Hizbut Tahrir Kirgistan mengecam operasi Komite Keamanan Nasional (KNB) Kirgistan di wilayah Batken yang berujung pada penangkapan 12 Muslim dengan tuduhan ekstremisme. Dalam pernyataan resminya, mereka menilai langkah aparat sebagai tindakan represif dan pertunjukan yang bertujuan membangun citra palsu di hadapan publik.
Menurut Hizbut Tahrir Kirgistan, penggeledahan di rumah para pengemban dakwah itu tidak menemukan barang mencurigakan selain buku-buku keagamaan, telepon, dan laptop. “Yang mereka temukan hanyalah buku agama dan perlengkapan pribadi. Meski demikian, aparat memperlakukan para pengemban dakwah dengan cara yang tidak layak bagi martabat manusia, dan mengubah penangkapan ini menjadi pertunjukan bertopeng,” kata organisasi tersebut dalam siarannya.
Mereka juga menyinggung protes warga Batken yang menuntut pembebasan enam Muslim lain yang sebelumnya ditahan. Hizbut Tahrir menyebut bahwa para tahanan adalah sosok yang membantu masyarakat selama pandemi dan konflik perbatasan. “Rakyat bersaksi bahwa mereka selalu memikul kepentingan masyarakat dan membantu keluarga-keluarga yang membutuhkan. Tuduhan ekstremisme yang diarahkan kepada mereka adalah tuduhan zalim,” jelas pernyataan itu.
Tuduhan terhadap Pemerintah dan Pola Represi yang Berulang
Hizbut Tahrir Kirgistan menuding bahwa penangkapan ini melanjutkan pola lama yang dilakukan berbagai pemerintahan sebelumnya di Bishkek, Issyk-Kul, dan Naryn, termasuk praktik ilegal seperti penyiksaan dan tekanan terhadap keluarga tahanan.
“Rezim-rezim sebelumnya menggunakan isu ‘memerangi ekstremisme’ untuk menutupi kegagalan politik dan ekonomi mereka. Kini pemerintah Japarov mengikuti jalur yang sama, melanjutkan perang terhadap para pengemban dakwah,” kata organisasi tersebut.
Mereka juga mengkritik janji-janji Presiden Sadyr Japarov yang dinilai tidak terpenuhi. Dalam siaran pers itu, Hizbut Tahrir menyebut kenaikan harga kebutuhan pokok, penurunan standar hidup, serta kelangkaan energi sebagai bentuk kegagalan pemerintah. “Alih-alih menangani masalah rakyat, mereka justru melancarkan perang terhadap Islam dan umatnya dengan dalih ekstremisme,” tegasnya.
Kondisi Sosial dan Politik Menjelang Pemilu
Organisasi itu juga menyebut bahwa meningkatnya pemadaman listrik, prioritas suplai energi bagi pertambangan, serta pelanggaran hukum oleh sejumlah warga negara Tiongkok telah meningkatkan kemarahan publik. Dalam pandangan Hizbut Tahrir, pemerintah menggunakan operasi keamanan untuk mengendalikan situasi menjelang pemilihan parlemen.
Mereka menyoroti pernyataan Presiden Japarov di media sosial yang menyebut tidak akan ada lagi kudeta di Kirgistan. Hizbut Tahrir menilai pernyataan itu sebagai upaya menakut-nakuti masyarakat. “Pemerintah berusaha menakut-nakuti rakyat dengan mengklaim bahwa aparat keamanan kini lebih kuat dari sebelumnya,” tulis mereka.
Seruan kepada Masyarakat dan Peringatan kepada Aparat
Dalam rilis tersebut, Hizbut Tahrir Kirgistan menyeru kaum Muslim menghadiri sidang-sidang pengadilan dan berbicara dengan keluarga para terdakwa agar mereka melihat langsung kezaliman yang terjadi. “Hadirilah pengadilan dan lihatlah dengan mata kepala sendiri siapa sebenarnya para lelaki itu, dan saksikanlah kezaliman aparat keamanan,” ujar mereka.
Kepada aparat keamanan, mereka mempertanyakan dasar tindakan represif tersebut. “Jika kalian sendiri mengatakan bahwa para tahanan tidak melakukan perbuatan buruk, maka siapa yang mengeluarkan perintah zalim ini?” demikian kutipan dari siaran pers itu.
Organisasi tersebut menutup pernyataannya dengan peringatan keras yang merujuk pada ayat Al-Qur’an mengenai balasan bagi para pelaku kezaliman. “Tidak ada satu pun penguasa yang menentang Allah dan kaum Muslim kecuali ia menemui kebinasaan,” tulis Hizbut Tahrir dalam rilisnya.[]
Sumber : hizb-ut-tahrir.info
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat