HILMI: Konflik Sudan Harus Jadi Peringatan Keras Dunia Islam

MediaUmat Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menyebutkan, perang saudara di Sudan harus menjadi peringatan keras bagi dunia Islam. “Bagi dunia Islam, Sudan seharusnya menjadi peringatan keras,” tulis HILMI dalam siaran pers Intellectual Opinion No. 027: Krisis Sudan, Tiga Akar Dosa, dan “Setan-Setan” dari Dalam dan Luar, yang diterima media-umat.com, Senin (17/11/2025).

Tegasnya, solidaritas tanpa analisis struktural akan berakhir pada slogan kosong. Dalam hal ini, doa tanpa upaya diplomasi, ekonomi, dan advokasi yang serius, hanya akan melanggengkan tragedi.

Sebelumnya, jika dilihat dari kacamata tauhid, Sudan adalah laboratorium besar dari tiga akar dosa, yaitu kesombongan (kibr), keserakahan (tama’), dan kedengkian (hasad), yang kemudian diperparah oleh ‘gangguan setan’, baik dari dalam (elite korup) maupun luar yakni negara-negara kuat yang mengeksploitasi konflik demi minyak, emas, dan posisi geopolitik.

Terkait akar dosa yang pertama, yakni kibr, HILMI mengingatkan bahwa negara mana pun yang membiarkan kesombongan elite, keserakahan atas sumber daya, dan kedengkian antar identitas tumbuh tanpa koreksi, suatu saat akan tiba di titik Sudan.

Begitu juga negara mana pun yang rela menjadi pembeli emas konflik, pembiaya minyak perang, atau konsumen senjata kejahatan, sedang menandatangani kontrak moral dengan setan.

HILMI mencatat, istilah setan di sini bukan selalu makhluk gaib, sebagaimana QS al-An’am: 112 yang berbicara tentang syayathin al-insi wal-jinn, tetapi juga manusia berikut struktur kekuasaan yang fungsinya sama sebagaimana setan dalam pandangan agama-agama samawi, yang sering kali menggambarkan sebagai penggoda, penjerumus, dan perusak.

Pula dalam banyak fase sejarahnya (perang Utara-Selatan, Darfur, hingga SAF vs RSF hari ini), Sudan tidak lepas dari kesombongan politik dan identitas, seolah-olah setan telah membisikkan kibr ‘Kamulah pemilik sah negara ini. Tanpa kalian, Sudan runtuh. Maka segala cara boleh’.

Lantas berkenaan akar dosa yang kedua, yaitu keserakahan, HILMI mengatakan konflik di Sudan hampir tidak pernah murni ideologis. Di balik politik dan etnis, selalu ada peta sumber daya seperti perebutan penguasaan ladang minyak, emas, tanah subur, akses sumber air.

Terlebih, keserakahan ini melibatkan elite militer dan milisi yang justru memanfaatkan konflik untuk mengontrol pelabuhan, jalur dagang, pajak bayangan, maupun sumber daya lokal lainnya.

“Di sini, setan membisikkan tama’, ‘Kuasai minyak itu, amankan emas itu, pegang pelabuhan itu. Selama kamu kuat, siapa yang berani menggugat?’,” singgung HILMI.

Yang ketiga, soal akar dosa hasad dalam konteks Sudan, menurut HILMI, muncul dalam beberapa lapisan. Hasad antar suku dan etnis, antar faksi elite, hingga hasad geopolitik yang melibatkan negara-negara tetangga serta kekuatan asing yang melihat Sudan sebagai ajang pengaruh.

“Siapa berjaya di Sudan, ia menggeser pengaruh pesaing,” kata HILMI membuat perumpamaan bisikan setan.

Celakanya, kedengkian ini mampu mengubah konflik politik menjadi perang eksistensial. “Kompromi dianggap pengkhianatan, dan lawan tidak lagi dilihat sebagai warga Sudan, tetapi ‘musuh yang sah dimusnahkan’,” kata HILMI.

Bertambah celaka, ketika setan asing, sebutlah Amerika Serikat, tak hanya memasok senjata tetapi, dikarenakan kalkulasi geopolitik, migrasi, dan ekonomi, di saat yang sama mereka malah memilih diam ketika kejahatan massal terjadi.

“Amerika tentu berkepentingan agar Sudan melemah, karena Sudan selama beberapa dekade termasuk negara yang tak ramah terhadap Amerika, semisal pernah mengundang Usamah bin Laden, ketika tokoh tersebut sedang dijadikan teroris nomor satu yang dicari Amerika,” urai HILMI.

Demikian, secara ringkas Sudan harus menjadi pengingat menyakitkan bahwa perpecahan internal yang dipicu oleh ambisi kekuasaan dan harta akan selalu menjadi celah bagi kehancuran dan eksploitasi, serta menjadikan umat lemah di mata dunia.

Maka pada konteks Sudan ini perlu mengimbangi kritik terhadap manusia dan struktur kekuasaan (baca: setan dari golongan manusia). “Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakal kepada Tuhannya,” pungkas HILMI, mengutip QS an-Nahl: 99.[] Zainul Krian

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: