Pengunggahan peta negara tanpa Dataran Tinggi Golan oleh Kementerian Luar Negeri Suriah di platform X memicu kontroversi. Para blogger menuduh pemerintah Damaskus menyerahkan Dataran Tinggi Golan kepada pendudukan, sementara yang lain menganggap penghilangan tersebut hanya sebagai “kesalahan penggambaran” semata.
Presiden Suriah Ahmad al-Syara’ telah berulang kali menyatakan bahwa Dataran Tinggi Golan adalah wilayah pendudukan. Ia mengunggah video dari lereng Gunung Qasiun, dan mengatakan: “Hari ini menandai hari pertama Suriah tanpa sanksi, berkat karunia Allah dan juga berkat dari upaya dan kesabaran rakyat Suriah, yang telah berlangsung selama 14 tahun.” Tweet tersebut berbunyi: “Suriah tanpa Undang-Undang Caesar.”
Dalam cuitan pertamanya, Ahmad al-Syara’ mengucapkan selamat kepada rakyat Suriah atas pencabutan Undang-Undang Caesar di negara tersebut, menjanjikan masa depan baru bagi Suriah, dan menekankan pentingnya bergerak maju “bergandengan tangan menuju masa depan yang layak bagi rakyat Suriah dan tanah air mereka.” Ia juga mengucapkan terima kasih kepada Presiden AS Donald Trump, Putra Mahkota Saudi Muhammad bin Salman, serta Turki dan Qatar.
Kepemimpinan Ahmad al-Syara’ telah menyerah dan menerima pendudukan Yahudi atas Dataran Tinggi Golan sebagai fait accompli (kenyataan yang tak dapat diubah). Pertemuan dan komunikasinya dengan Rusia di Moskow dan tempat lain, serta keterlibatannya dalam proses normalisasi, adalah bukti nyata dari hal ini. Sekarang hanya masalah waktu sebelum rakyat Suriah dijinakkan dan dipaksa untuk menerima pengkhianatan normalisasi dan pendudukan. Bocornya peta-peta itu hanyalah test the water, cara untuk mempersiapkan lahan dan mengukur opini publik, karena upaya sedang dilakukan untuk mempersiapkan opini publik Suriah terhadap pengkhianatan ini.
Selama para penguasa boneka yang khianat di negeri-negeri Muslim, termasuk penguasa Suriah, tetap tidak bertindak terkait kejahatan, pembantaian, dan pendudukan entitas Yahudi, baik di Gaza dan Tepi Barat maupun di Suriah dan Lebanon, maka entitas vampir ini akan terus melakukan pelanggaran dan mendatangkan malapetaka di setiap jengkal negeri-negeri Muslim dan di Palestina, sesuka hatinya.
Kenyataannya adalah bahwa orang Yahudi adalah makhluk ciptaan Allah yang paling pengecut, dan mereka bukanlah ahli perang atau prajurit sejati. Keberanian dan kenekatan mereka hanyalah hasil dari pengkhianatan, kepengecutan, dan kepatuhan para penguasa Muslim yang khianat, serta kesetiaan mereka kepada tuan mereka di Amerika. Sebaliknya, sebagaimana yang telah Allah SWT sampaikan kepada kita tentang mereka dalam Kitab Suci-Nya, bahwa orang Yahudi adalah kaum yang pada dasarnya pengecut dan penakut, sungguh rasa takut tertanam dalam jiwa mereka seolah-olah itu adalah bagian dari sifat dan esensi mereka.
﴿لَا يُقَاتِلُونَكُمْ جَمِيعاً إِلَّا فِي قُرًى مُّحَصَّنَةٍ أَوْ مِن وَرَاءِ جُدُرٍ﴾
“Mereka tidak akan memerangi kamu (secara) bersama-sama, kecuali di negeri-negeri yang berbenteng atau di balik tembok.” (TQS. Al-Hasyr [59] : 14). (hizb-ut-tahrir.info, 22/12/2025).
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat