MediaUmat – Menyoroti perkembangan geopolitik terkini di Afrika, Mohammed Abu Shahied, pembicara sekaligus anggota Hizbut Tahrir Belanda, menyebutkan benua terbesar kedua di dunia itu kini menjadi arena baru perebutan kekuasaan internasional.
“Afrika menjadi arena baru perebutan kekuasaan internasional, dengan fokus geopolitik bergeser dari Timur Tengah ke Afrika,” ujarnya dalam Simposium: Afrika Sebagai Papan Catur: Kemerosotan, Kolonialisme, dan Perjuangan untuk Martabat, Ahad (14/12/2025) di Rhoneweg 12-14 1043AH Amsterdam, Belanda.
Sehingga, menurutnya, tak sedikit negara di Afrika justru makin melemah bahkan mengalami ‘kehancuran’. Meski, di sisi lain mereka telah meraih kemerdekaan dari penjajahan Eropa pada tahun 1960-an.
Dan kini, perbatasan kolonial lama juga berada di bawah tekanan karena hubungan baru dibentuk oleh kepentingan geopolitik.
“Eropa kehilangan pengaruh, sementara kekuatan lain mencoba mengisi kekosongan ini; Cina dan Rusia disebutkan, dengan Amerika Serikat sebagai pemain terpenting,” ungkapnya.
Untuk diketahui sebelumnya, dinamika di Afrika yang meliputi penurunan pengaruh tradisional Eropa, dijelaskan bahwa negara-negara bekas kekuatan kolonial seperti Prancis dan Inggris, menghadapi tantangan dalam mempertahankan pengaruh historis mereka karena sentimen pascakolonial, dinamika politik internal di negara-negara Afrika, dan meningkatnya persaingan global.
Sementara, Cina sebagai pemain ekonomi utama melalui inisiatif “Belt and Road” muncul dengan investasi besar-besaran dalam infrastruktur dan perdagangannya. Cina sering kali berfokus pada pragmatisme ekonomi dan kebijakan non-intervensi dalam urusan politik yang notabene menarik bagi banyak negara di Afrika.
Pun peran Rusia yang belakangan berupaya memperluas pengaruhnya melalui kerja sama militer, penjualan senjata, dan kehadiran tentara bayaran (seperti Grup Wagner, yang sekarang menjadi bagian dari struktur negara Rusia) di beberapa negara, tak jarang berfokus pada stabilitas rezim dan keamanan.
Ditambah keterlibatan AS yang berfokus pada bantuan pembangunan, kesehatan global (misalnya, PEPFAR), dan inisiatif keamanan. Dalam hal bersaing dengan Cina dan Rusia, misalnya, AS menekankan tata kelola yang baik dan demokrasi, meskipun pendekatan ini kadang-kadang mendapat sambutan beragam.
Dengan kata lain, masih mengenai dinamika yang terjadi di Afrika, lanskap geopolitik secara keseluruhan semakin terdiversifikasi. Sementara, tidak ada satu kekuatan eksternal pun yang mendominasi benua itu secara mutlak seperti di masa lalu.
Tak ayal, neokolonialisme yang ia definisikan sebagai pengaruh dari jarak jauh melalui arahan politik, posisi strategis, dan kehadiran militer (pasukan udara dan darat), dikombinasikan dengan eksploitasi atau amplifikasi ketidakstabilan, kini kembali mendominasi di Afrika.
Tengoklah kondisi di Mali, Niger, dan Ethiopia ditandai oleh ketidakamanan, ketidakstabilan politik, serta fragmentasi akibat aktivitas milisi dan faksi bersenjata yang makin meluas. Pun perpecahan di wilayah Sahel dan Libya, makin memperburuk situasi, di mana kelompok-kelompok non-negara memanfaatkan kelemahan pemerintah pusat.
Celakanya, ketidakstabilan yang berkelanjutan justru meningkatkan ruang lingkup pengaruh asing. Sebutlah isu Sahara Barat yang kerap dibahas sebagai isu geopolitik dalam pendekatan ‘kesepakatan’ transaksional terhadap politik internasional, berikut negosiasi langsung dengan Maroko dan Aljazair, serta dan Arab Saudi sebagai mediator.
Bertambah celaka, dikarenakan berangkat dari keinginan untuk mendominasi dari rezim-rezim internasional, berbagai cara yang telah dilakukan untuk meredakan konflik, semisal dengan menyatukan pikiran dalam berbagai resolusi, hingga kini belum ditemukan semacam konsensus yang dapat disepakati oleh semua pihak.
Seruan Kembali ke Islam
Karenanya, Abu Shaheed pun menyerukan agar umat kembali ke sistem Islam sebagai solusi mendasar kehidupan. Tegasnya, Islam mengajarkan ketundukan hanya milik Allah SWT, dan Islam pun mewariskan para pejuang dan ulama dengan kesadaran politik tajam sebagai teladan bagi umat.
“Muhammad bin Abdul Karim al-Khattabi dan Thariq bin Ziyad menggambarkan perjuangan yang didorong oleh Islam dan keadilan, bukan oleh kekuasaan atau kepentingan materi,” paparnya, seraya menegaskan kepemimpinan harus bersandar pada keimanan, kesabaran dan keikhlasan yang kuat.
Ringkasnya, seruan tersebut berfokus pada kesadaran, persatuan melalui syahadat, dan pemulihan cara hidup islami sebagai respons terhadap kolonialisme, penindasan, dan kepatuhan pada sistem eksternal.
“Dan mereka (orang-orang kafir) bersekongkol untuk membunuhnya, dan Allah pun bersekongkol. Dan Allah adalah Perencana yang terbaik,” pungkasnya, mengutip QS Ali Imran: 54.[] Zainul Krian
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat