Kami menyapa Anda semua, wahai para pendengar tercinta di mana pun Anda berada, dalam episode baru dari program Anda: “Ma’al Hadits Syarif”. Kita mulai dengan salam penghormatan terbaik: Assalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Allah SWT berfirman:
{يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُواْ عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لاَ يَضُرُّكُمْ مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهْتَدَيْتُمْ إِلَى ٱللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعاً فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ}
“Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Al-Ma’idah: 105)
Abu Bakar RA berkata dalam hadis yang masyhur dalam kitab-kitab Sunan:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّكُمْ تَقْرَءُونَ هَذِهِ الْآيَةَ {يٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ آمَنُواْ عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لاَ يَضُرُّكُمْ مَّن ضَلَّ إِذَا ٱهْتَدَيْتُمْ إِلَى ٱللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعاً فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ} وَإِنَّا سَمِعْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: “إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الْمُنْكَرَ لَا يُغَيِّرُونَهُ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمْ اللَّهُ بِعِقَابِهِ
“Wahai manusia, sesungguhnya kalian membaca ayat ini: {Wahai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk…} Padahal kami mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Sesungguhnya manusia, jika mereka melihat kemungkaran namun tidak mengubahnya, maka hampir saja Allah meratakan azab-Nya kepada mereka semua’.”
Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Dalam ayat ini terdapat faedah-faedah yang agung:
Pertama: Seorang mukmin tidak perlu takut kepada orang-orang kafir dan munafik, karena mereka tidak akan membahayakannya jika ia telah mendapat petunjuk.
Kedua: Tidak perlu bersedih atau gelisah atas mereka, karena kemaksiatan mereka tidak membahayakannya jika ia telah mendapat petunjuk. Bersedih atas sesuatu yang tidak membahayakan adalah kesia-siaan. Kedua makna ini disebutkan dalam firman Allah:
{وَٱصْبِرْ وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِٱللَّهِ وَلاَ تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلاَ تَكُ فِي ضَيْقٍ مِّمَّا يَمْكُرُونَ}
“Bersabarlah (muhammad) dan kesabaranmu itu semata-mata dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap tipu daya yang mereka rencanakan.”
Ketiga: Tidak cenderung (bergantung) kepada mereka dan tidak silau terhadap apa yang diberikan kepada mereka berupa kekuasaan, harta, dan syahwat.
Keempat: Tidak melampaui batas terhadap pelaku maksiat melebihi apa yang disyariatkan dalam membenci, mencela, melarang, menjauhi, atau menghukum mereka. Sebab, banyak orang yang memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran justru melampaui batas Allah, baik karena kebodohan maupun kezaliman. Hal ini harus dipastikan kebenarannya, baik dalam mengingkari orang kafir, munafik, fasik, maupun pelaku maksiat.
Kelima: Melaksanakan amar makruf nahi mungkar sesuai dengan cara yang disyariatkan, yaitu berlandaskan ilmu, kelembutan, kesabaran, niat yang baik, dan menempuh jalan yang lurus.
Inilah lima poin yang dapat dipetik dari ayat tersebut bagi siapa saja yang mengemban tugas amar makruf nahi mungkar.”
Para pendengar yang mulia,
Sesungguhnya setiap orang yang mengemban dakwah kepada Allah harus memahami ushul (dasar-dasar) dakwah serta ushul amar makruf nahi mungkar. Ia harus mengambil dasar-dasar tersebut dari Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya, Muhammad SAW. Hendaknya ia berkomitmen pada metode (thariqah) Rasulullah SAW dalam mengemban dakwah dan tidak menyimpang darinya, karena metode tersebut adalah wahyu dari Allah SWT.
Metode tersebut telah mewajibkan pembinaan (tsaqafah) dengan akidah dan hukum Islam, berinteraksi dengan masyarakat melalui pergolakan pemikiran (shira’ul fikri) dan perjuangan politik (kifah siyasi), serta mencari dukungan (thalabun nushrah) untuk mengambil tampuk kekuasaan guna menegakkan hukum Allah dengan berdirinya Daulah Islam.
Ya Allah, berikanlah taufik kepada para pejuang yang meniti jalan Nabi-Mu untuk menegakkan hukum Allah di muka bumi dengan mendirikan Khilafah yang kedua berdasarkan manhaj kenabian.
Para pendengar yang mulia,
Sampai kita berjumpa lagi dengan hadis nabawi lainnya, kami tinggalkan Anda dalam perlindungan Allah. Wassalamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Sumber: hizb-ut-tahrir.info