Chicago, Illinois – Hizbut Tahrir Amerika sukses menyelenggarakan Konferensi Khilafah tahunannya sebagai bagian dari kampanye global yang menandai penghapusan Khilafah pada tanggal 28 Rajab 1342 H. Konferensi ini berfungsi sebagai seruan kepada kaum Muslim di seluruh dunia untuk mengakui dan memenuhi kewajiban mengembalikan cara hidup Islami, sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT, melalui pendirian kembali Khilafah ‘ala minhājin nubuwah.
“Dari Perpecahan Menuju Persatuan” adalah tajuk yang dipilih dalam konferensi tahun ini, yang didalamnya membahas akar penyebab perpecahan di dalam umat Islam dan mengkaji jalan ideologis menuju persatuan yang berlandaskan Islam. Konferensi ini menampilkan tiga pidato ilmiyah yang diikuti oleh sesi tanya jawab terbuka.
Ustadh Haitham, dalam pidato ilmiyah pertamanya, dengan tema “Di Balik Slogan: Hakikat Persatuan Islam”, menegaskan bahwa meskipun umat Islam sangat kompak dalam kesedihan, kasih sayang, dan keprihatinan atas krisis seperti Gaza, Sudan, dan Kashmir, namun mereka tetap terpecah belah dalam tindakan karena tidak adanya kepemimpinan yang terpadu dan struktur politik yang menyeluruh. Beliau menekankan bahwa persatuan Islam yang sejati dibangun di atas disiplin, koordinasi, dan pemerintahan yang berakar pada Al-Qur’an dan Sunnah. Beliau lebih lanjut menjelaskan bahwa persatuan dalam Islam bukanlah keseragaman, melainkan kesatuan tujuan dan pertanggungjawaban, yang hanya dapat dicapai dengan mengembalikan kepemimpinan dan tanggung jawab kolektif yang memungkinkan umat Islam untuk melindungi anak-anaknya, menegakkan keadilan, dan memenuhi perannya sebagai saksi atas kemanusiaan.
Sementara ustadz Zaki, dalam pidato ilmiyah keduanya, dengan tema “Dari Fragmentasi Menuju Kekuatan: Membangun Blok Islam yang Terpadu”, yang di dalamnya beliau menjelaskan bahwa kemiskinan di negeri-negeri Islam tidak terjadi karena kurangnya sumber daya, tetapi karena fragmentasi politik, kontrol ekonomi eksternal, dan sistem buatan manusia yang menghambat distribusi kekayaan yang adil. Beliau menyoroti signifikansi strategis bagi negeri-negeri Islam dalam energi, pertanian, mineral, dan perdagangan global, dengan menggambarkan bahwa perpecahan telah mengubah kelimpahan menjadi ketergantungan. Dalam hal ini, beliau mengacu pada prinsip-prinsip keadilan dan kepemilikan publik dalam Islam, beliau juga menyerukan persatuan ekonomi dan politik di bawah pemerintahan Islam, dengan menegaskan bahwa hanya sistem Islam satu-satunya yang dapat mengembalikan kedaulatan, memastikan distribusi kekayaan yang adil, dan melindungi umat Islam dari eksploitasi.
Sebagai penyampai pidato ilmiyah penutup dan utama, dengan tema “Khilafah: Mengembalikan Konsepsi Kepemimpinan”, Dr. Abu Talha membahas tema-tema dari buku terbarunya, “Paradigma Timur Tengah”. Beliau menyampaikan analisis komprehensif tentang konflik-konflik yang terus berlanjut di negeri-negeri Islam, menguraikan apa yang beliau sebut sebagai paradigma “4+2” yang dipimpin AS, yang menurutnya mempertahankan ketidakstabilan yang terkendali melalui elit regional dan aliansi selektif untuk mempertahankan dominasi eksternal. Beliau menjelaskan bagaimana kekuasaan dipertahankan tanpa legitimasi, melanggengkan fragmentasi dan ketergantungan. Sebaliknya, Dr. Abu Talha menyampaikan paradigma “1+0” sebagai alternatif yang syar’iy dan terpadu yang berakar pada kepemimpinan Islam. Beliau mengakhiri pidato ilmiyahnya dengan seruan kepada kaum Muslim untuk melampaui reformasi tatanan yang ada dan menuju penggantiannya dengan sistem yang mampu mengembalikan kedaulatan dan stabilitas jangka panjang.
Konferensi diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif, di mana para pembicara berinteraksi langsung dengan audiens.
Umat Islam terus menunjukkan ketahanan yang luar biasa dan mendambakan masa depan yang lebih cerah. Keimanan dan nilai-nilai bersama kita mengingatkan kita bahwa persatuan bukan hanya mungkin tetapi merupakan kewajiban yang mendasar (utama). Islam memberikan bimbingan yang menumbuhkan keadilan, martabat, dan solidaritas, serta menawarkan harapan untuk masa depan yang dibangun di atas kerja sama, tujuan, dan tanggung jawab bersama. Para peserta konferensi menyatakan bahwa mereka merasa sangat terinspirasi oleh materi pidato ilmiyah yang disampaikan. Semoga Allah SWT memberkati usaha kita, menyatukan hati kita, dan memberikan kesuksesan kepada semua usaha yang dilakukan dengan tulus ikhlas.
Kantor Media Hizbul Tahrir di Amerika