Sementara negara-negara Teluk menikmati kekayaan minyak dan gas yang melimpah, sebagian besar rakyat di antara umat Islam justru menderita luka kelaparan, perang, dan kekurangan!
Dua pemandangan yang kontras hidup berdampingan dalam satu dunia: di sini kekayaan melimpah, dan di sana kemiskinan yang mematikan; ada rakyat yang perutnya kekenyangan, dan ada rakyat yang mengorek-ngorek sampah untuk mencari sepotong roti!
Kesenjangan antara kedua pihak bukan disebabkan oleh letak geografis, melainkan oleh keputusan politik, ketergantungan pada Barat, dan prioritas dari mereka yang berkuasa.
Sungguh menyakitkan melihat satu umat di mana jurang pemisah semakin lebar antara penguasa yang mewah dan kaya raya, sementara rakyat yang tertindas, hidup melarat dan sekarat, miliaran dolar dihamburkan untuk kesepakatan yang tidak membawa manfaat apa pun bagi kaum Muslim, sedang jutaan kaum Muslim di Yaman, Suriah, Gaza, Afrika Tengah, dan Asia menjalani kehidupan yang tidak layak bagi manusia!
Hal ini menimbulkan pertanyaan mendasar: Bagaimana kekayaan ini dikelola? Kepentingan siapa yang dilayaninya? Dan mengapa kewajibannya kepada umat dan proyek persatuan dan keyakinan yang menyatukannya diabaikan?
Kebenaran yang tak terbantahkan adalah bahwa kekayaan di negara-negara Teluk telah jatuh ke tangan rezim yang kepentingannya terikat pada Barat, sampai-sampai para penguasa tampak hanya sebagai pesuruh, yang lebih melindungi kepentingan orang lain daripada kepentingan rakyatnya sendiri.
Ketergantungan politik yang mengikat rezim-rezim Teluk dengan Barat telah menjadikan keputusan ekonomi sebagai bagian dari keputusan eksternal yang tidak berasal dari kebutuhan umat dan tidak mencerminkan aspirasinya, hingga kekayaan yang seharusnya dapat membangun pabrik, menghidupkan kembali pertanian, dan mendukung kebangkitan umat, berubah menjadi alat penyeimbang dan pemuasan dalam permainan internasional di mana kaum Muslim tidak memiliki peran selain sebagai objek penderita.
Masalahnya adalah kekayaan ini dikelola dengan mentalitas “milik pribadi”, bukan dengan mentalitas “harta karun” yang menjadi milik semua Muslim. Sehingga sekelompok penjahat mengunakan dan menghabiskannya untuk kesenangan hawa nafsu mereka dan sebagai persembahan yang diberikan kepada negara-negara Barat yang merupakan musuh Islam dan kaum Muslim, yang kemudian kekayaan itu berubah menjadi peralatan dan pesawat yang digunakan untuk membom kota-kota kita dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah!
Sudah saatnya umat ini kembali dan menyadari bahwa kekayaannya bukan milik penguasa yang datang dan pergi, atau milik sekelompok pencuri yang hidup di menara gading mereka yang jauh dari penderitaan kaum Muslim.
Minyak, gas, emas, dan semua sumber daya lainnya bukanlah aset yang diberikan kepada Barat, juga bukan dana yang dihambur-hamburkan di istana para penguasa dan kesepakatan mereka. Sebaliknya, itu adalah hak seluruh umat, amanah yang diberikan Allah kepada rakyat sebelum para penguasa. Oleh karena itu, adalah tugas rakyat—ketika mereka menyadari kekuatan mereka, menghancurkan penghalang rasa takut, dan menuntut pembagian kekayaan yang adil—untuk membuat tangan para tiran gemetar, dan mengembalikan kekayaan yang dicuri kepada pemiliknya yang sah.
Hendaknya seluruh umat mengetahui bahwa kebangkitan tidak datang dari bantuan asing atau janji-janji Barat, melainkan ketika rakyat bersuara dan menuntut kembali hak-hak mereka. Hendaknya setiap Muslim harus memainkan perannya. Ketahuilah bahwa sebuah umat yang membiarkan kekayaannya berada di tangan para tiran akan kehilangan masa depannya, sementara sebuah umat yang merebut kembali sumber dayanya akan mendapatkan kembali kejayaan dan kedudukannya di antara bangsa-bangsa. Namun, hal ini hanya dapat dicapai melalui kembalinya negara Islam, negara kaum Muslim. Untuk itu, berjuanglah dengan sungguh-sungguh untuk menegakkannya demi kehormatan dan martabat Anda sendiri di dunia dan akhirat. [] Mu’nis Hamid – Wilayah Irak
Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 10/12/2025.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat