin diperburuk oleh pengkhianatan dan kebejatan para penguasa Muslim yang memuji dan menyanjungnya, bahkan menggambarkannya sebagai seorang yang membawa perdamaian, padahal Trump adalah pendukung perang genosida yang dilakukan entitas ilegal Yahudi di Gaza, bahkan ia mengungkap rencananya untuk mengendalikan dan mendikte pemerintahan, serta yang akan menentukan masa depannya  dan nasibnya (hizb-ut-tahrir.info, 7/1/2026).

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *