Konflik Yaman, Bukti Pahit Perpecahan Dunia Islam oleh Nasionalisme

MediaUmat Pengamat Hubungan Internasional Budi Mulyana menegaskan, eskalasi konflik di Yaman yang kembali melibatkan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) merupakan pelajaran pahit ketika dunia Islam terpecah dengan sekat-sekat nasionalisme yang mendorong memunculkan kepentingan nasional.

“Inilah ketika dunia Islam terpecah dengan sekat-sekat nasionalisme yang mendorong memunculkan kepentingan nasional,” ujarnya kepada media-umat.com, Ahad (19/1/2026).

Konflik tersebut, jelas Budi, memperlihatkan bagaimana dunia Islam terpecah oleh sekat-sekat nasionalisme yang mendorong lahirnya kepentingan nasional masing-masing negara. Meskipun sama-sama Muslim, setiap negara memiliki agenda berbeda dan bahkan saling merasa terancam oleh kepentingan negara lain.

“Konflik ini membuktikan bahwa persaudaraan sesama Muslim (ukhuwah islamiah) sering kali retak ketika berhadapan dengan kepentingan nasional (national interest). Meskipun kedua negara sama-sama berhaluan Sunni dan tergabung dalam Organisasi Kerja Sama Islam (OKI),” katanya.

Lebih lanjut, Budi menilai, perebutan pengaruh wilayah, pelabuhan strategis, dan sumber daya alam di Yaman menjadi faktor utama yang memperuncing konflik. Kondisi ini menunjukkan, kepentingan geopolitik dan ekonomi lebih dominan dibandingkan semangat persatuan umat.

Ia menyinggung rivalitas kekuatan regional yang menjadikan Yaman sebagai ajang konflik berkepanjangan. Dampak terberat justru ditanggung Yaman sebagai negara medan perang yang mengalami kemunduran peradaban.

“Dunia Islam juga harus belajar bahwa membiarkan wilayah Muslim menjadi medan tempur kekuatan besar hanya akan membawa kehancuran total,” tegasnya.

Sementara itu, lanjutnya, negara-negara penyokong konflik terus menguras kekayaan umat untuk membeli senjata dari Barat, alih-alih membangun ekonomi kawasan, terlebih dengan adanya kepentingan negara-negara adidaya di balik konflik yang menjadikannya perang proksi.

“Sekali lagi, ini menegaskan perlunya persatuan dunia Islam yang menyatukan kepentingan-kepentingan umat berdasarkan Islam semata,” lanjutnya.

Ia menyatakan, konflik Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) di Yaman merupakan persoalan yang sangat kompleks dan mencerminkan krisis mendalam dunia Islam.

“Keterlibatan Arab Saudi dan UEA di Yaman bukan konflik sederhana, tetapi tumpukan perang saudara, rivalitas regional, dan kini perpecahan internal koalisi itu sendiri,” ujarnya.

Ia menjelaskan, konflik bermula ketika Arab Saudi membentuk koalisi militer pada Maret 2015 untuk mengintervensi Yaman dengan alasan mengembalikan pemerintahan sah Presiden Abd-Rabbuh Mansur Hadi yang digulingkan kelompok Houthi.

Selain itu, sebut Budi, Saudi memandang Houthi sebagai perpanjangan pengaruh Iran yang mengancam keamanan regional, kepentingan geopolitik inilah yang menjadi landasan utama intervensi militer tersebut.

“Membendung Pengaruh Iran. Saudi melihat Houthi sebagai ‘perpanjangan tangan’ Iran di perbatasan selatan mereka. Saudi tidak ingin ada kekuatan pro-Iran yang menguasai Yaman,” kata Budi.

Namun, ia menilai sejak awal Arab Saudi dan UEA sebenarnya memiliki strategi dan prioritas yang berbeda. Saudi fokus pada operasi militer udara di wilayah utara untuk menjaga keutuhan Yaman di bawah pemerintahan pusat, sementara UEA lebih berkonsentrasi pada wilayah selatan.

“UEA justru membangun kekuatan lokal di Selatan dengan melatih dan mendanai Southern Transitional Council atau STC, yang jelas-jelas merupakan kelompok separatis yang ingin Yaman Selatan merdeka dan memisahkan diri dari Yaman Utara,” tegasnya.

Budi menjelaskan, situasi berubah drastis hingga Januari 2026 ketika STC mulai menguasai wilayah strategis seperti Hadramaut dan Mahara yang berbatasan langsung dengan Arab Saudi. Kondisi ini membuat Saudi memandang STC—dan secara tidak langsung UEA—sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya.

“Pertama, dominasi STC di Selatan. Pasukan STC (dukungan UEA) mulai menguasai wilayah strategis seperti Hadramaut dan Mahara yang berbatasan langsung dengan Arab Saudi. Kondisi ini membuat Saudi ‘terpaksa’ melakukan serangan terhadap sekutunya,” ujarnya.

Ia merujuk pada serangan ke posisi-posisi STC dan pelabuhan Mukalla pada akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026. Saudi menuduh UEA masih mengirimkan senjata kepada kelompok separatis tersebut, yang dianggap mengancam keamanan nasional Saudi, kemudian mengeluarkan ultimatum keras kepada UEA dan mendorong penarikan pasukan dari Yaman.

“Akibat tekanan hebat dan ultimatum dari Riyadh, UEA baru-baru ini menyatakan akan menarik sisa pasukannya dari Yaman untuk menghindari konfrontasi langsung dengan Saudi,” pungkasnya.[] Lukman Indra Bayu

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: