Ketika Isu Umat Dijual dengan Harga Murah

 Ketika Isu Umat Dijual dengan Harga Murah

Kesepakatan gas antara Mesir dan entitas ilegal Yahudi yang merampas kekuasaan bukanlah sekadar perjanjian ekonomi, melainkan tamparan keras bagi isu umat; pada saat korban jiwa di Gaza semakin banyak, dan luka di tubuh umat semakin dalam. Sesungguhnya kesepakatan ini bukanlah sekadar iklan yang lewat begitu saja, melainkan deklarasi yang jelas bahwa kepentingan duniawi mengalahkan moralitas, dan slogan-slogan yang menyuarakan isu-isu umat, maka isu-isu itu tidak lebih dari sekadar kertas untuk meminta dukungan massa ketika dibutuhkan, lalu membuangnya ke tempat sampah pada saat pertama kesepakatan dilakukan.

Mesir, negara yang pernah menyuarakan isu-isu umat, telah menjadi salah satu negara pertama yang terburu-buru melakukan normalisasi. Kecepatan ini bukan didorong oleh rasa takut, melainkan oleh keinginan untuk meraih uluran tangan sebelum uluran tangan itu dibersihkan dari darah Muslim. Lebih buruk lagi, Mesir tidak menunjukkan kepekaan terhadap simbolisme saat ini; tidak ada kata-kata penghiburan, tidak ada sikap yang seimbang, bahkan tidak ada upaya untuk menyembunyikan normalisasi di balik tabir alasan, hanya pembenaran kaku yang terlepas dari hati nurani umat.

Siapa pun yang menandatangani kesepakatan miliaran dolar dengan pendudukan sementara luka rakyat Palestina masih berdarah, tidak dapat mengklaim peduli pada umat atau membela isu-isunya. Keputusan-keputusan itu bukan sekadar transaksi bisnis; keputusan adalah pesan, dan pesan dari kesepakatan ini jelas: Washington tidak lagi membutuhkan tekanan publik, tetapi tatapan, sinyal, atau isyarat diplomatik sudah cukup bagi para penguasa untuk bergegas menuju apa yang diinginkannya, dan penguasa Mesir adalah yang pertama menanggapi seruan itu, seolah-olah ia berusaha membuktikan kesetiaan sebelum meraih keuntungan.

Alih-alih menjadi gerbang dukungan bagi Palestina, justru Mesir telah menjadi gerbang tempat legitimasi ekonomi pendudukan mengalir. Pada saat umat Islam mengharapkan Kairo untuk memimpin protes, penolakan, atau bahkan keheningan yang terhormat, malah rakyat Mesir terkejut mendapati diri mereka telah membuat kesepakatan strategis dengan pihak yang membom, menduduki, dan membunuh saudara-saudara mereka.

Kesepakatan memalukan ini bukan sekadar perjanjian, tetapi sebuah sikap, bahwa ini mewakili erosi nilai-nilai, penghinaan terhadap ingatan, dan pengkhianatan terhadap suatu tujuan. Mesir telah menjadi negara yang membuka jalan di saat-saat kekalahan, dimana presiden Mesir tidak lagi memandang Palestina sebagai sebuah isu penting, melainkan sebagai isu terpinggirkan yang tidak layak disegerakan. Melalui kesepakatan ini, Mesir memasuki proses normalisasi melalui pintu terluasnya, mengibarkan panji kepentingan di atas prinsip, dan pragmatisme di atas etika.

Wahai rakyat Mesir, dan seluruh umat Islam; jangan biarkan rasa takut menjadi tuanmu, dan jangan percaya pada tipu daya para tiran yang mengatakan bahwa takdir mereka tidak akan berubah. Ingatlah bahwa belenggu-belenggu yang mengikat kalian bermula dari pikiran kalian sebelum benar-benar mengikat tangan kalian. Jika pikiran kalian dibebaskan, maka algojo akan jatuh tersungkur keras. Jangan berharap seorang tiran akan memberi kalian martabat, karena martabat itu direbut dan diperjuangkan, bukan diberikan. Mulailah dengan kesadaran, dengan kata-kata, dengan memecah keheningan; karena martabat adalah warisan, dan mereka yang telah berjalan menuju cahaya tidak akan pernah kembali ke jalan kegelapan. [] Mu’nis Hamid – Wilayah Irak

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 27/12/2025.

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *