Kekerasan pascapemilu kembali melanda Tanzania selama beberapa hari, dimulai pada 29 Oktober 2025, yang mengakibatkan hilangnya nyawa dan kerusakan parah pada properti pribadi maupun infrastruktur publik. Sejak pemilihan presiden multi-partai pertama Tanzania pada tahun 1995, kekerasan yang terjadi setelahnya telah menjadi pola yang berulang setiap lima tahun. Namun, kekerasan tahun ini begitu masif dan meluas sehingga bahkan melampaui kekerasan mengerikan tahun 2000, ketika lebih dari 40 anggota oposisi Front Persatuan Sipil, Civic United Front (CUF) ditembak mati di Zanzibar (sebuah pulau semi-otonom), lebih dari 600 orang terluka, dan sekitar 2.000 orang melarikan diri ke negara tetangga, Kenya.
Terkait hal ini, perwakilan media Hizbut Tahrir di Tanzania, Ustadz Mas’ud Muslim, mengatakan dalam sebuah pernyataan pers: “Kekerasan merupakan hal yang mengakar dalam demokrasi dan pemilihannya sejak awal, sebagaimana berikut:
- Demokrasi, yang merupakan sistem pemerintahan kapitalisme, semata-mata dibangun atas satu kriteria dalam tindakan, yaitu “kepentingan”. Artinya, seseorang bertindak atau tidak bertindak hanya untuk mendapatkan dan mewujudkan kepentingan. Tidak mengherankan jika penganut demokrasi, baik yang berkuasa maupun yang beroposisi, bertindak atau mendorong orang lain untuk bertindak dengan cara yang akan mengamankan kepentingannya. Maka berdasarkan prinsip ini, semua partai demokrasi tidak didirikan untuk melayani kesejahteraan rakyat, melainkan menjadi saluran ekonomi bagi para politisi, baik dengan mengonsumsi subsidi milik publik, mengharapkan pengangkatan, mengonsumsi bantuan dari penjajah, menikmati sumbangan dari para dermawan, dan lain sebagainya.
- Sistem demokrasi menjunjung tinggi pemikiran jahat dan sesat Machiavelli, yang mengatakan: “Al-Wasīlah Tubarriru Al-Ghāyah wa Al-Ghāyah Tubarriru Al-Wasīlah, Cara Menghalalkan Semua Tujuan, dan Tujuan Menghalalkan Semua Cara.” Ini berarti bahwa dalam demokrasi, apa pun halal dilakukan, seperti membunuh, menciptakan perselisihan berdasarkan sentimen agama dan ras, berbohong, atau apa pun tanpa mempedulikan dampak buruknya, asalkan tujuan yang diinginkan tercapai. Pada prinsipnya, dalam demokrasi, mereka tidak memiliki gagasan legal atau ilegal; yang penting hal itu dapat mewujudkan tujuan yang diinginkan.
- Demokrasi multipartai diperkenalkan oleh Barat untuk kepentingan mereka sendiri, dan bukan untuk kepentingan atau kemajuan negara kita sebagaimana dipersepsikan oleh banyak orang sampai pada taraf yang membuat sebagian orang menjadi bingung dengan harapan-harapan tinggi yang pupus, banyak waktu terbuang, berkeringat deras—bahkan hilangnya nyawa dalam menanti perubahan. Barat membawa hal itu sebagai konspirasi dan tipu daya dengan mengubah wajah rezim, karena mereka menyadari rakyat sudah muak dan ketidakpuasan semakin meningkat akibat kekejaman sistem partai tunggal yang mereka (Barat) lindungi. Barat memperkenalkan sisten ini sebagai alat lain untuk memperkuat neo-kolonialisme dengan mengalihkan perhatian rakyat dari sudut pandang ideologis. Jadi bukannya melawan ideologi kapitalis yang jahat, mereka justru mengerahkan energi mereka untuk solusi palsu, yaitu mengubah wajah para penguasa. Lebih lanjut, dalam banyak kasus, negara-negara Barat, melalui ideologi tersebut dan dalih lainnya, memicu perselisihan sipil dan kekerasan untuk memperlancar eksploitasi sumber daya umat. Contoh yang baik dan masih hangat adalah Sudan, Kongo, Yaman, Somalia, dan lainnya.
Ustadz Mas’ud Muslim mengakhiri pernyataan persnya dengan menekankan bahwa sudah saatnya bagi setiap orang yang serius dan tercerahkan yang mencari perubahan ideologis sejati untuk menahan diri dari berpartisipasi dalam atau mendukung chauvinisme demokrasi yang korup. Kewajiban kaum Muslim adalah terikat dengan metodologi perubahan Islam yang benar sebagaimana diajarkan oleh Nabi saw, yaitu dengan menegakkan kembali negara Khilafah, yang dimulai dari negeri-negeri Islam. Adapun non-Muslim, maka saatnya telah tiba bagi mereka untuk mengeksplorasi sistem Islam alternatif dan pendekatannya untuk perubahan, lalu memeluknya dan melepaskan diri dari demokrasi yang korup dan penuh tipu daya (alraiah.net, 26/11/2025).
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat