HILMI: Paradoks Kampus Modern, Makin Menipisnya Ruh Pendidikan
MediaUmat – Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) berpandangan telah terjadi sebuah paradoks pada kampus yang tampak semakin modern tetapi di saat yang sama banyak yang merasakan menipis ruh pendidikan.
“Hari ini, kita menyaksikan sebuah paradoks besar: kampus tampak semakin modern, semakin global, semakin produktif dalam angka. Namun di saat yang sama, banyak yang merasakan bahwa ruh pendidikan itu sendiri semakin menipis,” tulis HILMI dalam siaran pers yang diterima media-umat.com, Senin (8/12/2025).
HILMI menilai kampus sekarang menjadi sibuk, tetapi sering kehilangan hening untuk merenung. Ramai oleh publikasi, tetapi sunyi dari perenungan makna.
“Akhirnya, universitas pun perlahan berubah wajah: dari taman pencarian kebenaran menjadi arena kompetisi statistik global,” simpulnya.
Tuhan Baru
HILMI menyebutkan Quacquarelli Symonds dan Times Higher Education pada dasarnya adalah produk dari ekonomi pengetahuan global tapi menjadi masalah ketika dua alat ini menjadi “tuhan baru” dalam pengelolaan perguruan tinggi.
“Ketika semua kebijakan ditarik untuk tunduk pada logika ranking (peringkat), maka universitas tidak lagi dikelola berdasarkan hakikat pendidikan, melainkan berdasarkan optimasi algoritma global,” jelasnya.
Kegelisahan Kolektif
HILMI menyoroti di Indonesia justru terjadi kegelisahan kolektif. Menurutnya, ketika ranking dijadikan simbol kemajuan, legitimasi kebijakan, bahkan alat pencitraan nasional maka ada semacam rasa: jika tidak diakui oleh sistem ranking global belum dinyatakan bermutu.
“Inilah yang bisa disebut sebagai inferiority complex pascakolonial dalam dunia ilmu—ketika standar eksternal dijadikan satu-satunya cermin harga diri akademik,” ujarnya.
Akibatnya, kata HILMI, banyak kampus berlomba menyelaraskan diri dengan algoritma, sering dengan mengorbankan konteks lokal, misi sosial, dan tugas mendidik secara utuh.
Kampus Bermutu Hakiki
HILMI menilai perlu kembali kepada kampus bermutu hakiki. Kampus bermutu hakiki setidaknya mencakup lima hal. Pertama, mendidik manusia, bukan sekadar mencetak lulusan. Gelar akademik tanpa kematangan hati dan akal hanya melahirkan teknokrat tanpa nurani.
Kedua, melayani masyarakat, bukan hanya pasar global. Keunggulan kampus diukur sejauh mana ia hadir di tengah persoalan rakyat kecil, desa tertinggal, lingkungan rusak, dan ketimpangan sosial.
Ketiga, menjaga kedaulatan ilmu. Tak semua agenda riset harus tunduk pada kepentingan industri dan donor.
Keempat, memuliakan dosen sebagai pendidik. Mengajar adalah inti profesi akademik, bukan pekerjaan sambilan setelah mengejar jurnal.
Kelima, menjadikan kampus sebagai ruang aman kejujuran intelektual. Tanpa tekanan target yang membunuh integritas. Mutu dalam pengertian ini tidak selalu tampak di tabel peringkat dunia, tetapi terasa dalam kualitas manusia yang dilahirkan dan manfaat nyata bagi masyarakat.
Menurut HILMI bila ingin membangun masa depan bangsa yang kokoh. “Maka kita harus berani mengatakan: kita menginginkan kampus bermutu yang hakiki—bukan sekadar kampus bermetrik tinggi tetapi kehilangan ruh dan makna,” pungkasnya.[] Muhammad Nur
Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat