Laporan Komisi Pilkhana: Menguak Konspirasi India untuk Melemahkan Militer Bangladesh
Dhaka, Bangladesh – Laporan dari Komisi Penyelidikan Independen Nasional yang dibentuk oleh pemerintahan sementara untuk menginvestigasi tragedi pembantaian Pilkhana tahun 2009 telah dirilis. Laporan ini secara eksplisit menunjukkan adanya konspirasi yang didalangi oleh India, melibatkan mantan Perdana Menteri Hasina dan kroni-kroninya, yang bertujuan untuk melemahkan angkatan bersenjata Bangladesh.
Tragedi yang terjadi pada 25–26 Februari 2009 di Markas Besar Bangladesh Rifles (BDR) tersebut mengakibatkan gugurnya 57 perwira militer terbaik negara itu.
Klaim yang Dibuktikan Enam Belas Tahun Kemudian
Dalam siaran persnya, Kantor Media Hizbut Tahrir Wilayah Bangladesh menegaskan bahwa temuan Komisi Penyelidikan ini membenarkan fakta yang telah mereka sampaikan secara terbuka kepada bangsa Bangladesh enam belas tahun lalu.
Hizbut Tahrir adalah pihak pertama yang berani mengungkap tragedi Pilkhana sebagai “konspirasi India untuk menghancurkan tentara dan BDR kita” tak lama setelah insiden tersebut terjadi pada 28 Februari 2009.
“Penyelidikan tersebut membuktikan keterlibatan Hasina dan para kroninya, termasuk Tapas dan lainnya, dalam menjalankan konspirasi India untuk melemahkan angkatan bersenjata negara ini. Kami dengan tegas menuntut hukuman cepat bagi para pelaku kejahatan tersebut serta penetapan India sebagai negara musuh,” demikian pernyataan dari Kantor Media Hizbut Tahrir.
Mereka menambahkan bahwa karena sikap tegas mereka dalam mengidentifikasi konspirator dan membela perwira militer yang dituduh secara zalim, rezim Hasina yang kini telah tumbang memberlakukan pelarangan yang tidak adil terhadap Hizbut Tahrir.
Menyikapi Pemerintahan Sementara dan Pihak Asing
Hizbut Tahrir juga menyoroti peran negara-negara asing dalam investigasi sebelumnya. Mereka menyebut bahwa keterlibatan FBI AS dan Scotland Yard Inggris pada saat itu tidak mengungkap kebenaran karena “Hasina adalah agen Inggris, dan India merupakan anjing penjaga regional bagi kepentingan AS-Inggris di kawasan ini.”
Lebih lanjut, siaran pers tersebut menyerukan kewaspadaan terhadap agenda AS. Dikatakan bahwa AS berupaya menggunakan insiden ini untuk menguasai angkatan bersenjata Bangladesh melalui pelemahan moral militer dan propaganda anti-militer yang didorong oleh agen-agen mereka.
Hizbut Tahrir juga mempertanyakan keputusan pemerintahan sementara saat ini—yang lahir dari Revolusi Juli—yang belum mencabut pelarangan terhadap partai mereka. Mereka memperingatkan rakyat untuk waspada terhadap retorika anti-India dari pihak-pihak pro-Amerika yang dianggap sebagai tipu muslihat politik.
Seruan untuk Penegakan Khilafah
Sebagai penutup, Hizbut Tahrir menyeru seluruh rakyat untuk bersatu di bawah kepemimpinan mereka, meyakini bahwa hanya melalui tegaknya Khilafah ala Minhaj an-Nubuwwah negara ini akan terbebas dari kolonialisme AS-Inggris dan antek-antek regional mereka, seperti India Hindutva.[]