Kekhawatiran di Balik BoP, Indonesia dalam Tekanan Amerika?
MediaUmat – Aktivis Muslimah Ustadzah Iffah Ainur Rochmah mengungkapkan kekhawatiran adanya tekanan politik/ekonomi Amerika Serikat (AS) di balik penandatanganan Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) untuk Gaza bentukan Presiden AS Donald Trump yang dilakukan oleh Indonesia.
“Kita khawatir jangan-jangan ada tekanan-tekanan politik di balik penandatanganan itu,” ujarnya dalam video Iuran Board of Peace untuk Pembangunan Gaza? di laman Facebook Iffah Ainur Rochmah, Rabu (4/2/2026).
Pernyataan ini merespons dukungan beberapa pihak atas iuran keanggotaan BoP sebesar Rp17 triliun, termasuk PBNU yang menilainya sebagai langkah pembangunan kembali Gaza.
Namun sebagaimana diungkapkan sebelumnya, Iffah menduga ada tekanan dalam keputusan Indonesia tersebut, berkaca pada pola ancaman Trump terhadap negara lain.
Dilansir kompas.id (26/1) misalnya, merespons indikasi bahwa Prancis mungkin akan menolak undangan bergabung ke BoP, secara politik Trump mengancam bakal menerapkan tarif bea masuk 200 persen untuk produk minuman anggur (wine) dan sampanye Prancis.
Secara ekonomi, tarif 200 persen akan berdampak kenaikan harga yang signifikan bagi konsumen AS dan berpotensi mematikan pasar anggur Prancis di Amerika.
Sekadar ditambahkan, ancaman ini merupakan bagian dari pendekatan diplomatik “tit-for-tat” (aksi balasan) yang digunakan Trump terhadap negara-negara Eropa, dengan mengaitkan isu perdagangan dengan isu geopolitik.
Jelasnya, ancaman serupa inilah yang dinilai juga menjadi alasan puluhan negara lain, termasuk beberapa negeri Muslim, untuk akhirnya ikut menandatangani BoP.
Mengecewakan
Lantas terkait partisipasi Indonesia ke dalam BoP berikut kewajiban membayar iuran keanggotaan hingga triliunan rupiah pun, dianggap Iffaha, mengecewakan karena proyek pembangunan yang ditawarkan dinilai tidak menyentuh kebutuhan dasar rakyat Palestina.
Seperti halnya diungkap oleh menantu Trump, Jared Kushner, pada Januari 2026 lalu, kutip Iffah, organisasi tersebut sibuk dengan rencana membangun gedung-gedung pencakar langit dan pemukiman modern. Padahal di saat yang sama tak kurang dari 230 ribu warga termasuk 15 ribu ibu hamil di Gaza kesulitan mengakses layanan kesehatan.
Dengan kata lain, alih-alih menyejahterakan, BoP justru menjadi alat baru AS dan Israel untuk semakin mencengkeram Palestina, yang kini dilegitimasi secara hukum oleh dukungan internasional, termasuk Indonesia.
“Sungguh ini sangat mengecewakan, enggak akan seperti yang kita harapkan ini akan membela saudara-saudara kita Palestina,” pungkas Iffah.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat