Industri Buzzer Jadi Ladang Bisnis, Bukan Rahasia Lagi

 Industri Buzzer Jadi Ladang Bisnis, Bukan Rahasia Lagi

MediaUmat Pengamat Politik dan Media Hanif Kristianto menyatakan industri buzzer di Indonesia jadi ladang bisnis, bukan rahasia lagi.

“Ini bukan rahasia lagi ya, karena sudah diumumkan di depan publik,” ujarnya dalam Kabar Petang: Ada Cuan Kotor Bisnis Buzzer, Selasa (9/9/2025) di kanal YouTube Khilafah News.

Menurutnya, fakta ini juga menunjukkan kondisi opini di masyarakat dikuasai oleh orang-orang yang memiliki kekuatan modal.

Nah, di sisi lain ucap Hanif, orang yang ingin idealis menyuarakan hati mereka dengan mengampanyekan keinginan rakyat atau sebagainya, kalau tidak didukung dengan modal bisa jadi akan terlindas.

“Dan siapa yang menguasai media? Ya kalau sekarang adalah oligarki tentunya dengan kekuatan modal itu,” simpulnya.

Sekarang Semua Bisa Dimanipulasi

Menurut Hanif, sekarang ini apa pun bisa dimanipulasi di Indonesia. “Lah wong minyak saja bisa dioplos. Jadi apa yang tidak bisa di negeri ini ya? Ya, mulai dari fenomena ijazah, fenomena sertifikat ya macam-macamlah,” bebernya.

Bahkan negara ini, ungkapnya, melebihi Cina. Kalau dulu Cina bisa membuat apa saja, Indonesia sekarang bisa membuat yang sebetulnya awalnya mustahil menjadi bisa.

Ini, tegas Hanif, justru menjadi manipulasi opini publik yang sangat berbahaya. Ia pun menguraikan tiga dampak berbahayanya dari praktik ini. Pertama, publik akhirnya disuguhi informasi-informasi yang provokatif.

Kedua, bisa jadi publik disuguhi informasi yang sebenarnya hanyalah kebohongan. Ketiga, informasi yang tidak berimbang. Dan ketika penguasa itu mengeluarkan kebijakan yang tidak perlu kepada rakyat, maka mereka menyewa orang-orang yang mau bekerja sama.

Aksi Demonstrasi

Ia menyinggung akibat penguasa tidak peka terhadap rakyat, seperti yang kemarin. Sehingga terjadi aksi demonstrasi.

Hanif menyebutkan, beberapa tuntutan-tuntutan dalam aksi demonstrasi itu misalnya investigasi kasus pelanggaran HAM, reformasi DPR dan partai politik, perbaikan sistem ekonomi, lingkungan hidup dan agraria, pemberantasan korupsi.

“Ini masalah sangat genting. Pasalnya masalah-masalah tersebut ini menyentuh akar ketidakadilan struktural di Indonesia. Nah, jika diabaikan, nah, ia bisa meledak ya dalam bentuk ketidakpercayaan publik yang makin dalam terhadap negara,” jelasnya.

Hanif pun menutup pernyataannya dengan peringatan bahwa situasi ini dapat berujung pada instabilitas nasional.

“Alhasil, negara bisa jadi kacau, kaos, dan sebagainya,” pungkas Hanif.[] Muhammad Nur

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini:

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *