MediaUmat – Pakar Fikih Kontemporer KH Muhammad Shiddiq al-Jawi menegaskan, peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan penegasan syariat atas kedudukan shalat sebagai ibadah paling istimewa dalam Islam.
“Ini menunjukkan ibadah yang sangat istimewa. Jadi ketika orang itu melakukan shalat, ketahuilah bahwa ini ibadah yang istimewa karena pewajibannya itu terjadi secara khusus. Jangan main-main,” tegasnya dalam Prokontra: Dimensi Spiritual dan Politik Isra’ Mi’raj yang ditayangkan kanal YouTube Al-Khilafah, Jumat (23/1/2025).
Pasalnya, jelas Kiai Shiddiq, shalat lima waktu ini merupakan satu-satunya ibadah yang diwajibkan oleh Allah secara khusus, yaitu langsung dari Allah memerintahkan kepada Rasulullah di Sidratul Muntaha.
Menurutnya, jika Isra’ Mi’raj dipahami secara benar, maka perhatian umat Islam tidak berhenti pada kisah perjalanan agung Rasulullah ﷺ semata, melainkan pada pesan syariat yang dibawa dari peristiwa tersebut. Kesalahan memahami Isra’ Mi’raj, lanjutnya, berpotensi membuat umat memandang shalat sekadar sebagai ritual rutin, bukan fondasi utama kehidupan seorang Muslim.
“Peristiwa Isra’ dan Mi’raj ini tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi di dalamnya terdapat ajaran yang sangat mendasar bagi kehidupan umat Islam,” ujarnya.
Kiai Shiddiq menegaskan, di antara seluruh ajaran yang dibawa Rasulullah ﷺ dari peristiwa Mi’raj, shalat menempati posisi yang sangat istimewa karena mekanisme pewajibannya berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya. Perintah shalat diterima Rasulullah ﷺ secara langsung ketika berada di Sidratul Muntaha.
“Ini beda dengan zakat, beda dengan puasa Ramadhan, dan yang lain-lain. Itu Rasulullah menerima perintahnya di bumi lewat Malaikat Jibril. Ini di langit, di Sidratul Muntaha,” tegasnya.
Ia menilai, mekanisme pewajiban tersebut menegaskan bahwa shalat bukan ibadah biasa, melainkan fondasi utama yang tidak boleh dipandang ringan atau dijalankan sekadar sebagai rutinitas.
Selain itu, sebutnya, keistimewaan shalat juga tampak dari posisinya yang secara eksplisit disebut bersama sabar dalam Al-Qur’an sebagai sarana untuk mendapatkan pertolongan Allah SWT.
“Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, ‘Mintalah kamu pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat.’ Jadi shalat ini disebut bersama sabar sebagai perintah Allah kepada kita untuk mendapatkan pertolongan dari Allah,” paparnya.
Menurutnya, keterkaitan shalat dengan kesabaran menunjukkan fungsi shalat dalam membentuk keteguhan batin seorang Muslim dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.
“Dengan shalat, orang akan senantiasa ingat kepada Allah sehingga bisa membuat dia lebih kuat untuk bersabar,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Kiai Shiddiq menegaskan, keutamaan shalat juga terlihat dari posisinya sebagai amalan pertama yang akan dihisab oleh Allah SWT pada hari kiamat.
“Perkara pertama yang dihisab oleh Allah dari seorang hamba, dari amal-amalnya itu adalah shalat,” ujarnya.
Ia menegaskan, prioritas tersebut kembali menunjukkan posisi sentral shalat dalam seluruh bangunan amal seorang Muslim.
“Jadi bukan zakat, bukan haji, bukan yang lain, tapi shalat yang pertama kali akan diberi evaluasi oleh Allah,” tandasnya.[] Zainard
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat