Kiai Labib: Saat Surga Dianggap Mudah, Kematian Tak Lagi Menakutkan

 Kiai Labib: Saat Surga Dianggap Mudah, Kematian Tak Lagi Menakutkan

MediaUmat Penundaan ketaatan seolah hidup akan berlangsung selamanya bersumber dari keyakinan keliru tentang akhirat, terutama anggapan bahwa surga dapat diraih tanpa kesungguhan amal, yang pada akhirnya melumpuhkan rasa takut dan kewaspadaan terhadap detik-detik terakhir kehidupan. Itulah benang merah pesan yang disampaikan Ulama KH Rokhmat S. Labib dalam siniar Istiqomah dan Yakin terhadap Akhirat di kanal YouTube Rokhmat S. Labib, Rabu (4/2/2026).

“Kalaupun dia yakin ada surga, seolah-olah itu mudah dimasuki tanpa harus beramal. Itu keyakinan yang bermasalah,” tegas Kiai Labib.

Menurutnya, ketika surga dipersepsikan sebagai sesuatu yang mudah diraih, kematian tidak lagi dipandang sebagai kepastian yang harus dipersiapkan. Ibadah pun kerap diperlakukan sebagai pilihan yang bisa ditunda, bukan kewajiban yang harus dijaga setiap saat.

“Ketika seseorang merasa surga itu mudah, dia tidak lagi merasa terancam oleh kematian,” ujarnya.

Kiai Labib menjelaskan, sikap meremehkan kesiapan menghadapi kematian berkaitan erat dengan lemahnya keyakinan terhadap akhirat. Orang yang benar-benar yakin, kata dia, tidak akan merasa aman untuk terus menunda ketaatan.

“Mengapa orang itu merasa tidak perlu beribadah dan tidak perlu mengusahakan akhirat? Karena memang dia tidak terlalu yakin,” jelasnya.

Ia mengingatkan bahwa kematian adalah kepastian paling dekat dalam kehidupan manusia, sementara waktunya sepenuhnya berada di luar pengetahuan manusia. Ketidaktahuan ini seharusnya melahirkan kewaspadaan, bukan rasa aman palsu.

“Tidak ada seorang pun di dunia ini yang tahu kapan dia akan mati,” katanya.

Dalam konteks itu, menunda ketaatan dinilainya sebagai sikap yang sangat berisiko. Seseorang bisa saja merasa masih memiliki waktu, padahal kematian dapat datang tepat di saat kelalaian itu terjadi.

“Jangan-jangan pada saat dia meninggalkan shalat itulah kematian datang, dan itu berarti dia mati dalam keadaan su’ul khatimah,” ujarnya.

Ia menambahkan, fakta di tengah masyarakat menunjukkan bahwa kematian kerap datang secara tiba-tiba, bahkan saat seseorang berada dalam kemaksiatan. Realitas ini, menurutnya, semestinya menjadi peringatan keras bagi setiap Muslim.

“Ada orang mati pada saat minum khamar, ada orang mati pada saat zina,” ungkapnya.

Lebih jauh, Kiai Labib menegaskan bahwa iman kepada akhirat tidak mungkin kokoh tanpa iman yang utuh kepada Al-Qur’an. Rapuhnya hubungan dengan Al-Qur’an akan melahirkan keyakinan yang tidak membentuk kesiapan menghadapi hari pembalasan.

“Iman kepada hari kiamat itu basisnya iman kepada Al-Qur’an. Kalau iman kepada Al-Qur’an tidak ada, tidak mungkin ada iman kepada hari kiamat,” tegasnya.

Dalam aspek amal, ia menekankan bahwa istiqomah dibangun melalui disiplin menjaga kewajiban dan menjauhi larangan, bukan dengan perasaan aman terhadap akhir hidup.

“Kerjakan yang wajib, tinggalkan yang haram,” tandasnya.

Ia menutup penjelasannya dengan menegaskan bahwa kesungguhan dalam amal, khususnya amal sunnah, merupakan sebab turunnya pertolongan Allah agar seorang hamba tetap istiqomah hingga akhir hayat.

“Mengerjakan yang sunnah akan membuat dia mendapatkan pertolongan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk tetap istiqomah ilaa yaumi mautihi,” pungkasnya.[] Zainard

 

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *