HILMI: Isra’ Mi‘raj adalah Peta Jalan Peradaban Masa Depan

MediaUmat Perhimpunan Intelektual Muslim Indonesia (HILMI) menegaskan, peristiwa Isra’ Mi‘raj tidak boleh dipahami semata sebagai kisah sejarah, melainkan sebagai fondasi strategis bagi pembangunan peradaban umat Islam di masa depan.

“Isra’ Mi‘raj bukan sekadar peristiwa masa lalu, tetapi peta jalan peradaban masa depan,” terangnya kepada media-umat.com, Senin (19/1/2026).

Menurut HILMI, peristiwa tersebut mengandung pesan mendalam tentang arah kemerdekaan dan kedaulatan umat dalam menghadapi tantangan zaman. Umat yang ingin merdeka harus mampu menguasai domain strategis di setiap zaman tanpa kehilangan kompas moral Ilahi sebagai pedoman utama.

“Ia mengingatkan bahwa umat yang ingin merdeka harus menguasai domain strategis zamannya, tanpa kehilangan kompas moral Ilahi,” jelasnya.

Lebih lanjut, HILMI menjelaskan, pada abad ke-21, tantangan peradaban tidak lagi hanya bersifat fisik, melainkan juga berkaitan erat dengan penguasaan teknologi. Namun, penguasaan tersebut harus dibingkai oleh sistem nilai yang benar agar tidak melahirkan ketimpangan dan kezaliman baru.

“Di abad ke-21, langit adalah teknologi. Dan shalat adalah sistem nilai yang menjaga teknologi agar tidak berubah menjadi alat kezaliman,” tegas HILMI.

Mereka menambahkan, jika umat Islam ingin menjaga kedaulatan—baik sebagai bangsa maupun sebagai peradaban—maka integrasi iman, ilmu, dan kekuasaan merupakan keniscayaan yang tidak bisa ditawar.

“Jika umat Islam ingin menjaga kedaulatan—baik sebagai bangsa maupun peradaban—maka tidak ada jalan lain selain mengintegrasikan iman, ilmu, dan kekuasaan secara bertanggung jawab,” imbuhnya.

HILMI juga mengingatkan, ketimpangan antara penguasaan sains dan kekuatan spiritual akan melahirkan dua kutub ekstrem yang sama-sama berbahaya. Karena itu, pesan Isra’ Mi‘raj dipandang sebagai koreksi peradaban agar umat tidak terjebak dalam siklus penindasan.

“Tanpa sains, umat akan tertindas. Tanpa shalat kaffah, umat akan menindas atau ditindas. Dan Isra’ Mi‘raj datang untuk mencegah keduanya,” jelasnya.

HILMI juga menilai peristiwa Isra’ Mi‘raj mengandung pesan strategis tentang fondasi peradaban yang kokoh, yakni penyatuan antara ilmu pengetahuan dan syariat Islam. Kedua pilar tersebut tidak boleh dipisahkan karena akan melahirkan ketimpangan dalam kehidupan umat dan bangsa.

“Isra’ Mi‘raj mempertemukan dua pilar peradaban yang tidak boleh dipisahkan: ilmu dan syariat,” tegas HILMI.

HILMI mengingatkan, penguasaan sains dan teknologi yang dilepaskan dari nilai Ilahi justru berpotensi melahirkan penindasan yang semakin canggih. Sejarah modern memberikan banyak bukti bagaimana kemajuan teknologi sering kali dimanfaatkan untuk kepentingan dominasi global. Tanpa kendali nilai, teknologi digunakan sebagai alat eksploitasi, pengawasan, dan pengendalian terhadap bangsa lain.

“Penguasaan sains dan teknologi tanpa nilai Ilahi melahirkan penindasan yang canggih. Sejarah modern penuh dengan contoh bagaimana teknologi digunakan untuk mengeksploitasi, mengawasi, dan mengendalikan bangsa lain,” lanjut HILMI.

Di sisi lain, HILMI juga mengkritisi kecenderungan beragama yang hanya menekankan aspek spiritual personal tanpa disertai kekuatan struktural dan penguasaan ilmu. Kondisi ini membuat umat tampak saleh secara individu, namun lemah dalam menghadapi sistem yang tidak adil.

“Sebaliknya, semangat keagamaan tanpa kekuatan dan ilmu melahirkan umat yang saleh secara personal, tetapi rentan secara struktural. Kebaikan mudah diinjak, doa mudah dipatahkan oleh sistem yang tidak adil,” ungkap HILMI.

HILMI menegaskan, Isra’ Mi‘raj hadir untuk menolak dua ekstrem tersebut sekaligus menawarkan sintesis peradaban yang seimbang. Peristiwa agung itu, memberikan kerangka konseptual tentang bagaimana umat Islam seharusnya membangun kedaulatan.

“Isra’ Mi‘raj menolak kedua ekstrem ini. Ia mengajarkan bahwa langit harus didekati dengan ilmu, bumi harus diatur dengan sholat, dan kedaulatan hanya terjaga jika keduanya berjalan bersama,” pungkas HILMI.[] Lukman Indra Bayu

Dapatkan update berita terbaru melalui saluran Whatsapp Mediaumat

Share artikel ini: