MediaUmat – Pengamat dari HILMI (Himpunan Intelektual Muslim Indonesia) Dr. Riyan menyatakan jalan di Indonesia tidak semulus di Singapura karena tidak ada roadmap (peta jalan) jalan yang sistemik dan sistematik.
“Karena berawal dari tidak adanya roadmap. Yang kemudian sistematik gitu ya. Yang sistemik dan sistematik, ini dua istilah yang penting gitu ya. Jadi sistemik itu adanya secara whole ya secara keseluruhan dan sistematik ini dari tahapan-tahapannya,” jelasnya dalam Kabar Petang: Pengamat Sampaikan Penyebab Kondisi Jalan di Indonesia Tak Semulus Singapura, Kamis (27/11/2025) di kanal YouTube Khilafah News.
Menurutnya, jalan adalah infrastruktur yang sangat penting karena menghubungkan satu titik (kota) dengan titik lain. Namun, dalam kontek pembangunan terjadi kesenjangan antar daerah, luar Jawa dan di Pulau Jawa yang padat penduduknya.
“Dan mengingat, Indonesia ini kalau secara sederhana itu bisa dikelompokkan dalam konteks pembangunan ini. Karena itu ada kesenjangan antara apa yang disebut dengan daerah di Pulau Jawa sebagai penduduk yang paling padat di situ dan juga kemudian di luar Jawa” ujarnya.
Riyan menyebut, jalan di luar Jawa lebih buruk kondisinya dibanding di Pulau Jawa, walaupun sebetulnya di Jawa juga banyak masalah.
Riyan menyebut hal itu terjadi setidaknya karena empat faktor. Pertama, adanya kesenjangan anggaran, Jawa menjadi prioritas karena padat penduduknya. Kedua, wilayah yang luas dan tangtangan geografis yang sulit seperti pegunungan, tanah labil, intensitas hujan yang tinggi. Ketiga, kualitas konstruksi tidak merata dan lemah pengawasan. Keempat, dilalui kendaraan truk yang melebihi tonase jalan, terutama daerah tambang atau perkebunan.
“Saya ingin katakan bahwa ya dalam tanda kutip ya akhirnya wajar. Di luar Jawa itu kualitasnya seperti itu,” tandasnya.
Saat ini juga banyak dipersoalkan pembangunan jalan tol, mestinya tahan digunakan 30 tahun, tapi baru beberapa tahun sudah butuh banyak perbaikan, ini pasti ada masalah.
“Jalan tol itu mestinya itu sekali, kemudian dibuat itu untuk 30 tahun. Sekarang ini baru sekian tahun, mungkin juga 5 tahun belum, sudah perbaikan sana sini. Ini kan berarti ada masalah di tingkat tadi pembuatannya tersebut,” jelas Riyan.
Itulah yang terjadi ketika pembuatan jalan tidak ada roadmap dan hanya mengikuti ambisi pemimpin untuk mengejar target.
“Sehingga saya kira inilah. Karena tadi kebijakan tidak berbasiskan roadmap, kemudian karena ambisi daripada pemimpin yang tidak punya visi tadi itu. Akhirnya pekerjaannya tadi hanya sekadar mementingkan kuantitas tapi tidak kualitas,” pungkasnya.[] Imam Wahyono
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat