Imam Bukhari meriwayatkan dalam Shahīh-nya bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallama bersabda:
«يَأْتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ حُدَثَاءُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ قَتْلَهُمْ أَجْرٌ لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»
“Akan datang pada akhir zaman suatu kaum yang muda usianya dan pemahamannya dangkal. Mereka membaca sebaik-baik bacaan yang dibaca manusia (Al-Qur’an). Mereka keluar dari Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya. Iman mereka tidak melewati tenggorokannya. Dimana saja kalian mendapati mereka, maka bunuhlah, karena membunuh mereka adalah pahala pada hari Kiamat bagi yang membunuhnya.”
Sabdanya shallallahu ‘alaihi wa sallama, “hudatsā’ al-asnān: shighār al-sinni (muda umurnya)”. Sabdanya, “sufahā’ al-ahlām (pemahamannya dangkal)”, yakni mentalitasnya cacat. Sabdanya, “Mereka membaca sebaik-baik bacaan yang dibaca manusia”, yaitu Al-Qur’an, artinya bahwa mereka perkataannya baik, tetapi perbuatannya buruk. Sabdanya, “Mereka keluar dari Islam sebagaimana lepasnya anak panah dari busurnya”, artinya bahwa mereka meninggalkan Islam seperti anak panah meninggalkan busurnya ketika ditembakkan oleh pemanah yang kekar dan terampil. Sabdanya, “Iman mereka tidak melewati tenggorokannya”, artinya bahwa mereka hanya beriman dengan kata-kata (di mulut saja), bukan dengan hati mereka (tidak sampai diyakininya).
**** **** ****
Orang-orang yang ciri-cirinya disebutkan dalam hadits tersebut telah ditemukan di zaman ini, dan ciri-ciri tersebut berlaku untuk semua penguasa zaman kita dan mereka yang mendukungnya. Mereka semakin bertambah dan terus bertambah pengkhianatannya terhadap Islam dan kaum Muslim, serta dalam memberikan pelayanan untuk kolonialisme dan para penjajah, dimana mereka bersekongkol dengan orang-orang kafir untuk membunuh rakyatnya dan menjarah kekayaannya. Mereka tidak mau berpikir, melihat, atau mendengar kecuali apa yang membuat mereka semakin memusuhi Islam dan kaum Muslim.
Mereka adalah simbol ketidakbergunaan, serta lambang dari semua hal yang memalukan dan menghinakan.Mulut mereka mengatakan keimanan, namun perbuatan dan ucapan mereka kafir, fasik dan zalim. Mereka mempercayai kekafiran dan orang-orangnya, sebaliknya mengingkari keimanan dan orang-orangnya. Mereka keluar dari pintu kebenaran dan kemudian masuk ke dalam pintu kebatilan. Mereka berbicara dan berbohong dengannya, mereka berjanji dan mengingkari janjinya, mereka dipercaya dan mengkhianatinya. Mereka tidak membiarkan satu pun hal yang terlarang dan tercela kecuali ia melakukannya, dan kepada kaum kafir semua urusannya dipercayakan dan diserahkannya. Jadi, jika demikian, maka apa yang akan terjadi selanjutnya?
Sungguh pahala besar tengah menanti di balik upaya untuk menyingkirkan mereka, dan semua kebaikan akan dicapai dengan berjuang bersama para pejuang yang tulus penuh tekad terus berjuang siang malam untuk mendirikan negara Khilafah, negara kaum Muslim, yang akan mengakhiri kepemimpinan yang kekanak-kanakan dan pemerintahan yang mengandalkan ketergantungan. Sungguh, hanya Khilafah yang akan mengacungkan pedang ke leher mereka untuk menegakkan keadilan, sehingga dengannya Allah SWT menyembuhkan hati orang-orang yang beriman. []
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 29/1/2026.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat