HILMI: Sistem Ticket-War Haji Banyak Kelemahan

MediaUmat Gagasan mengganti antrean haji dengan ticket-war (persaingan sengit untuk mendapatkan tiket haji secara daring dalam waktu cepat) dinilai Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) memiliki banyak kelemahan.

“Gagasan mengganti antrean dengan ticket-war tampak menarik karena berkesan meritokratis dan cepat. Namun secara analitis, sistem ini memiliki banyak kelemahan,” ujar HILMI dalam intellectual opinion yang diterima media-umat.com, Rabu (29/4/2026).

Menurut HILMI, sistem ticket-war, pertama, hanya menguntungkan mereka yang memiliki akses teknologi dan informasi. Kedua, rentan terhadap bot, spekulan, dan calo. Ketiga, menciptakan ketidakpastian ekstrem dan keempat, mengabaikan prinsip keadilan distributif.

HILMI melihat, dalam konteks ibadah yang bersifat sakral dan sosial, ticket-war juga berpotensi menciptakan ketimpangan baru yang lebih tajam.

Solusi

HILMI memandang, solusi yang lebih rasional untuk mengatasi antrean haji adalah sistem hybrid yang menggabungkan keadilan antrean dengan fleksibilitas seleksi. Dalam sistem hybrid ini prinsip yang dapat dipertimbangkan, pertama, grandfathering yakni menghormati hak mereka yang sudah lama antre. Kedua, lottery terbatas. Yaitu membuka peluang generasi baru tanpa harus menunggu puluhan tahun. Ketiga, prioritas first-timer yakni membatasi haji berulang. Keempat, memastikan standar kesehatan keselamatan dan efisiensi yang ketat. Kelima, edukasi manasik berbasis kompetensi.

“Dengan ini, sistem tak lagi antrean linear, tetapi menjadi mekanisme distribusi peluang yang adaptif,” pungkas HILMI.[] Agung Sumartono

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: