Kejahatan Amerika dan Tipu Muslihatnya terhadap Rakyat Suriah
Bukan rahasia lagi bagi para pengamat dan mereka yang terlibat dalam politik bahwa Suriah, sejak awal era almaqbūr (yang dikubur) Hafez Al-Assad, telah menjadi negara bawahan Amerika. Amerika-lah yang memfasilitasi naiknya Basyar Al-Asad ke tampuk kekuasaan sebagai penerus ayahnya. Madeleine Albright, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Luar Negeri AS, menghadiri upacara peralihan kekuasaan kepada Basyar dan tidak ada pemimpin dunia lain yang hadir selain dirinya, bahkan ia menyatakan dari Damaskus bahwa peralihan kekuasaan telah berlangsung dengan tenang dan lancar, menyatakan dukungan Amerika terhadap transisi ini dan dukungannya kepada Basyar.
Selain itu, kejahatan Amerika di Suriah terlihat jelas dalam perlindungannya terhadap rezim keluarga Al-Asad dan dukungannya dalam menindas kaum Muslim selama peristiwa Hama pada tahun 1980-an, serta dukungan dan sponsornya terhadap Basyar Al-Asad dalam menumpas revolusi Suriah selama Musim Semi Arab. Pernyataan malu-malu kucing para pejabatnya, hanya untuk pencitraan dan penipuan, seperti ketika Barack Obama menyatakan bahwa Basyar telah kehilangan legitimasinya dan harus mundur tanpa tekanan nyata yang berarti. Sebaliknya, Amerika secara diam-diam memberinya uang dan waktu untuk melenyapkan revolusi Suriah. Basyar menggunakan senjata kimia beberapa kali terhadap kaum Muslim di Suriah, yang menunjukkan bahwa ia merasa aman dari hukuman. Sungguh apa yang terjadi selanjutnya adalah respons yang dramatis ketika Trump memerintahkan serangan terhadap beberapa landasan pacu Pangkalan Udara Tiyas (T-4), di samping sanksi-sanksi tertentu yang tidak mempengaruhi rezim tetapi malah membakar rakyat Suriah. Ini belum termasuk tindakan Amerika yang memobilisasi musuh-musuh kita, yaitu mereka yang secara munafik mengaku bersahabat dengan kita, namun untuk memadamkan revolusi dan melemahkannya.
Inilah semua yang telah dilakukan Amerika secara terbuka terkait kejahatan rezim Al-Asad, sementara secara diam-diam mendukungnya dengan menginstruksikan Iran dan milisinya untuk memasuki Suriah dan berperang bersama rezim tersebut, serta dengan mengizinkan dan berkoordinasi dengan Rusia untuk mendukung dan melindungi rezim tersebut ketika Iran gagal menumpas revolusi.
Rezim tersebut, di bawah perlindungan dan dukungan Amerika, selama empat belas tahun terus membunuh dan menahan penduduk Syam, menghancurkan kota-kota mereka, dan menggusur mereka, tanpa takut akan hukuman yang sebenarnya, terutama jika dibandingkan dengan perlindungan yang diberikan Amerika kepada kelompok-kelompok etnis kecil, setelah menghasut mereka untuk memberontak, dan penggunaan pangkalan militer terdepannya di jantung wilayah negeri-negeri Islam, yaitu entitas Yahudi untuk membom infrastruktur negara tersebut. Amerika juga penggunaan sanksi Undang-Undang Caesar, yang seharusnya berakhir dengan jatuhnya rezim Al-Asad, namun Amerika tetap mempertahankannya sebagai pedang yang menggantung di atas rakyat Suriah untuk menekan mereka agar menerima konsesi pemerintahan baru di bidang politik, keamanan, dan ekonomi.
Salah satu praktik terburuk yang digunakan Amerika untuk memaksakan pengaruhnya dan memperkuat dominasinya atas Suriah adalah dengan mengeksploitasi isu kelompok etnis kecil sebagai dalih memaksakan kehendaknya. Amerika telah menghasut kelompok-kelompok tersebut di balik layar untuk menabur benih perpecahan Suriah dan menciptakan bentuk pemerintahan hibrida, antara federalisme dan desentralisasi administratif, yang membuat negara tersebut berada dalam keadaan lumpuh dan konflik abadi. Hal ini memungkinkan Amerika untuk mengelola konflik dan campur tangan dalam setiap masalah kecil maupun besar melalui utusan khususnya, Tom Barrack, dan para utusannya dari Departemen Luar Negeri AS dan Kongres AS, sementara pada saat yang sama secara dusta dan menipu mengklaim mendukung persatuan dan stabilitas negara tersebut.
Musuh sejati rakyat Suriah khususnya, dan umat Islam pada umumnya, adalah Amerika. Hasutan terselubungnya terhadap kelompok-kelompok etnis kecil dan perlindungan terang-terangannya terhadap pemberontakan mereka, sementara Amerika menahan diri untuk tidak memaksakan ketenangan dan integrasi kepada mereka, padahal Amerika sepenuhnya mampu melakukannya dengan arahan sederhana, sehingga semua ini jelas menunjukkan, tanpa keraguan sedikit pun, bahwa Amerika sedang mempermainkan nasib rakyat Suriah, bahkan rakyat seluruh dunia. Amerika menempatkan siapa pun yang diinginkannya sebagai penguasa, kemudian menyingkirkan mereka setelah mereka kehilangan kemampuan untuk melayani kepentingan Amerika. Jadi, mengandalkan Amerika adalah bunuh diri politik dan salah satu kejahatan terberat terhadap umat dan agama Islam.
Kewajiban yang harus dilakukan dalam menghadapi agresi Amerika terhadap Suriah, penghancuran dan pengusiran rakyatnya di tangan anteknya, Basyar, adalah berupaya mencabut pengaruhnya dari Suriah dan dari negeri-negeri kaum Muslim, mengusir alat-alatnya, serta memperingatkan dari berkerja sama, beraliansi dengannya. Adapun berpihak padanya dan mencari persetujuannya dengan harapan menstabilkan pemerintahan dan mencapai kemakmuran, maka itu seperti orang yang berlindung dari panas di tengah terik matahari! Baru-baru ini, banyak yang dibicarakan tentang kebijakan Ahmad al-Syara’, presiden Suriah untuk fase transisi, dan pernyataannya yang selaras dengan kecenderungan Amerika, termasuk pernyataannya kepada Christiane Amanpour, kepala koresponden internasional CNN, di Forum Doha di Qatar, di mana ia berusaha keras untuk menjauhkan diri dari tuduhan terorisme! Padahal semua tahu bahwa perjanjian Amerika dengan rezim untuk memerangi “terorisme” sebenarnya bertujuan untuk memerangi Islam dan hukum-hukumnya.
Sikap diam terkait konsesi yang diberikan oleh pemerintahan saat ini kepada Amerika, dan memberikan ruang bagi mereka yang memberikan konsesi tersebut merupakan pelanggaran terhadap syariat Allah SWT, sehingga hal ini akan membawa negara menuju fragmentasi, konflik, kerugian, dan ketidakstabilan politik, keamanan, dan ekonomi yang lebih besar. Bahkan, hal ini pasti akan mengakibatkan dominasi kekuatan asing yang memusuhi Islam baik dalam permukaan maupun substansi. Membenarkan konsesi ini, mempromosikannya, dan membuat fatwa yang menyesatkan untuk melegitimasi konsesi tersebut adalah jalan yang berbahaya dan kejahatan besar yang dampaknya tidak hanya terbatas pada pemerintahan saat ini saja, tetapi juga akan meluas kepada rakyat Suriah dan semua pengorbanan mereka.
Sedang yang akan menyelesaikan konflik, mengakhiri perselisihan, dan memutus campur tangan Amerika adalah penerapan hukum Allah SWT, yang berfirman:
﴿وَلَن يَجْعَلَ اللَّهُ لِلْكَافِرِينَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ سَبِيلاً﴾
“Dan Allah tidak akan memberikan jalan kepada orang-orang kafir untuk mengalahkan orang-orang yang beriman.” (TQS. An-Nisa’ [4] : 141).
Syariat Allah SWT adalah yang mampu memberikan hak yang semestinya kepada setiap orang. Setelah non-Muslim merasakan rahmat dan keadilan Islam, mereka akan merasa tenang, bahkan mereka akan berbondong-bondong masuk ke dalam agama Allah SWT. Namun untuk menerapkan syariah Allah SWT, seorang penguasa harus mendapat dukungan dari kaum Muslim di dalam negeri, dan jumlah mereka tidak sedikit, bahkan ada di seluruh dunia, dimana mereka akan datang kepadanya dalam jumlah jutaan. Jadi, tidak perlu bergantung pada orang-orang kafir penjahat, seperti Amerika dan para sekutunya.
Para pemimpin juga harus siap mengorbankan nyawa, harta benda, dan kekuasaan, sebagaimana sabda Rasulullah saw.:
«لَوْ وَضَعُوا الشَّمْسَ فِي يَمِينِي وَالْقَمَرَ فِي شِمَالِي عَلَى أَنْ أَتْرُكَ هَذَا الْأَمْرَ حَتَّى يُظْهِرَهُ اللَّهُ أَوْ أَهْلِكَ فِيهِ مَا تَرَكْتُهُ«
“Sekalipun mereka menaruh matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku dengan syarat aku meninggalkan perkara (penerapan syariat Allah) ini, maka aku tidak akan meninggalkannya sampai Allah membuatnya berhasil atau aku binasa karenanya.”
Ya, inilah dia manhāj (metodologi) kenabian dalam menegakkan agama dan menerapkan syariat Allah SWT, Tuhan semesta alam, bukan dengan penyerahan diri dan konsesi kepada musuh-musuh Allah SWT, yang siang dan malam bersekongkol melakukan tipu muslihat melawan umat, sebagaimana firman Allah SWT.:
﴿لا يَرْقُبُونَ فِي مُؤْمِنٍ إِلا وَلا ذِمَّةً وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُعْتَدُونَ﴾
“Mereka tidak memelihara (hubungan) kekerabatan dengan orang yang beriman dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Sungguh mereka itulah adalah orang-orang yang melampaui batas.” [TQS. At-Taubah [9] : 10). [] Ustadz Muhammad Said Al-Abud
Sumber: alraiah.net, 11/2/2026.
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat