Pada awal Agustus 2026, kantor berita resmi negara Korea Utara, Korean Central News Agency (KCNA), menerbitkan pernyataan militer yang mengecam latihan bersama maritim multinasional, Rim of the Pacific (RIMPAC) yang dipimpin AS sebagai “latihan perang” dan memperingatkan bahwa hal itu akan memperparah ketidakamanan di kawasan Asia-Pasifik.
KCNA berpendapat bahwa peran operasional yang semakin menonjol yang dijalankan oleh Korea Selatan dan Jepang mencerminkan upaya Washington untuk mencapai apa yang disebutnya sebagai “hegemoni militer mutlak” di kawasan, dengan cara melimpahkan tanggung jawab keamanan yang lebih besar kepada kedua sekutu utamanya di Asia.
Pernyataan itu juga memperingatkan bahwa terbentuknya triad antara Amerika, Jepang, dan Korea Selatan telah melampaui garis merah, seraya menggambarkan integrasi militer trilateral sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas kawasan.
Sehari sebelumnya, saat berbicara melalui sambungan video dalam konferensi keamanan regional di Kuala Lumpur, Laksamana Samuel Paparo, komandan Komando Indo-Pasifik AS, menyatakan bahwa “Kami tidak akan membiarkan negara mana pun mendominasi kawasan ini.” Ia menegaskan bahwa AS berupaya menjaga kebebasan navigasi, hukum internasional, dan hak-hak berdaulat negara-negara di kawasan. Kebijakan AS ini patut dipahami sebagai respons tegas terhadap China yang kian meningkat pengaruhnya di bidang militer dan ekonomi, serta kekhawatiran AS akan hilangnya cengkeraman mereka atas China (hizb-ut-tahrir.info, 7/8/2026).
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat