Jam Kiamat dan Kepastian yang Dinantikan: Apakah Akhir dari Kebrutalan Kapitalis Sudah Dekat?

 Jam Kiamat dan Kepastian yang Dinantikan: Apakah Akhir dari Kebrutalan Kapitalis Sudah Dekat?

Setiap tahun, para ilmuwan nuklir muncul dalam buletin terkenal mereka untuk menyesuaikan Jam Kiamat (Doomsday Clock) dengan perhitungan ketegangan geopolitik antara kekuatan-kekuatan besar! Mereka memperingatkan umat manusia tentang kehancuran yang pasti di bawah beban senjata nuklir atau bencana iklim, dan dunia menahan napas setiap detik saat jam mendekati tengah malam. Namun, di luar perhitungan setiap detik kecemasan yang ditentukan manusia, ada penafsiran lain dari ketegangan global ini; penafsiran yang berakar dari keyakinan teguh bahwa kebisingan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan pertanda berakhirnya sebuah sistem yang telah membebani umat manusia dengan ketidakadilannya, dan pendahuluan bagi kelahiran fajar baru yang tidak hanya tunduk pada keseimbangan kekuatan materi semata.

Sementara dunia gemetar ketakutan melihat pergerakan jarum jam kiamat, Al-Qur’an menghadapkan kita pada kebenaran agung yang melampaui perkiraan pusat-pusat penelitian:

﴿يَسْأَلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِندَ اللَّهِ وَمَا يُدْرِيكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُونُ قَرِيباً﴾

Orang-orang bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang hari Kiamat. Katakanlah bahwa pengetahuan tentang hal itu hanya ada di sisi Allah. Tahukah engkau, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat.” (TQS. Al-Ahzab [33] : 63).

Pertanyaan berulang manusia tentang “akhir zaman” ini mencerminkan keadaan kebangkrutan moral dan spiritual. Barat, yang menciptakan “Jam Kiamat” ini, kini hidup dalam ketakutan nyata terhadap ciptaan mereka sendiri. Mereka takut akan teknologi yang mereka kembangkan dan senjata yang mereka timbun karena mereka kekurangan kerangka moral untuk mengatur kekuasaan. Takdir berada di tangan penyebab utama, dan waktu yang sebenarnya hanya diketahui oleh Allah SWT. Ketegangan ini tidak lain adalah hukum universal yang terungkap sesuai dengan kebijaksanaan ilahi yang mendalam untuk membangunkan mereka yang lalai.

Ketegangan yang meningkat antara kekuatan-kekuatan besar bukanlah sekadar konflik perbatasan atau sengketa atas sumber daya alam, melainkan ekspresi nyata dari krisis makna dan kegagalan sistem kapitalis yang buas. Sistem yang dibangun dengan menghisap darah rakyat, pendewaan materialisme, dan pengutamaan utilitas di atas nilai-nilai ini, kini berada di ambang kehancuran. Dan di sinilah muncul seruan ilahi yang mengguncang bahkan hati yang paling lalai sekalipun:

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ﴾

Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu. Sesungguhnya guncangan hari Kiamat itu adalah sesuatu yang sangat besar.” (TQS. Al-Hajj [22] : 1).

Guncangan ini tidak hanya peristiwa fisikawan  di masa depan, tetapi sebuah realitas yang seharusnya mendorong kita untuk mempertimbangkan kembali apa yang telah kita lakukan dan bagaimana kita bersiap untuk bertemu dengan Tuhan Semesta Alam dalam menghadapi keruntuhan moral global ini.

Sistem kapitalis saat ini menderita keretakan struktural yang tidak lagi dapat diperbaiki dengan solusi tambal sulam. Inflasi global yang belum pernah terjadi sebelumnya, utang negara yang sangat besar yang telah mencapai angka astronomis, serta kesenjangan yang semakin lebar antara kelas yang memiliki segalanya dan masyarakat yang tidak mampu membeli makanan, semuanya merupakan indikator bahwa model ini telah kehabisan alasan untuk tetap berkuasa. Perang yang direkayasa di Eropa Timur dan Asia Timur tidak lebih dari upaya putus asa untuk mengekspor krisis internal rezim yang tidak memiliki apa pun lagi untuk ditawarkan kepada umat manusia selain rasa takut dan kepatuhan. Jarum jam yang sebenarnya sedang berjalan, menandakan kehancuran yang akan segera terjadi dari model arogan ini, yang para pendukungnya percaya bahwa mereka mengendalikan ujung bumi, melupakan bahwa semua kekuasaan adalah milik Allah SWT.

Di tengah tumpukan ancaman nuklir dan perlombaan gila-gilaan menuju persenjataan biologis dan digital, cahaya kenabian muncul untuk meyakinkan hati yang ketakutan dan memberi mereka kompas yang sejati. Sementara pusat-pusat penelitian Barat membahas skenario kehancuran, kita berbicara tentang kepastian kelangsungan hidup dan penguatan agama ini. Nabi Muhammad saw bersabda:

«لَيَبْلُغَنَّ هَذَا الأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ، وَلَا يَتْرُكُ اللهُ بَيْتَ مَدَرٍ وَلَا وَبَرٍ إِلَّا أَدْخَلَهُ اللهُ هَذَا الدِّينَ، بِعِزِّ عَزِيزٍ أَوْ بِذُلِّ ذَلِيلٍ»

Sungguh perkara (agama) ini akan sampai ke seluruh dunia sebagaimana sampainya malam dan siang. Allah tidak akan membiarkan satu rumah pun baik di kota maupun di desa kecuali Allah akan memasukkan agama ini dengan kemuliaan yang dimuliakan atau kehinaan yang dihinakan.” (HR Ahmad).

Janji kenabian ini bukan sekadar cara untuk menumpulkan emosi atau bersantai sambil menunggu mukjizat, melainkan sebuah keniscayaan sejarah dan hukum penggantian, yang mengharuskan kita untuk mengajukan pertanyaan penting: “Di mana peran saya dalam janji ini? Dan apa yang telah saya persiapkan untuk menjadi salah satu prajuritnya?

Setiap kali awan kegelapan dan ketidakadilan semakin intensif, dan kekuatan tirani saling berbenturan, maka ini menandakan kekosongan strategis dan moral yang hanya dapat diisi oleh Islam dengan nilai-nilainya yang berlandaskan keadilan mutlak dan rahmat yang diberikan. Dunia yang haus akan keadilan, yang melarikan diri dari neraka kapitalisme dan materialisme, pasti akan mencari perlindungan, dan hanya akan menemukannya dalam keluasan Islam, yang menggabungkan kemakmuran bumi dengan kesejahteraan jiwa. Kewajiban yang dibebankan kepada para politisi, pemikir, dan umat Muslim saat ini bukanlah untuk mundur dan menyaksikan jarum jam yang dibuat oleh manusia dalam ketakutan mereka, tetapi untuk bekerja tanpa lelah menjadikan kalimatullāh (lā ilāha illallāh) sebagai yang tertinggi. Pertarungan yang kita saksikan saat ini antara kekuatan-kekuatan besar adalah pemurnian yang mendahului pemberdayaan, dan ujian sejati atas kemauan kita untuk berubah.

Ketika kebenaran terungkap dan fakta-fakta tersingkap, maka mereka yang menganggap kekuatan militer dan rudal antarbenua sebagai tuhan selain Allah akan tahu bahwa benteng-benteng mereka lebih lemah daripada jaring laba-laba di hadapan kehendak dan hukum Allah SWT.

﴿كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا﴾

Pada hari mereka melihat (hari Kiamat) itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (TQS. An-Nazi’at [79] : 46).

Waktu dalam skala Allah berbeda dengan detik-detik yang dihitung oleh ilmuwan nuklir; dalam semalam, sistem dunia yang dianggap abadi oleh manusia dapat runtuh, digantikan oleh sistem ilahi yang mengembalikan martabat manusia yang telah dihancurkan oleh mesin kapitalisme.

Penutup: kita berada di tahun 2026 di hadapan pemandangan yang menggetarkan: negara-negara adidaya bersaing memperebutkan detik-detik imajiner, dan sebuah umat yang menyimpan janji sejati di dalam hatinya. Saat dunia menahan napas setiap detikan Jam Kiamat (Doomsday Clock), kami bertanya kepada setiap pikiran yang bijaksana: Di manakah kompas Anda? Apakah Anda menaruh kepercayaan pada perhitungan pusat-pusat penelitian internasional yang cemas yang memprediksi kehancuran, atau pada janji Sang Pencipta, yang jalan-Nya ditakdirkan untuk bertahan dan menang? Jarum yang seharusnya kita ikuti bukanlah jarum jam atom, melainkan jarum persiapan dan tindakan untuk menghidupkan kembali cara hidup Islami.

Kebrutalan sistem kapitalis ini tidak akan berakhir hanya dengan angan-angan belaka, tetapi dengan berjuang serius untuk mendirikan negara kebenaran, negara Khilafah Rasyidah kedua ‘ala minhājin nubuwah; karena hanya itulah yang mampu membawa umat manusia dari neraka konflik menuju pantai keselamatan. Ingatlah selalu firman Allah SWT:

﴿لَا يَسْتَوِي مِنكُم مَّنْ أَنفَقَ مِن قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ﴾

Tidak sama orang yang menginfakkan (hartanya di jalan Allah) di antara kamu dan berperang sebelum penaklukan (Makkah).” (TQS. Al-Hadid [57] : 10).

Pertanyaannya bukanlah kapan saatnya Kiamat itu akan tiba, tetapi apa yang telah Anda persiapkan untuk itu dan untuk menolong agama Anda, sebelum semuanya terlambat? Lakukan segera inisiatif untuk meninggalkan jejak Anda pada transformasi kosmik yang agung ini, sebelum perang berakhir dan kemenangan yang dijanjikan tercapai. [] Ir. Ahmad Ibrahim

Sumber: hizb-ut-tahrir.info, 3/2/2026.

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *